HIGHLIGHT

Refleksi Dari Madinah 1 : Yth. Darsem, Delta, Nining, Moona, Joko Wenampati

17 April 2012 21:03:56 Dibaca :

Melalui postingan ini saya ingin minta maaf dan ingin menuliskan isi hati atas Darsem, Delta, Nining, Moona dan Joko Wenampati.

Sudah tidak asing dan bukan rahasia adanya konflik sesama kompasianer,  Salah satu konflik telah ada melanda komunitas kompasianer Saudi.  Kompasianer Saudi adalah warga negara Indonesia yang saat ini sedang berada di Arab Saudi, bermukim karena terikat pernikahan maupun terikat kontrak kerja.  Cukup banyak kompasianer Saudi yang sudah saya kenal, misalnya Latiefah Sriwulan, Iema Siti Nurachma, Neng Moona, Nining Andini, Aang Suherman, Gugus Sambodo, Faruk Ramzi, Ora Mutu Tenan, Dede MIT, Syaifulmillah Syam, Ken Hirai, dan Bernandang Delta Bvlgari.

Saya sebagai bagian komunitas kompasianer Saudi, merasa gerah dan sudah ikut terlibat dalam konflik yang cukup lawas dari Darsem dan Delta, yang kini di dalamnya ikut dipanaskan oleh Nining Andini dan Joko Wenampati.  Istilahnya katanya bakar-bakaran.  Dan melalui Refleksi Dari Madinah ini saya ingin menyampaikan sikap saya secara terbuka.  Untuk apa melakukan sindiran, dan tak ada manfaatnya pula menulis postingan dengan tujuan tausiah, karena situasinya tetap tidak berubah.

Saya Bunda Khadijah, tinggal di kota Madinah Almunawwarah,  mencoba  melakukan refleksi instrospeksi  diri.  Saya malu dengan nama yang saya sandang,  nama besar dari seorang Ummul Mukminin, Isteri pertama dari Rasulullah Muhammad Salallaahu Alaihi Wassalam.   Siti Khadijah Radiyallahu Anha, seorang figur ibu yang tiada tara, kesabaran, kesetiaan, dan menjadi golongan pertama dari orang yang beriman kepada Allah Subhanahu Wataala dan RasulNya.  Sungguh nama itu menjadi tanggungjawab besar pada diri saya, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan maya komunitas Kompasiana.  Apa artinya sebuah nama ? Artinya besar sekali bagi saya karena saya menyandang nama seorang wanita terkenal yang besar dalam segalanya.

Kehadiran saya dari Kota Madinah Almunawwarah Arab Saudi,  merupakan alasan lain Refleksi Dari Madinah ini.  Saya penduduk dari sebuah kota suci yang penuh berkah.   Kompasianer Bunda Lestari pernah menuliskan, katanya ketika ingat Bunda Khadijah tinggal di Kota Madinah, ingat betapa dekatnya dengan Raudah Assyarief....Ya, Raudah Assyarief salah satu tempat yang diyakini makbul ijabah doa...Ya, inilah tempat tinggal saya, dari kota yang penuh berkah, bukan New York, bukan Riyadh, ini kota Rasul yang seharusnya mencerminkan penduduk yang meneladani ahlak Rasulullah Muhammad Salallaahu Alaihi Wassalam.

Meneladani sifat umum bangsa Arab Saudi yang menyukai berterus terang,  banyak orang mengistilahkannya adat bawang merah : cepat marah tapi cepat hilang marahnya, karena bawang ketika dikupas membuat mata perih tapi cepat pulih perihnya.  Hanya seketika dan sekejap saja.  Saya merasa sia-sia telah menulis 3 postingan ini yaitu :

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/04/07/saya-kompasianer-saudi-yang-tidak-tajir-dan-sering-gagal-dalam-hidup/

http://edukasi.kompasiana.com/2012/04/09/ingatlah-kepribadian-tercermin-lewat-bahasa-yang-kita-tuliskan/

http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/04/10/how-far-is-too-far-setia-kawan-di-kompasiana/

Menulis dengan cara itu ternyata tidak membuahkan manfaat malah menuai kebencian.

Hari sabtu pagi, tanggal 14 April 2012, dengan membawa hati yang resah, saya pergi ke Mesjid Nabawi, tujuannya ingin berdoa di Raudah Asyarief....di tengah penuhnya jamaah Umroh wanita dari berbagai negara, saya alhamdulillah mendapatkan tempat untuk shalat di shaf batas paling depan dari Raudah Asyarief, dalam shalat 2 rakaat saya menumpahkan isi hati dalam sujud...Saya mohon ampun dan mohon bimbingan hidayah dari Allah Subhanahu Wataala dan mendoakan beberapa nama kompasianer...Tak kuasa seperti biasa saya terlarut dalam tangisan diam.

Refleksi Dari Madinah, hari ini saya ingin memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada kompasianer Darsem, Nining Andini, Moona, Bernandang Delta Bvlgari dan Joko Wenampati.   Saya tentu telah menyakiti hati anda semua melalui perkataan dan sikap saya, dalam postingan maupun komentar.  Mohon maafkan saya ...dan saya mohon ampun pada Allah Subhanahu Wataala.  Kelemahan iman telah menjatuhkan saya menulis ketiga postingan yang memang saya tujukan pada konflik Darsem, Delta, Nining Andini, Moona dan Joko Wenampati.  Sekali lagi saya mohon maaf, sudi kiranya anda semua memaafkan saya, mengampuni saya.

Selain mohon maaf, Refleksi dari Madinah ini akan memuat isi hati saya yang telah menyebabkan saya melibatkan diri.   Semoga isi hati saya dapat menggugah hati anda bila hati memang masih bisa terbuka untuk saya dan tidak tertutup diliputi kebencian dan dendam terpendam.

1.  DARSEM

Mein bester Freund,

warum du so bist wie du bist?
doch ob das wirklich alles ist?
ich wünsche dass du er in Ruhe lässt
nicht das jemand tut weh oder schmerzt

Irgendwann hat man die Nase voll
von deine bösen Kommentare und es ist nicht toll.
Am besten ist „vergisst alles“
Denk dran „Gott ist über alles“

Vielleicht, du hast jemand gemobbt
Nicht das er macht Selbs Mord
Noch ein bisschen von dem mobben
dann wäre er geplatzt und hat traurige Augen

Wir leben noch in dieser Welt und wissen,
dass jemand könnte dein Herz reinsehen
Du brauchst nur Mut
Danach geht alles wieder gut

2.  NINING ANDINIE

Teh Nining, engkau adalah figur yang dulu saya cintai, kompasianer senior yang saya anggap ibu yang dapat diteladani.  Walau surat pertamamu telah memberikan pemahaman pada saya untuk waspada pada Atun dan Usi Febriani, namun saya anggap itu sebuah bimbingan dari senior pada orang baru seperti saya.

Teh Nining, engkau adalah warna srikandi, wanita Indonesia yang berhasil menembus dinding bermartabat, Teteh punya posisi kerja unik yang bermartabat, dimana ini bagi saya adalah kebanggaan, di tengah jutaan tkw Indonesia yang dihinakan dalam pekerjaaanya, sedangkan teteh sungguh mendapat anugerah Allah subhanahu wataala mendapat pekerjaan enak, yang bisa cuti kapan saja dan gajinya besar...mutiara kesuksesan yang langka, dan semoga bisa pula diikuti oleh para wanita Indonesia lain yang ingin bekerja di arab saudi.

Teh Nining, teteh adalah refleksi dari pernikahan campuran wanita Indonesia dengan pria Arab Saudi yang telah menembus dinding atas berkah Allah mendapat suami yang pengertian, mendorong dan mengizinkan isteri untuk mengaktualisasikan diri bekerja di luar rumah, sungguh rumahtangga Teteh adalah satu bunga yang langka dan semoga jadi inspirasi bagi pernikahan campuran Indonesia-Saudi lainnya yang tidak beruntung dan terjebak dalam kisah yang kelam.

