Resensi Novel "Anak Sejuta Bintang"

21 Maret 2012 04:15:01 Dibaca :

“Anak Sejuta Bintang adalah novel biografis yang sangat berguna, baik dibaca untuk dijadikan dasar cara pendidikan terhadap anak. Lebih-lebih di masa tumbuh-kembang anak tersebut.” - NH. Dini, Sastrawan Hubungan akrab suami istri Ahmad Bakrie dan Roosniah  dengan anak-anaknya terasa begitu terbuka, hangat dan demokratis, teristimewa dengan lcal, anak lelaki sulung mereka. Itulah antara lain yang terbaca dalam novel Anak Sejuta Bintang karya Akmal Nasery Basral. Tentu tanggapan pembaca akan beragam dalam memberi penilaian terhadap sebuah karya. Namun, alangkah baiknya jika sebuah penilaian terlebih dahulu dijauhkan dari prasangka dan kebencian. Agar penilaian yang dihasilkan jernih, bajik dan bijak. Dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang berada, lcal tidak tumbuh menjadi anak yang manja dan arogan. Sebaliknya, dia akrab dengan kekalahan dan pernah pula mengalami penolakan. Beruntunglah ia dibesarkan oleh orang tua yang begitu terbuka dan selalu menyediakan waktu untuk mendengarkan celoteh, keluhan, dan semua ceritanya. Dalam alur cerita yang lugas dan sederhana, Akmal Nasery Basral terbilang berhasil menuliskan biografi AburizaI Bakrie dalam sebuah novel semi fiksi yang apik dan menarik. Sehingga novel ini laik dibaca sebagai sebuah karya dokumentasi  maupun sebagai sebuah hiburan. Ia bercerita sambil mendidik, tanpa terasa menggurui. Benarlah apa yang dikatakan Dewi Motik tentang pesan novel ini pada saat acara peluncurannya.  You have to make time for your children. Komunikasi dengan anak sangat penting pengaruhnya dalam pertumbuhan mereka. Di masa-masa awal hidup seorang anak, mereka selalu butuh didengarkan dan kedua orang tua idealnya harus bisa menjadi pendengar yang baik dan kawan bercakap yang nyaman bagi anak-anaknya. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Exposē dan didistribusikan oleh Mizan, sebuah nama yang cukup terkenal di kalangan pembaca Indonesia dengan karya-karya yang bermutu. Bagian lemah novel ini terutama di penyuntingan dan proofreading yang sedikit kurang teliti. Padahal Khrisna Pabichara, penyuntingnya, adalah juga seorang sasterawan. Mungkin ketika melaksanakan pekerjaan penyuntingan, beliau sedang diburu waktu tenggat sehingga beberapa kesalahan luput dari perhatian.

Budi Liem

/budiliem

Membaca, menonton, menulis, berjalan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?