PILIHAN HEADLINE

Sebelum Mati Buatlah Minimal 1 Buku

18 Juni 2017 18:36:12 Diperbarui: 19 Juni 2017 13:18:07 Dibaca : 428 Komentar : 7 Nilai : 15 Durasi Baca :
Sebelum Mati Buatlah Minimal 1 Buku
Sumber ilustrasi: news.usc.edu

Hidup itu singkat! Pasti kita semua sering mendengar kalimat klise ini kan?

Memang betul hidup itu singkat tapi hanya di periode kehidupan yang singkat itulah kita mempunyai kesempatan untuk melakukan sesuatu yang berarti. Paling tidak saat ajal menjemput, kita bisa meninggalkan legacy, sesuatu yang mengingatkan orang yang masih hidup tentang kita. Kalo tidak berkarya, kita mati hari ini, esoknya semua teman-teman akan melupakan kita.

Misalnya Chairil Anwar; berapa usianya saat dia meninggal dunia? Mungkin banyak yang gak menyangka bahwa penyair ini meninggal di usia 26 tahun, tepatnya tanggal 28 April 1949. Usia 26 tahun itu muda banget, kan? Sekarang sudah tahun 2017, jadi sudah 68 tahun yang lalu tapi sampe sekarang, semua orang masih mengingatnya. Lomba puisi anak-anak sekolah hingga saat ini masih banyak yang memilih puisinya untuk dideklamasikan.

Dapat disimpulkan bahwa meskipun meninggal di umur 26 tahun, penyair eksentrik ini tidaklah mati sia-sia. Karya-karyanya telah membuat namanya abadi. Siapa yang tidak mengenal puisi-puisi karyanya seperti; 'Cintaku Jauh di Pulau', 'Derai-derai Cemara', 'Deru campur Debu', 'Prajurit Jaga Malam', 'Karawang-Bekasi' dan tentu saja puisi legendaris yang berjudul 'Aku'.

Nah, pertanyaan saya sekarang: berapakah usia kalian sekarang? Dan berapa lama lagi sisa waktu yang tersisa? Nobody knows! Tapi kita bisa mati kapan saja, bisa jadi kita mati esok hari. Lalu apakah yang telah kita lakukan untuk meninggalkan legacy seperti yang dilakukan oleh Chairil Anwar?

Kalo kalian merasa belum melakukan apa-apa, saya menganjurkan untuk menulis buku. Yak, betul, menulis buku! Apa yang harus kalian tulis? Apa aja, sak karepmu! Pokoknya sesuatu yang kalian paling kuasai. Gak usah mikirin apakah buku kalian akan laku atau tidak. Buatlah buku sebagai warisan untuk keluarga. Tau gak? Warisan terbaik yang perlu kita wariskan pada anak cucu, bukanlah uang dan harta tapi pengalaman hidup kita.

Sebelum Mati Buatlah Minimal 1 Buku
Sebelum Mati Buatlah Minimal 1 Buku

Sebagian pasti ada yang berkilah, "Mau sih nulis buku tapi gue gak bisa menulis."

Jangan suka meremehkan diri sendiri! Percaya deh kata saya; Gak ada orang yang gak bisa menulis. Yang ada hanyalah orang itu gak tau bahwa dia bisa menulis. Atau bisa juga karena gak punya minat atau malesnya minta ampun. Pertanyaannya adalah kenapa ada orang merasa bahwa dia gak mampu?

Untuk mengetahui jawabannya, saya mulai dengan menganjurkan kerabat dan handai taulan (handai taulan? Hahahaha bahasa apa tuh?) untuk menulis. Semua teman yang saya kenal saya anjurkan untuk menulis. Dan ternyata, walau datang dari bidang berbeda, mereka mempunyai jawaban yang sama.

Misalnya, kawan saya, Herman yang paling doyan bikin puisi, nyautnya gini, "Bikin buku puisi? Ga mungkinlah gue bisa nulis seperti Gunawan Mohammad atau Sapardi Djoko Damono."

Mantan pacar saya, Bintang, yang dari dulu pengen banget bikin novel beralasan, "Rasanya mustahil gue bisa nulis novel sebagus Ayu Utami atau Dewi Lestari."

Kalo Rio yang kerja sebagai manager marketing di perusahaan rokok malah ngotot nyautnya,"Bikin buku? Gila lu! Emangnya gue Hermawan Kertajaya apa? Lu kira gue Rheinald Kasali? Mereka tuh dewa-dewa marketing. Gue mah ga ada seujung kuku mereka dalam hal pemasaran."

Lucu ya? Jawaban teman-teman saya semua mengacu pada buku-buku yang telah ada. Mengacu pada penulis terkenal. Mereka merasa harus menjadi orang lain. Merasa harus menulis sebagus pendahulunya. Harus menulis dengan gaya penulis besar. Harus sepintar mereka. Harus mempunyai ilmu pengetahuan yang sama dengan mereka.

