The Truth About Bunda Khadijah Madinah

30 April 2012 22:34:29 Dibaca :

Saya akan menerangkan siapakah saya dan kenapa  ?  Postingan ini akan membeberkan siapa diri saya dan akan menjelaskan pada orang yang menganggap saya orang bijak yang palsu dan munafik,  ikut campur urusan orang lain, menjatuhkan seseorang , orang kerdil yang hanya menulis tentang orang lain, atau sok tahu padahal saya orang baru, dsb.

Saya adalah Khadijah/Bunda Khadijah, seorang WNI yang menikah dengan pria Arab Saudi asli Madinah.  Saya tinggal di saudi Arabia lebih dari satu dasawarsa, sehingga sosial kultur Saudi sudah menjadi hidup saya, ekonomi saudi adalah ekonomi saya, hukum saudi adalah hukum yang harus saya taati, dan per-TKI-an adalah bidang yang saya geluti.   Sejak sebelum menikah dengan pria Saudi, saya sudah intens dan concern pada per-TKI-an.  Pertemuan saya dengan suami saya di Jakarta sampai berjodoh adalah hikmah mengurus  TKI, saat itu saya sedang menolong seseorang tkw yang kemalangan, dan melalui mbak tkw yang saya tolong saya berkenalan dengan suami saya.  Suami saya adalah pemilik salah satu maktab lil-isteqdam atau kantor PJTKA Saudi yang berlokasi di Madinah.  Alhamdulillah kantor suami saya adalah kantor resmi dan memiliki licence terdaftar di Pemerintah Saudi.  Kami bukan maktab numpang proses yang tak punya izin, kami beroperasi dengan bendera resmi.  Sejak saya pindah ke Madinah, saya yang mengambil posisi ibu rumahtangga full, langsung mengisi posisi penerjemah dan bertanggungjawab atas penyelesaian perselisihan TKI yang jadi tanggungjawab kami dan juga yang dititipkan kantor lain.  Bekerja menyelesaikan masalah TKI adalah tanggungjawab saya yang telah menguras energi saya lahir dan batin lebih dari satu dasawarsa.  Kadang saya sukses, kadang saya gagal bantu TKI.

Dalam pendekatan pada TKI, saya yang berlatar belakang akademis ilmu pertanian dari Institut Pertanian Bogor, tak akan saya sebutkan strata saya, butuh waktu bertahun-tahun untuk memahami cara yang tepat dalam membantu TKI, karena disiplin saya bukan bidangnya...Kemauan dan rasa tanggungjawab telah mengantarkan saya pada pola ini : bahwa ketika berhadapan dengan TKI saya tak boleh menempatkan diri saya sebagai Madame Saudi (Nyonya Saudi), tak boleh menempatkan diri saya sebagai orang kantor, tapi harus menempatkan diri saya sejajar dengan TKI dan jadi teman mereka, karena begitu saya menempatkan diri seakan lebih tinggi, maka mereka akan menjadi lebih sulit saya bantu.

Pola kebiasaan ini terbawa pada sikap saya dalam ngompasiana...Saya selama ini secara diplomatis saja menjawab pertanyaan apakah suami saya orang saudi.  Saya tak ingin menampilkan kesan lain, oleh karena itu semua informasi pernikahan dan aktivitas tak saya sebutkan blak-blakan, sesuai kondisi saya baru belajar, sangat baru di kompasiana.  Kebenarannya, Memang benar saya ibu rumah tanggal full, namun saya dan suami bekerja bahu membahu melindungi TKI yang kami datangkan, sekali lagi kami kadang gagal tapi alhamdulillah lebih banyak yang sukses.  Saya punya tugas khusus yang menyebabkan pengetahuan dan wawasan saya mengenai per-TKI-an refresentatif, sebagai penerjemah,  konselor, dan sekretaris kantor...Kantor saya berada di dalam rumah sehingga saya tidak perlu pergi keluar rumah untuk mengurusnya...  Selain itu keberadaan keluarga saya di Jakarta yang juga mengelola PJTKI menjadi benang penghubung yang sangat kuat atas segala perkembangan per-TKI-an.  Dari ketiga sisi membuat background saya mengenai TKI menjadi lengkap.  Suami pemilik maktab PJTKA, saudara pemilik PJTKI, dan saya bekerja jadi konselor TKI, serta dulu aktivis LSM TKI.   Istilah konselor sendiri baru saya adopsi setelah saya berkenalan dengan ranah ilmu dari Konselor Bapak Julianto Simanjuntak yang membagi ilmunya pada saya.  Selama ini saya tak menyebut kegiatan saya sebagai konselor, dan menyebutnya hanya bantu TKI saja.  Semoga dengan penjelasan ini dapat dimengerti  kenapa saya begitu intensif dalam masalah per-TKI-an di Arab Saudi.

Mengingat saya adalah bagian dari keluarga asli Saudi, maka tak dapat dipungkiri masalah sosial kultur, budaya, ekonomi, hukum dan per-Saudi-an menjadi bidang saya pula...berkah dari sebuah perkawinan yang memberi saya kesempatan bergaul dan menyelami dari dalam bagaimana cara hidup dan kehidupan di Saudi.

Dengan ini saya jelaskan bahwa saya bukan Mbak Atun, yang dulu pernah berseteru dengan Nining Andinie cs.  Saya adalah Khadijah, bunda Khadijah, seorang istri dari suami orang Madinah, berlatar belakang pendidikan agribisnis, dan memiliki kantor PJTKA di madinah.  Saya tak akan menjelaskan lebih dalam mengenai aktivitas usaha saya yang tidak terkait atas kepentingan menjelaskan per-TKI-an dan per-saudi-an.  Tapi, betul saya ada aktivitas lain walaupun semuanya saya koordinasikan dari dalam rumah saja...Full dari dalam rumah.  Bila ada yang mempertanyakan lagi, apakah saya mbak Atun, sudah saya jawab, dan apabila ada yang mempertanyakan lagi apa urusan saya dengan per-TKI-an dan per-Saudi-an maka telah saya jawab pula.

Saya tak memungkiri bahwa saya merasa bodoh karena urusan yang saya buat dengan Mas Delta cs, tapi saya melakukannya bukan untuk mencari permusuhan, apalagi menjatuhkan seseorang,atau nggak ada kerjaan menulis tentang orang lain....saya merasa punya tanggungjawab moral dan tak bisa diam melihat suasana tidak sehat berlangsung di sekitar saya.  Saya sudah menuai jeweran yang banyak, mulai sebutan munafik, atun, topeng, sok bijak, sok solehah, dan saya diam menerimanya.   Saya tak menjawab semua gunjingan dan tuduhan itu karena tak punya energi negatif untuk menjawabnya.  Urusan saya murni mengkritisi walau mungkin kebodohan membuat saya kebablasan, dan saya mengharapkan perbaikan, bukan menjatuhkan atau menjelek-jelekkan orang atau kebakaran jenggot atas urusan yang bukan urusan saya...ini urusan saya, karena pernikahan campuran Saudi-Indonesia, bisnis TKI, dan per-Saudi-an adalah main land saya di kompasiana.  Saya tak mengharapkan jadi orang bijak dan mendongkrak popularitas saya di kompasiana...sejak awal saya sudah membuat diri saya gurem, kenapa saya harus repot cari popularitas.

Untuk mengenal saya dalam sisi kepribadian Islam, baiklah saya akan copas surat saya pada seorang teman sbb :

Tak ada lain sosok Bapak Prof. Muslim Taher alm. lah yang membantu mengubah saya jadi tukang doa.  Satu hari setahun sebelum kematian beliau, saya ngobrol-ngobrol di kantornya, dan saat itu beliau tanya saya, apakah saya tahu apa alasannya kenapa beliau adalah satu-satunya pejabat negara yang berpoligami ?  Saya berseloroh, saya bilang iya maaf, semua tahu bapak kan tukang kawin .  Pak Muslim ketawa dan berkata, " No, kamu salah.  Pak Harto waktu itu interview saya karena mau mengangkat saya jadi wakil ketua dewan pertimbangan agung (DPA) dan Pak Harto tanya, kenapa kamu poligami ?  Jawaban saya pada Pak Harto,  karena kekuatan saya adalah solat malam isteri dan doanya.  Sedangkan seorang wanita tiap bulannya ada kira-kira satu minggu berhalangan karena datang bulan, dan saat itu berarti ada malam saya yang bolong dari solat malam isteri.  Oleh karena itulah saya menikahi wanita lagi, berpoligami agar tidak ada satu  malam pun yang tidak ada solat malam isteri.".......  Saya bengong dengar cerita Pak Muslim Taher itu, saya bilang benarkah itu kunci kesuksesan beliau sehingga jadi pejabat dan memiliki Universitas Jayabaya....dan sejak saat itu saya bertekad akan jadi isteri yang solat malam dan jadi tukang doa buat suami.

Dari perjalanan hidup berliku, jatuh bangun, saya mendapatkan ketenangan, dan ternyata hikmah Allah sangat besar karena saya jatuh pindah ke Kota Suci Madinah dan bukan Riyadh, atau Tokyo atau Dubai...di kota Rasul ini saya mendapat hidayah untuk mengubah diri.  Seandainya sampai hari ini saya dikatakan pendusta, munafik, oleh orang lain, maka saya tak akan marah, sebaliknya akan saya jadikan instrospeksi diri.  Masih murnikah jiwa saya, masih murnikah suara saya, masih murnikah perjuangan saya.

Berikut ini saya copas petikan tanggapan saya kepada Bernandang Delta Bvlgari dalam lapak ArabKere, dan saya tampilkan karena berkepentingan menjawab atas apa yang dituduhkan kepada saya mengenai pendapat saya untuk mempertahankan terminal 3 TKI, dan kompetensi saya dalam berbagai hal lain, seperti Ethiopia,  dianggap tidak bersyukur udah numpang hidup satu dasawarsa lebih, tapi masih mau mengatakan Negara Saudi itu ada sisi hitam putihnya, .  Berikut petikannya, panjang namun semoga berguna. :

@@@

Mas Delta, saya dan suami wiraswastawan gak makan gaji pemerintah…kami tahu susah payahnya cari uang seriyal dua riyal itu gimana…musti banting tulang, kalo mau yang halal…gak gampaaang….karena kami tak ada yang menggaji. harus cari tiap sen…harus kerja.


suami saya orang saudi, tapi kami realistis memandang negara….anak kami juga sekolah di sekolah negeri dan tahu rasanya mengasuh anak di sekolah di saudi itu gimana…kami tahu adanya pengangguran, kami tahu adanya anak-anak kena narkoba, kami tahu dan melihat bukan hanya putihnya saja, seperti kita memandang negara kita indonesia bukan hanya memujinya tapi juga bisa mencelanya karena tahu keborokan negara sendiri….bukan soal tahu berterimakasih atau tidak, kami makan dari keringat kami sendiri dan kami bersyukur hanya pada Allah saja yang memberi rezeki, bukan bersyukur pada negara saudi...….


dalam urusan bernegara, kami sudah taat hukum, taat aturan dalam usaha…semuanya itu karena kami menghormati negara saudi…tak bikin usaha ilegal, sesuai aturan saja…jadi, jangan bilang saya tak berterimakasih makanya saya membuka hitam dan putih…saya berterimakasih dan bersyukur hanya pada Allah saja. Bukan negara yang memberi kami makan, malahan kalau kami ada kelalaian kami juga didenda koq oleh negara saudi, taat pada pemerintah itu saja yang kami tunjukkan…


Kami warga negara merdeka, tidak terikat ikatan dinas atau balas budi, bila negara ini sudah tak dapat kami diami kami akan pergi..itulah kami…tak akan mengatakan hanya yang baik-baiknya saja…teman kami di mekah, beberapa tahun lalu dideportasi pemerintah saudi, dia pengusaha indonesia sukses di mekah dan dituduh membiayai terorist di indonesia..lho teroristnya di indonesia, bila benar pun, dan ternyata dia tidak benar telah kirim dana ke terorist melainkan ke kesebelasan sepakbola..tapi kenapa dia dideportasi. kalau merasa tidak adil kami akan bicara. ini contoh hitam dan putih lagi.


kalau dianggap manusia tak berterimakasih sudah numpang hidup lebih dari satu dasawarsa di saudi, saya akan bandingkan bahwa saya hidup di Indonesia lebih dari 30 tahun..saya sekolah dan segalanya di indonesia…tapi bukankah saya tak akan mengatakan indonesia itu melulu indah, melainkan o, iya di negara saya ada kolusi, ada korupsi..bukan berarti tak berterimakasih dan terus terang saja syukur itu saya ucapkan hanya pada Allah, syukur kami bukan pada Saudi, tapi pada Allah saja…kami tak akan menjilat, toh kami tak disuapi.


Saya tidak tahu bila pandangan ini terbalik untuk orang yang merasa terikat…kami di saudi :  bila tak punya uang hasil kerja sendiri tak akan makan, dan pemerintah tak akan mengetuk pintu kami mengantarkan uang untuk makan…kami harus kerja keras agar bisa hidup dan ini bukan fasilitas gratis dari negara…


soal tkw, anda terbalik, saya malah mendukung jangan dibuka dulu moratorium bila piranti belum siap, lihat saja tulisan saya tentang rumor pembukaan moratorium ke saudi makin kencang…intinya saya malahan tidak setuju bila moratorium ke saudi dipaksakan dibuka hanya karena pemerintah terdesak oleh kepentingan para pengusaha yang menjerit hampir bangkrut…terus terang saudara saya sudah menutup kantor divisi saudinya dan kini Allah membuka jalan rezekinya dengan menggayuh travel umroh…ya masih jugalah nyambung rezekinya…kami malahan berpegang pada pers release menakertrans bahwa moratorium ke saudi akan dilakukan sampai 2017 nanti.  Saya tidak ada kepentingan pribadi meminta moratorium dibuka seperti yang anda katakan untuk menyelamatkan usaha saudara saya dari kebangkrutan...alhamdulillah rezeki masih dijamin Allah tanpa memaksa moratorium dibuka...saya memang tak ingin moratorium dibuka tergesa-gesa karena desakan sana sini, bila nantinya hasilnya  martabat TKI akan terpuruk lagi.  Pertahankan moratorium.


Dalam hal saran saya pada tkw agar mendem di kamar bila dia tak bisa mencari jalan keluar atas masalahnya, karena saya menganjurkan mogok kerja lebih baik daripada tkw kabur ketika ada masalah dengan majikan…saya paling teriak, melarang tkw kabur..please, jangan dipelintir…saya menyarankan tkw bila sudah tak dapat menyelesaikan masalah jangan kabur, mogok kerja saja diam di kamarnya…orang saudi juga udah takut tak akan membiarkan tkw kelaparan, pasti dikasih makan…saya sangat kuatir pada tkw yang kaburan…bukankah anda sendiri menulis horor bagi TKI kaburan untuk deportasi ? artinya logis bila saya menyuruh diam dan jangan kabur. karena kabur sangat tidak baik bagi tkw.


Keluarga saya PJTKI-nya di jakarta masih ada  sih dulu sedikit aktivitas visa dari UAE alhamdulilah, walau tak cukup menopang kantornya…itulah sebabnya saya tahu anda menulis informasi tak valid ketika menulis : inilah cara penempatan tkw Abudhabi, UAE berdasarkan informasi isteri kang maman yang kerja di abudhabi itu…karena prinsipnya sampai sekarang visa housemaid UAE yang diterima PJTKI di jakarta masih visa privat perorangan….saya langsung cek and ricek ke sumber beberapa PJTKI yang divisi nya ada UAE.  Visa privat masih berlaku.  Jadi itu yang anda informasikan bukan generalisasi penempatan tkw ke abudhabi, UAE.


o,ya satu lagi dengan dibukanya  informasi bahwa keluarga saya di saudi punya maktab lil-isteqdam resmi atau PJTKA resmi, bukan ilegal, maka  jangan anggap saya cuma ibu rumahtangga tak tahu apa-apa…ngedeprok di rumah…informasi perkembangan resmi legal tkw di Saudi saya dapatkan dari sumber maktab kami yang juga anggota Sanarcom…saya bukan ngebual, selama ini saya tak menyebutkan kepemilikan maktab resmi ini karena saya tak ingin menonjolkan diri saya punya apa di saudi…


dan dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan sosial kultur budaya saudi, ekonomi saudi, saya memang berinteraksi langsung di dalam rakyat saudi…pemahaman saya bukan sebatas text book atau cerita orang lain, melainkan hasil pergaulan saya sendiri…kalau boleh dibilang pergaulan saya lebih luas karena keluarga besar suami saya adalah family cukup besar di saudi, interaksi kami cukup luas, dan teman-teman saya alhamdulillah bukan sekedar numpang lewat customer yang mungkin belum tentu memberikan informasi yang dapat dipercaya..saya akan tanya teman yang saya kenal kira-kira 10 tahun dan saya tahu persis latar belakangnya, apa saya akan percaya info dia atau tidak, paling jelek saya akan tanya via suami saya, ini fakta benar atau tidak, kalau beliau tidak tahu pasti beliau pun akan tanya nara sumber lain….gak akan asal bunyi karena kami sadar harus memberikan informasi yang terbaik. ketika saya membahas hal yang mendekati ranah hukum memang benar-benar saya tanya lewat tetangga yang mertuanya adalah pengacara kondang saudi atau yang kerja di mahkamah…gak berani deh kalau asal bunyi…Oleh karena itulah saya bisa mengatakan postingan seperti di Saudi tidak ada isteri nangis guling-guling karena dipoligami, di saudi tidak ada judi maupun miras, paling cuma domino, orang saudi sangat jujur, di saudi bank tak ada bunga, dll adalah kurang tepat.


@@@@@


soal tkw ethiopia, ini fakta lagi, maktab lil-isteqdam resmi milik keluarga saya adalah salah satu pelaku penempatan tkw ethiopia ke saudi, dan sahabat kami pemilik salah satu PJTKI besar di Jakarta juga bekerja sama dengan ethiopia…saya bukan isapan jempol bila tahu soal ethiopia dan postingan anda tak berdasar. Suami saya hampir tiap bulan pergi ke addis ababa dalam kurun 6 bulan terakhir…mohon maaf kali ini terpaksa saya buka agar anda tahu validitas dan akurasi omongan saya….selama ini saya samarkan karena tak ingin berlebihan.  Saya tahu bagaimana ethiopia bekerja.


Sebelum saya hadir di kompasiana anda boleh menulis apa saja tanpa ada yang mengkritisi..tapi kini saya jadi kompasianer…saya tak akan mengamini sesuatu yang cuma muluk…saya ingin orang Indonesia tahu bahwa negara ini adalah negara yang isinya manusia, bisa salah, bisa keliru, bisa adil bisa tak adil, manusia dimanapun sama walau di negara Saudi sekalipun…sistem pemerintahan dimanapun sama tak akan ada yang sempurna, karena isinya adalah manusia yang mengendalikan. Adalah menyempitkan islam yang indah bila berpendapat bahwa tertulisnya dua kalimah syahadat di atas bendera saudi membuat saudi diberkati seperti yang selama ini anda argumenkan…Kalau begitu semua negara yang menuliskan konstitusinya berdasarkan islam akan mencantumkan dua kalimah syahadat agar dapat berkah…Islam itu besar dan Allah itu Besar. Negara Indonesia terpuruk seperti ini bukan karena merah putih tidak ditulisi dua kalimah syahadat. Irak juga terpuruk bukan karena benderanya cuma bilang Allahu Akbar.


Saya tak menyalahkan anda menulis sesuai kemampuan, hanya saya berkali - kali menyarankan agar cek ricek sebaik mungkin sebelum menggiring opini…bukan skripsi itu berkali-kali saya ulangi, tapi tanggungjawab tulisan pada publik itu ada…kan bukan sedang mengarang sinetron yang boleh mendongeng tanpa fakta..ini menulis reportase dan opini, tentu saja harus sebaik-baiknya. dengan keterbatasan kemampuan pun harus mau melakukan cek ricek dulu semaksimal mungkin, jangan terlalu mudah generalisasi sesuatu yang bukan ladang kita.


dan, jangan lupa saya tak membunuh kreatifitas anda, hanya mengkritisi…dan bahkan saya mendoakan kesuksesan, terserah anda mau bilang saya orang bijaksana palsu atau bukan…saya toh tidak bermain peran atau pura-pura, inilah saya apa adanya…kalau saya bertindak picik, saya akan tekan tombol admin bilang ini itu, tapi saya tidak, boleh cek admin, apakah saya pernah tekan tombol laporan, karena saya sejatinya menghargai kreatifitas…melaporkan kepada admin yang sampai berujung banned adalah sesuatu yang saya hindari…banned adalah pembunuhan kreatifitas seseorang. dan saya tidak pernah berniat membunuh kreatifitas, sebaliknya saya ingin kreatifitas itu makin berkualitas.


Saya menulis memohon mbak della anna kembali, kita tahu kenapa mbak della pergi…kritisilah tulisan mbak della sepuasnya dan bukan kritik karena mbak della sering panen HL.


Saya tak akan menolak bila dikritik ada yang salah dari tulisan saya…silakan malahan itu akan membuat tulisan saya makin baik….dan tak akan segan saya akan kembali pada tulisan itu dan edit lagi demi manfaat orang banyak yang mungkin akan membacanya…



@@@



SAya akan menjawab secara terpisah apa yang anda pelintirkan mengenai pendapat saya untuk mempertahankan terminal 3 khusus TKI.


Kriminalisasi bandara sungguh menyesakkan hati saya juga..bukan saya tak sayang pada TKI dan tak ingin keadilan untuk TKI bila saya mempertahankan pendapat saya ini.



Mari memahami isi pikiran saya…
kami, saya dan suami mengayuh maktab lil-isteqdam atau agency PJTKA saudi ini kurang lebih 16 tahun…jauh sebelum Delta jadi TKI…Delta berapa tahun jadi TKI, sebutlah 10 tahun, 7 tahun ?

Terminal 3 itu dibuat oleh pemerintah dengan tujuan baik, menertibkan sistem pemulangan TKI ke kampung halaman…kalau itu medio 90-an -2000-an, banyak sekali berita tkw khususnya yang dirampok dan bahkan sampai dibunuh dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya…selain itu timbul keluhan, silakan bertanya pada orang yang menggunakan bandara soeta kira-kira 15 tahun lalu bagaimana wajah bandara soeta begitu semrawut….saat itu banyak TKI sampai nginap di bandara dan mereka tidur terlentang di lantai begitu saja…maka diolahlah melalui rapat - rapat yang melibatkan Apjati (seingat saya saat itu dibawah kepemimpinan bapak Abdullah Oemar) dan DPR serta Departemen instansi terkait untuk penertiban bandara soeta….dari semua penggodokan maka keluarlah keputusan untuk membuat terminal khusus, terminal 3 itu…Seingat saya tak kurang bapak BJ Habibie yang merestui dan membuka terminal 3 ini.


adapun dalam perjalanannya sekarang terjadi kriminalisasi TKI di bandara soeta, khususnya dimana ? di terminal 3, serta sistem pengantaran oleh mobil yang ditunjuk itu, maka saya berpikir daripada menghapus, lebih baik minta pemerintah dan instansi terkait membenahi terminal 3 sesuai tuntutan dan masukan dari para TKI.


ingat dengan keberadaan terminal 3 itu, bagi tkw yang kena deportasi blacklist, atau pulang dalam keadaan sakit, atau pulang dalam keadaan bermasalah sampai hamil atau bawa anak akan dideteksi dan dibantu…silakan cek RS Polri kramat jati yang baraknya banyak diisi TKI dari berbagai negara penempatan, para TKI ini bukan masuk RS setelah pulang kampung, melainkan diantar langsung oleh petugas dari pintu bandara….


dulu, ada mafia pencurian bagasi di bandara yang berhasil digulung pihak kepolisian dan pihak bandara, maka bila benar-benar bersungguh-sungguh, mafia yang jadi hantu-hantu TKI inipun sangat mungkin digulung, karena mereka sama saja mafia, pencuri, perampas hak TKI.


Apabila kenyataannya pemerintah berpikir terminal 3 akan dihapus, saya tak akan lantas marah-marah karena pendapat saya tak benar…ini pendapat dan bukan karena tidak berpihak pada TKI.


saya akan jelaskan bila menyangkut kepemihakan pada TKI. Selama 16 tahun itu saya bekerja dengan tugas utama adalah menangani perselisihan TKI dengan majikannya baik yang melalui kantor kami maupun titipan dari orang lain. selama itu maaf bukan saya sombong, bukan puluhan, melainkan ratusan tki sudah saya bantu…selama itu saya selalu berprinsip bantu tki untuk mencapai kesuksesan…


selama ini saya sembunyikan fakta ini karena saya tak ingin menunjukkan siapa saya dan apa kiprah saya…beberapa tkw telah saya selamatkan dari upaya bunuh diri, sakit jiwa, dan masalah lain…saya tak akan mengatakan berapa jumlah tkw yang saya bantu agar uang gajinya dibayarkan, karena akan jadi riya takabur…namun sekarang saya buka terus terang,  itulah salah satu kiprah saya di madinah…semuanya saya kerjakan tanpa imbalan, kadang tkw tak mengucapkan terimakasih dan lupa pada saya…dan bukan isapan jempol bila saya memulihkan tkw kaburan pada posisi legal lagi karena saya tak menghendaki horor tarhil bagi tkw…semoga allah saja yang jadi saksi.


anda Delta silakan hina saya cuma ibu rumahtangga nggak ada wawasan, karena saya memang tak mau buka jati diri sebelum ini. nah, sekarang saya katakan terusterang…urusan TKI saya memang orangnya, bukan hanya di jakarta keluarga PJTKI karena di saudi pun keluarga PJTKA, kami salah satu pebisnis, dan saya bertanggungjawab penuh pada TKI yang kami datangkan.




kiranya ini bisa menjawab pelintiran delta pada pendapat saya untuk mempertahankan terminal 3 yang seakan saya tidak memihak kepentingan TKI.




@@@


Mengenai kedutaan ethiopia, delta jangan memelintir…Bukan Kedutaan,
silakan cek lagi di postingan saya.
saya katakanbegini : suami saya mengatakan bahwa kantor konsulat ethiopia di jeddah maaf seperti kandang kambing…itu saya kutip ucapan suami saya,,,karena saya sendiri belum pernah berkunjung ke kantor konsulat ethiopia…jangan lupa konteks saya waktu itu untuk menyanggah anda yang mengatakan bahwa ethiopia lebih baik daripada negara kita dalam perlindungan tkw nya…

saya waktu itu ilustrasikan ucapan suami saya agar anda tahu seperti apa kondisi wakil pemerintahan ethipia di saudi yang anda simpulkan bisa memberikan perlindungan lebih baik daripada pemerintah indonesia…kapasitas pembicaraan waktu itu untuk anda mengerti bahwa kondisi KJRI dijeddah itu lebih baik, lebih refresentatif baik fisiknya maupun sumberdayanya, dibanding punya negara Republik Ethiopia….apalagi anda tidak tahu bahwa saat anda menuliskan postingan yang tendensius menghina negara itu penyelenggaraan penempatan tkw ethiopia dengan visa resmi housemaid belum juga dimulai di Saudi…baru akan dimulai..sebelumnya para tkw ethiopia itu bekerja secara ilegal kebanyakan dengan visa umroh…


karena anda hanya menulis postingan tentang ethiopia berdasarkan perbincangan selintas dengan sopir indonesia yang mengantar tkw ethiopia maka menggiring anda pada kesimpulan yang tidak tepat.


Saya bisa bicara karena memang kami menyelenggarakan penempatan tkw ethiopia…dan saya jelaskan secara terselubung, yaitu dengan cara menunjukkan bahwa suami saya pergi ke kantor konsulat ethiopia…beliau pergi dalam rangka melegalisir dokumen-dokumen legal kerja sama dan juga visa kunjungannya ke ethiopia. Saya sendiri belum pernah melakukan kunjungan kerja ke addis ababa walaupun sering diajak, karena jadwalnya belum klop dengan sekolah anak-anak saya…bila saya telah berkunjung langsung, reportase tentang penyelenggaraan perekrutan dan penempatan tkw ethiopia akan saya tulis untuk kompasiana agar anda dan yang lain tahu…bahwa bagaimanapun negara kita masih jauh lebih baik dibandingkan ethiopia..


andaikan saja tidak terjadi moratorium, negara dan warga saudi tidak akan prefer housemaid ethiopia, ataupun kenya, ataupun Negara pantai gading, …. tapi kebijaksanaan negara Saudi telah menggiring maktab lil-isteqdam dan rakyat untuk mau menerima visa housemaid ethiopia sebagai alternatif setelah moratorium RI berjalan lama…







Mas Delta, kepada siapun yang menanyakan status pernikahan saya …saya belum pernah menjawab terbuka, kecuali pada 3 orang yang tak akan saya sebutkan namanya,mereka tahu persis saya nikah dengansiapa…


saya tak pernah menyebutkan punya suami orang indonesia, itu mungkin kesimpulan anda saja…



bahkan seseorang pernah menanyakan apakah suami saya orang saudi dan saya jawab diplomatis bahwa suatu hari akan tahu kenapa saya adore tinggal di saudi…

@@@

saya gak bisa elu-elu gue gue dengan kreatifitas mas delta... setelah saya hadir jadi warga :
1. karena saya punya panggilan moral, masa opini yang kurang tepat saya biarkan…dosa kalau saya nggak ngasih tahu…
2. saya melihat mas delta nggak berhenti menggunakan kata penghuni wc dan kebun binatang…andai bukan mas delta pun saya tak akan diam…itu melanggar tatib kompasiana koq.
3. saya tidak menjatuhkan lho…dan saya tak kerjasama dengan siapapun…saya tak hapus mas delta dari pertemanan, nggak laporin mas delta ke admin, nggak semata kritik tanpa ngasih motivasi, saya kan ngasih motivasi sampai terbit buku…temen mas delta sendiri yang nggak ngedoain mas delta terbit buku…yang saya tahu cita-cita tertinggi penulis produktif pastilah ingin punya buku.
4. mas delta sendiri yang menyerang saya orang sok bijaksana tapi palsu…wah apa saya marah ? nggak saya nggak marah-marah…

kali ini aja mas delta kena batunya…
dulu sebelum saya hadir, lapakmu dibaca ribuan orang dan disupport ratusan orang…karena tak ada yang mempertanyakan validitas dan akurasi tulisanmu, maklum kebanyakan nggak tahu gimana sosial kultur,ekonomi, hukum dan per-TKI-an saudi.

gimana saya disuruh diam bila itu adalah topik darah daging saya…


yang saya kritik cara menulis, isi tulisan, dan cara berkata…maaf masih awut-awutan karena beberapa tak berdasarkan kerangka info yang valid, Kompasianer Ken Hirai adalah testimony atas pernyataan saya ini, padahal saya nggak kenal kompasianer Ken Hirai… , itu maksud saya…kalau ada orang di saudi bilang saya benar, itulah ken hirai, dan ken hirai refresentatif bila dilihat dari kualitas intelektualitas dan posisinya…ya dia refresentatif.



Delta, maaf kami bukan gerombolan tukang ngerumpi,
ini menyangkut wawasan, keilmuan, dan pemahaman.
di kompasiana kalau ada informasi palsu dibongkar, bukankah itu yang terjadi pada kasus Titi dan dokter Anugera…karena dibongkar…

saya membongkar mas delta bukan untuk menjatuhkan,
tapi untuk memperbaiki ke depannya…
saya yakin sekali mas delta ke depan akan lebih baik lagi..


saya ksatria tak memohon pada admin atau siapun untuk bertanggungjawab atas apa yang saya lakukan.
saya digunjing tak melawan bukan karena tak tahu,
tapi tak ada energi negatif untuk melakukan itu.


@@@


Delta, silakan bilang saya orang bijak tapi cuma kedok hehehe..saya tak akan marah..nggak apa-apa…yang menilai bijak atau tidak bukan hanya milik satu dua orang yang saya jewer…


mengenai kedekatan saya dengan kompasianer eropa maaf bukan karena saya sok dekat dan menjilat eropa … anda tidak tahu bahwa saya dekat dan mendekat pada beberapa kompasianer indonesia yang menurut saya bisa saya ambil jadi guru belajar, guru wawasan…selain itu saya juga berteman dengan  kompasianer dari berbagai negara…jangan iri dengan kedekatan saya dengan kompasianer eropa…saya belajar dan mereka memberi saya informasi kelebihan dan kelemahan hidup di eropa…tak melulu yang manisnya, tapi juga getirnya….


kalau anda mau menyerang pribadi saya dengan sok bijak, munafik, silakan … saya tak apa-apa koq…


kalau anda saya jewer alasannya karena bidang kita sama, yaitu TKI arab saudi, sosial kultur saudi, ekonomi saudi, …semata main land kita sama…tempat main kita sama….saya tahu benar dan tidak benarnya karena saya hidup didalamnya…dalam hitungan tahun saya lebih lama,,, dalam hitungan interaksi sayalebih dalam karena saya bagian dari sebuah keluarga saudi, budaya mereka jadi budaya saya, hidup mereka jadi hidup saya, sosial kultur mereka jadi sosialkultur saya, ekonomi mereka jadi ekonomi saya, hukum mereka jadi hukum saya.




saya hanya tak ingin orang indonesia memahami saudi seperti negara suci, negara tak ada kekurangan, saya ingin memberitahu apa adanya tak dibagus-baguskan atau dipilih saja informasinya yang bagus-bagusnya saja…manusia saudi pun bukan manusia suci, mereka juga manusia biasa yang bisa salah dan bisa benar.




@@@@


Satu hal yang membuat saya tak suka sepakterjang perkataan Delta, karena bila marah menggunakan kata-kata yang caci maki….bukan saya tak punya perasaan hormat dan sayang pada delta, saya sayang koq makanya tak pernah saya laporkan dulu Delta pernah menghina Paus paulus dan gereja, yang sudah SARA, karena saya sayang delta, tak akan membunuh kreatifitas delta untuk diperingatkan oleh admin apalagi dibanned.



tanda sayang saya hanya bicara terbuka, bukan dibelakang kecawar keciwir...
tak suka pembicaraan saya, .. oke,
saya tahu koq apa yang kalian bicarakan di banyak lapak itu yang mendiskreditkan saya tapi kan saya nggak melabrak marah-marah hehehe….saya terima saja, toh saya harus tahu diri bila menjewer orang maka saya pun harus siap dijewer…bila sakit sama-sama sakit. itulah hukum interaksi, saya kan tak menyangkal habis-habisan bahwa saya benar, saya juga tak membela diri bahwa saya memang bodoh…

hasilnya bagi saya adalah ingin lebih baik.
saya tak akan diam, karena saya bukan tipe netral atau tipe  ignorance…toh saya sudah tahu hinaan - hinaan itu.

sekarang semua yang ada di lapak ini sudah tahu beberapa hal tentang saya, concern dan kiprah saya,
saya memang pemain aktif per-TKI-an dan per-Saudi-an. saya siap jadi teman diskusi untuk masalah per-TKI-an dan per-saudi-an…mari diskusi bila ingin posting soal tki atau saudi, agar info kita bermanfaat dan tidak menyesatkan berpikir orang lain.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

ps : mohon maaf copas komen membuat artikel ini menjadi sangat panjang.

Bunda Khadijah

/bunda.com

TERVERIFIKASI (HIJAU)

I am Indonesian, married, mother of 3, moslem...: "Mari Tegakkan Shalat."
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?