Teh Nining, hentikanlah mengobral kata.  Sesungguhnya sia-sia karena akan menodai begitu banyak amal ibadah dan sedekah teteh.  Di tengah dunia proletar, yang kental dengan kemiskinan, dengan perjuangan melawan kenaikan BBM, sikap teteh memamerkan kekayaan teteh sangat tidak pantas.  Tolong hentikan karena itu mengurangi rasa hormat akan keteladanan teteh.

Teh Nining berhentilah pula mendompleng Bernandang Delta Bvlagari untuk  memuaskan dendam teteh pada Darsem.  Kata-kata teteh dalam lapak Rumah Kayu sungguh sudah keterlaluan.  Mohon direm tetehku yang budiman.  Sesungguhnya begitulah kita kaum wanita adalah kaum yang paling mudah lemah iman dan mudah sekali lepas kontrol, itulah sebabnya Baginda Rasul dalam perjalanan Isra' Mir'raj yang Agung telah diperlihatkan dimana tempat kebanyakan wanita di hari akhir nanti.   Ilmu agama teteh begitu tinggi, tinggal mereflesikan ilmu dalam ucapan.

Teh Nining, apa manfaatnya teteh aktif dan eksis di Kompasiana kalau teteh menyakiti orang lain.  Saya mengamati dari konflik dulu, Teteh telah menuai sakit hati dari konflik dengan Atun, dan ternyata walau sudah teteh hapus semua postingan, masih saja ada jejaknya yang tersisa, walau Atun sudah menghilang.  Teteh sakit hati demikian pula Atun.  Selain itu Teteh juga sudah menyakiti hati Usi Febriani walau menurut yang saya dengar yang didepan adalah Neng Moona dalam konflik dengan Usi.  Yang paling baru Teteh telah menyakiti Kompasianer Marissa Chacha dan juga Rumah Kayu.

Saya tentu telah menimbulkan antipati dari teteh karena saya telah memposting sesuatu yang teteh rasakan sebagai sindiran...Saya mohon maaf, tidak selayaknya saya lakukan.  Namun, dibalik rasa sakit hati dan benci yang mungkin sudah ada dalam hati teteh pada saya, tolong saya mohon, renungkan lah kata-kata refleksi dari saya.  Apabila tidak ada artinya juga,  saya hanya berharap Allah Subhanahu Wataala memberi kita hidayah ke dalam hati, seperti yang telah saya panjatkan dengan sungguh-sungguh di Raudah Asyarief yang mulia.

Mohon maafkan saya teh Nining Andini dan jadilah teteh panutan, ibu yang menyejukkan, teladan kesuksesan yang rendah hati bagi kami kompasianer Saudi.

3.  NENG MOONA f.


Neng Moona, sesungguhnya engkau adalah wanita muda yang punya kepribadian.  Nilai dirimu sudah tidak diragukan lagi, telah memetik buah kesabaran dari sebuah perjuangan.  Namun, dalam dunia pergaulan kompasianer,  mohon maaf ada kesan yang jelas, seakan Neng Moona adalah alat provokasi Teh Nining Andini.  Terus terang banyak yang menyangka Neng Moona sering bersekongkol berbohong....saya yakin itu tidak benar, namun itulah yang harus Neng Moona ketahui pendapat orang lain tentang dirimu.  Kembalilah pada dirimu, siapakah Neng Moona, seorang tkw yang telah mengubah nasib diri menjadi seorang isteri yang patuh, dan ibu yang solehah dari bayi yang sangat tampan.   Postingan terakhir Neng Moona tentang buah hati sungguh menyiratkan sesuatu yang aneh dari Neng Moona, seakan harus dipaksakan memberitahu orang lain telah melahirkan di rumahsakit yang mewah dan mahal....Hal itu tidak perlu sayangku...orang sudah tahu, hidupmu bahagia...orang sudah tahu suamimu mencintaimu dengan sepenuh hati dan akan memberikan yang terbaik untukmu dan si buah hati.   Jadilah Neng Moona, permata di padang pasir, yang bisa jadi refleksi akan ketabahan, kegigihan, kesabaran...tanpa Neng Moona kehendaki, telah terbentuk kesan yang tentu saja tidak dikehendaki...Bunda memberi tahu pandangan umum, walau menyakitkan, semoga jadi refleksi diri...Jadilah keluarga pernikahan campuran Indonesia - Saudi yang mencerminkan rumah tangga sakinah, mawaddah, wa rohmah...berikan sinar cinta itu dan kepedulianmu pada sesama tkw sesuai khittahmu yang dulu.

Sekali lagi bunda mohon maaf yang sedalam-dalamnya bila dalam postingan telah menyakiti karena Neng Moona merasa disindir....seharusnya bunda tidak melakukan itu semua...seharusnya bunda memberitahu dan mengingatkan.  Itulah kebodohan dari bunda Khadijah pada Neng Moona f.  Bila berkenan, maafkanlah saya dan ambilah yang baik dari yang saya sampaikan.

4.  BERNANDANG DELTA BVLGARI


Saya selalu berpendapat bahwa Mas Delta adalah penulis berbakat dan penuh energi, sangat produktif dan saya selalu berharap potensi itu terus digunakan secara maksimal.  Namun terusterang dalam bidang per-TKI-an yang merupakan bidang yang sama dari kita, nilai kepercayaan bunda pada tulisan Mas Delta sangat kecil...sering tidak percaya dan menganggap omong kosong ...kenapa terjadi begitu,  karena seringkali mas Delta sangat dangkal menggali sumber.  Nara sumber sangat penting untuk dicek and ricek.  Demikianlah katanya cara kerja jusnalist, karena menggiring opini yang keliru selain menurunkan tingkat kepercayaan juga ada tanggungjawab kepada Allah Subhanahu Wataala.  Jujur bunda  akan katakan banyak postingan Mas Delta yang bunda nilai ada kekeliruan di dalamnya...dan Mas Delta tetap maju terus.  Bunda bukan orang yang ingin mematahkan kreatifitas orang lain, justru sebaliknya, belajarlah untuk lebih baik menulis....Dulu, ketika tahun 2010 atau 2011 postingan Mas Delta dielu-elukan ratusan orang, karena mereka tidak tahu dan tidak mempertanyakan kebenaran postingan, namun kini bunda telah hadir dan juga telah banyak kompasianer yang kritis....Menulislah dengan valid, giringlah opini publik pada informasi yang memang akurat.

Dalam perseteruan dengan Mas Darsem, benar Mas Darsem sudah kelewatan terus mengejar.  Namun, Mas Delta telah bertindak sampai berbuah banned akun Mas Darsem.  Hal ini juga telah mas Delta lakukan pada Mbak Della Anna dan kini Mbak Della Anna diam.  Dulu,  Mas Delta telah memberitahu bunda tentang Mbak Niken Setyawati yang juga tidak mas delta sukai....tapi....untuk apakah semua eksistensi ini,  apakah karena ingin terkenal atau ingin jadi kompasianer paling terbaik ?  Berpacu untuk meraih prestasi dengan penghargaan admin masuk HL, Terekomendasi atau Teraktual, namun semangat sportifitas seperti Pic mas Delta dalam olah raga itu tidak dijunjung dan tidak tercermin...sportifitas....Mas Delta, tak perlu iri hati akan prestasi orang lain, diatas orang pintar ada orang pintar, di atas orang sukses ada orang yang lebih sukses....Di kompasiana begitu banyak kompasianer yang sangat mumpuni dan tinggi ilmunya dan pandai menulis, jadilah bagian dari mereka Mas....

Dalam perseteruan dengan Mas Darsem, tolong hentikan sumpah serapah dan bahasa kasar yang tak pantas diucapkan oleh penulis senior dan kreatif seperti Mas Delta.   Kata-kata sampah ini malah telah membuat Mas Delta juga bersinggungan dengan Auda Zaskya, dan yang telah lawas dengan Mas Edsanto.   Dalam konteks berbeda pendapat, bunda harap kedepankan isi bahasan,  dan hindarkan penggunaan bahasa yang tak santun....sesungguhnya negeri Arab ini adalah negeri yang sangat santun karena bahasanya sangat indah...namun refleksi ahlak yang kasar telah mempedaya dan membuat kita berkesan bahasa dalam negara ini begitu kasar dan jarang ada sopan santun....Refleksikan diri Mas Delta menjadi penulis andal dan juga stabil dalam mengendalikan emosi bahasa...pertahankan sikap profesional dalam tulisan.

Untuk semua hal yang telah bunda katakan pada Mas Delta dan telah bunda lakukan dengan tulisan, bunda memohon maaf yang sebesar-besarnya.  Bunda adalah sumber kekhilafan dan kebodohan dan tak bermaksud ada sikap dislike pribadi.  Semata ajar displin wawasan..namun pastilah kelemahan diri telah mungkin dan besar kemungkinan menyakitimu.  Mohon maafkan bunda Khadijah ya, Mas Delta.  Teruslah menulis dan bunda doakan semoga sukses selalu dan jadi amal ibadah yang baik disisiNya.

5.  JOKO WENAMPATI

Saya tidak cukup mengenalmu, hanya dalam satu dua postingan kita berjumpa...namun sudah bukan rahasia saya tahu, Mas Joko adalah setia kawan mas Delta.  Saya mohon maaf telah sempat tidak menyukaimu karena menilai kesetiakawananmu sangat membabi buta.  Padahal Mas Joko ternyata sangat berkualitas, namun demi setia kawan telah terjerembab dalam pembelaan.  Mas Darsem itu juga seorang muslim, bila alasan Mas Joko membela mas Delta adalah sesama muslim harus saling membantu...namun Mas Joko jangan  membiarkan Mas Delta santai mencaci maki, membuang sumpah serapah...Mas Joko selaku sesama muslim yang mencintai mas Delta selayaknya menjadi kawan kesholehan, menjadi kawan yang menguatkan argumen dalam kebenaran yang hak, dan kesabaran yang agung....itulah refleksi setia kawan dalam kesholehan dan dalam keilmuan yang benar.  Penilaian saya demikian.

Tak banyak kata yang dapat kuucapkan lagi padamu, Mas Joko Wenampati, selain mohon maaf dan semoga refleksi saya walau menyakitkan, namun dapat direnungi...dimana posisi setia kawan ditempatkan....di dalam Kompasiana ada banyak macam aliran Islam yang tentu saja menjadikan perbedaan pendapat dalam memandang persoalan...Sama seperti ketika memandang masalah per-TKI-an ada banyak bentuk kepala yang berbeda....namun perbedaan itu jangan menjadikanmu jadi sekelompok serigala kecil yang selalu menyalak pada orang yang berbeda pendapat.  Uji perbedaannya dan tantang wawasannya.,,,dan sekali lagi mohon maafkan bunda Khadijah bila telah menyakitimu dan telah menyinggung perasaanmu.

@@@@@@@

REFLEKSI DIRI

Bunda Khadijah telah banyak melakukan kesalahan selama menjadi kompasianer sejak 3 oktober 2011 lalu.  Bunda Khadijah bukan orang pintar dan luas wawasannya, hanya seorang ibu rumahtangga yang ternyata juga lemah imannya dan masih bisa terjerembab ahlaknya.  Melalui Refleksi dari Madinah ini, bunda Khadijah sekali lagi mohon maaf pada semua yang telah disakiti baik sengaja maupun tidak sengaja.

Semoga Refleksi ini berguna, dan bukannya memperdalam perbedaan, konflik dan kancah penuh sakit hati pada bunda Khadijah.  Di Raudah Asyarief yang agung, saya bersimpuh, bersujud dalam tangis yang diam, apa gunanya diri ini menyandang nama besar wanita yang agung dan tinggal di kota yang penuh barokah, namun perilaku tak ada bedanya bagai nenek-nenek lampir yang membisiki, yuwaswis su fi suduurinnaas...akan kejahatan dalam pena yang menghancurkan martabat dan harga diri...Ya Rabb ampunilah hambaMu ini.

Bunda Khadijah

/bunda.com

TERVERIFIKASI (HIJAU)

I am Indonesian, married, mother of 3, moslem...: "Mari Tegakkan Shalat."
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?