Siapa yang mewajibkan kita harus seperti itu? Setiap orang tercipta dengan keunikan tersendiri. Pendidikan kita berbeda dengan mereka. Latar belakang hidup kita juga berbeda, begitu juga dengan pengalaman hidup, cara kita memandang terhadap sebuah persoalan tentu juga berbeda. Masing-masing orang mempunyai kekhasan sendiri-sendiri. Intinya adalah kita berbeda dengan mereka. Lalu kenapa kita berusaha menjadi mereka?

Kan gak harus gitu? Siapa yang mengharuskan kita jadi orang lain? Bikin dong buku sendiri. Pake gaya sendiri. Keluarin aja pengetahuan yang ada, walaupun yang ada cuma seadanya. Kalo gak punya ilmu juga gak papa. Bikin aja buku tentang seseorang yang gak punya ilmu. Atau buku yang isinya semua tentang pertanyaan. Buku kan gak harus tentang solusi. Buku adalah tentang ekspresi. Tentang emosi. Tentang cerminan diri. Karena itu jadilah diri sendiri!

Yak! Itulah kuncinya. Kita harus menjadi diri sendiri. Janganlah membohongi diri sendiri. Kita adalah kita! Kalau kita jujur maka kita akan menerima bahwa kita punya gaya tersendiri. Tuangkanlah apa yang ada dalam diri dengan jujur. Kejujuran dalam berkarya adalah kunci tercapainya sebuah masterpiece.

Kalo emang rasanya bikin buku itu terlalu makan waktu? Kita bisa bikin buku yang tipis aja dulu (kayak stensilan gitu loh). Atau bikin artikel pendek terus posting ke sosial media. Tulis apa aja sesuka kita. Kalo susah pake bahasa baku, tulis aja pake bahasa koboy. Kalo rasanya ribet pake bahasa tulis, pake aja bahasa lisan yang biasa kita ucapkan sehari-hari. Tinggal pindahin omongan ke dalam bentuk tulisan. Gampang kan?

Coba deh dimulai, kalo udah banyak tulisannya, kita pasti merasakan manfaatnya. Cara ngebuktiinnya gampang kok. Bandingin aja tulisan pertama dengan tulisan kita yang terakhir. Pasti banyak bedanya. Pasti keliatan kemajuannya. Ketika tulisannya udah banyak, kita kompilasi lalu jadikan buku. Beres!

Seandainya kalian butuh bimbingan, kumpulin aja temen sekitar 10 orang lalu panggil saya untuk mendampingi lalu kita sama-sama belajar dan berbagi pengalaman. Kalo kalian butuh testimoni untuk buku kalian, saya juga akan dengan senang hati melakukannya. Pokoknya anything for you, guys.

Percayalah, membuat buku sangat bermanfaat. Apalagi untuk teman-teman yang usianya sudah sangat senior, mereka pasti punya pengalaman yang sangat banyak dan layak dituliskan. Sayang kan kalo cerita-cerita hebat itu turut terkubur bersama jasad pelakunya. Berapa pun sisa usia kita, mari isi dengan kegiatan yang berguna dan bermartabat..

Seandainya masih saja mengalami kesulitan, saya juga bersedia untuk menuliskan buku biografi kalian sebagai ghost writer. Pokoknya apapun akan saya bantu agar kalian semua mempunyai buku biografi sebagai legacy yang bisa diwariskan pada anak, cucu dan cicit.

Ketika sudah dipanggil Tuhan, cucu dan cicit akan mengenal kita melalui buku yang kita tulis. Meskipun mereka belum pernah bertemu, setelah membaca buku kita, mereka akan bergumam;

"Wah, ternyata kakek seorang pemain Band Rock. Dia bisa main gitar, piano dan biola. Hebat, euy!"

"Kakek ternyata seorang pengembara yang pernah keliling dunia, loh. Sayang aku gak pernah ketemu dia."

"Oh kakek itu ternyata seorang tentara. Beliau pernah berjuang mengangkat senjata melawan penjajah. Luar biasa!!!!"

"Masya Allah, ternyata kakek dulu adalah raja disko dan banyak cewe-cewe yang kepincut sama dia. Ah kalo masih hidup, aku mau tuh belajar dansa sama kakek."

Kalo mendengan komentar-komentar seperti itu, pastilah kita akan tersenyum dan mati dengan mata meram. Walaupun sedikit, paling tidak kita telah meninggalkan warisan bagi anak cucu dan cicit yang tidak sempat bersua dengan kita di dunia.

Jadi mari kita semua menulis buku. Semua orang sering mengeluh dengan mengatakan, "Wah, waktu cepet banget berlalu, ya?" Tapi setelah mengatakan hal itu, kita masih saja membuang-buang waktu.

So, guys apalagi yang kalian tunggu? Time waits for no one! Sebelum mati buatlah minimal 1 buku.

Budiman Hakim

/budiman_hakim

TERVERIFIKASI

When haters attack you in social media, ignore them! ignorance is more hurt than response.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana