Menjadi Hantu, Merindu Sahabat Lama

29 Mei 2012 18:31:02 Dibaca :

Hmm,.. sampai tengah malam lewat saya tak bisa lelap juga, sepertinya ini dampak minum kopi sampai dua gelas. Di tengah usaha keras saya mencari kantuk di samping suami yang sudah pulas dengan mimpi-mimpinya, saya teringat pada sosok seorang sahabat dekat yang jauh di Pacitan sana. Dulu kami satu kost ketika kuliah, meski kami beda jurusan.

Kami bersahabat laksana saudara kandung, runtang runtung berangkat dan pulang kuliah, meski jam kuliah kami tidak sama. Tentu ini kami lakukan sebelum saya menikah duluan.

Kedekatan kami mungkin disebabkan karena kami dulunya satu SMA yang sama-sama mengalami kisah pahit manis memperjuangkan hak berjilbab di sekolah. Kenangan pada sahabat saya yang bernama Lusia ini ternyata menjadikan saya beranjak dari sisi suami, kemudian menyalakan laptop untuk menulis salah satu kisah yang menghiasi kerinduan saya padanya, malam ini.

Awal kami jalani kehidupan di kampus, sebagaimana teman-teman yang lain, perpeloncoan wajib kami lalui. Tak peduli laki perempuan, perintah kakak kelas wajib dilaksanakan, tentu jika tidak ingin di'cuci' bersih dengan hukuman dan cacian.

Perintah yang kami terima selepas acara penataran P4 adalah bahwa kami harus berkumpul jam sembilan malam di depan gedung theatre B. Sebuah tempat yang srategis, cukup lapang karena bersambung dengan plaza Mipa dan ruang depan gedung Theatre C.

Maka kami, saya dan Lusia pun menyusuri Jalan teknik Sipil, menyeberangi jembatan kayu yang salah satu papan kayunya terlepas sehingga menimbulkan suara tidak nyaman ketika kaki menginjaknya. Dalam ketergesaan, sampailah kami di tempat yang telah dijanjikan.

Rupanya kami datang terlalu dini, karena ternyata belum ada satu pun teman-teman yang hadir. Pun tak terlihat aktifitas persiapan akan diadakannya sebuah kegiatan. Sunyi senyap. Hanya angin yang bertiup kencang menimbulkan suara-suara benda terbanting-banting.

Kami sibuk berbincang dan berkelakar. Tampak dari kejauhan ada seseorang berjalan menuju tempat kami menunggu. Tapi, belum juga sampai, dia sudah balik dan bergegas pergi. Dari arah teknik mesin juga tampak seseorang berjalan ke arah kami. Herannya, ia pun balik kucing, tak hendak melanjutkan perjalanannya. Bahkan dari arah tempat parkir juga melintas dua orang yang jelas-jelas, arahnya menuju kami. Kami bingung, kok mereka juga seperti terbirit-birit menjauhi kami.

Kami terus menunggu, karena kami yakin, pertemuan memang di tempat dan waktu yang tepat sebagaimana kami saat itu ada. Waktu terus berjalan, kesenyapan semakin mencekam. Hingga jam sebelas malam, kami putuskan untuk pulang. Sungguh kami tak tahu, mengapa kami tak bertemu satu teman pun di malam itu.

Hingga keesokan harinya, ketika kami bergabung dengan teman-teman satu gugus, barulah kami tahu kalau acara tidak jadi diadakan malam itu. Pengumuman pembatalan dilakukan tidak lama setelah kami buru-buru pulang setelah acara penutupan hari kemarin. Pantas, ... tak kami jumpai teman-teman di malam harinya.

Namun, setelah itu terdengar kasak kusuk tentang keberadaan hantu perempuan yang menjadi penunggu theatre B muncul semalam. Berita tersebut menyebar dan diperbincangkan hangat di kalangan teman-teman. Mereka menggambarkan dua sosok hantu berbaju putih bersih, menampakkan dirinya sehingga menjadikan beberapa orang tak berani melewati kawasan Theatre B dan C. Namanya juga kasak kusuk, pastilah disertai bumbu penyedap aneka rasa. Ada kisah tentang mahasiswi yang bunuh diri karena skripsinya ditolak dosen penguji terus menerus, ada kisah tentang peri penunggu yang sukanya mengganggu mahasiswa yang praktrikum hingga malam, dan lain-lain.

Saya dan Lusia pun tergelak-gelak. Sadar sepenuhnya, bahwa peri atau hantu yang dimaksud adalah kami yang semalam menunggu di tengah kedinginan dan kegelapan malam. Kami tak pernah membayangkan, jika keberadaan kami yang berbaju putih dari ujung kaki hingga ujung kepala, dengan jilbab besar yang berkibar-kibar tertiup angin, telah menjelmakan kisah hantu penunggu theatre B, kampus ITS Sukolilo Surabaya.

Ah, seandainya saat itu fasilitas HP sudah seperti sekarang ini, tentu kami tak perlu memaksakan diri bersabar hingga jam sebelas malam kedinginan dan kebingungan. Tapi, dengan begitu, kami memiliki kenangan yang tak terlupakan, yang menjadikan kami hingga kini tetap merasakan kedekatan, meski kami dipisahkan oleh jarak yang berjauhan.

Termasuk malam ini, kenangan menjadi hantu di malam itu telah menjadikan saya kembali mengenangnya, seorang sahabat yang mungkin saat ini sedang terlelap, Lusia Syafaryuni.

Bunda Hanna

/bunda-hanna

TERVERIFIKASI (HIJAU)

seorang ibu rumah tangga
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?