Bryan Perdana
Bryan Perdana

Photo and Video maker | Writter| Instagram: @bryan.perdana |Youtube : Bryan Perdana | Blog: bryanperdana.com

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi highlight

Game Tidak Lagi untuk Anak Kecil

2 Maret 2016   22:34 Diperbarui: 2 Maret 2016   22:42 181 0 0

[caption caption="picture: Game Tidak Lagi untuk Anak Kecil"][/caption]Masa kecil merupakan masa yang selalu dirindukan ketika sudah dewasa. Pada masa itu belum pernah berpikir apa itu cinta, pekerjaan, dan kesedihan. Yang pasti hanyalah sebuah kebahagiaan dan kesenangan tanpa adanya sebuah kesedihan. Apalagi saat masa kecil kita bisa bermain dengan orang-orang disekitar kita tanpa harus memikirakan siapa mereka.

Bagi mereka yang hidup masa kecil di era 90an pasti hubungan pertemanan saat kecil terasa sangat dekat. Masih kental sekali permainan tradisional di masyarakat. Bermain kelereng, layang-layang, sampai petak umpet (hide and seek). Bermain bersama-sama adalah kunci permainan tradisional. Permainan yang dilakukan bersama-sama itu mulai hilang semenjak munculnya teknologi.

Teknologi sebuah game diawali dari Ralph Baer yang membuat sebuah video game yang bisa dinikmati dirumah. Beliau membuat video game pertama kali dengan prototype dengan nama  Magnafox Odyssey. Video game ini menyediakan 16 game yang bisa diganti-ganti oleh penggunanya. Setelah itu muncul yang namanya video game menggunakan coin yang disebut computer space atau Ding-Dong jika di Indonesia.

Popularitas Ding-Dong semakin menanjak diseluruh dunia termasuk Indonesia. Tidak cukup sampai disitu perusahaan dari amerika ini membuat sebuah video game yang dimainkan dengan joystick. Dengan nama Atari 2600 dan Atari 7800 ini merupakan pelopor video game rumahan yang menggunakan joystick. Tapi sayang sekali kejayaan tersebut tidak bertahan lama.

Pasar video game mulai merosot, beberapa perusahaan video game amerika beralih pada pembuatan computer, bisnis lain dan ada yang bangkrut. Beberapa dari perusahaan video game melihat industry game hanyalah sebuah main-main belaka. Pada saat itu ada pendatang baru dari asia yang membuat sebuah gebrakan baru.

Jepang, salah satu negara terbaik dalam teknologi melihat pasar video game dengan serius. Perusahaa Nintendo menggebrak pasar video game dengan merilis Famicom. Game console ini menampilkan gambar dan animasi dengan resolusi tinggi untuk pertama kali. Nintendo menguasai pasar video game di jepang dan amerika. Setelah menguasai pasar video game beberapa tahun, Nintendo mendapat pesaing baru.

Tahun 1994, Sony perusahaan elektronik terkemuka di Jepang akhinya mengeluarkan produk Sony Playstation. Produk ini sangat digemari di Indonesia terutama pada anak kecil pada waktu itu. Sony memperilhatkan konsistensinya dengan meluncurkan PlayStation 2 yang memiliki grafis yang lebih baik dari pendahulunya. Dan setelah itu ditahun 2005 Microsoft juga turun dengan meluncurkan Xbox 360. Dan beberapa tahun terahkir sudah mulai muncul konsol baru seperti PlayStation 4, Xbox One dan Nintendo Wii. Dan hampir seluruh anak kecil di Indonesia memainkan beberapa konsol game ini.

Bukan cuma itu saja, banyak juga orang yang melihat pasar video game di Indonesia merupakan peluang bisnis yang besar. Dengan membuka sebuah peminjaman PlayStation dengan biaya sesuai waktu yang dipesan, banyak sekali anak-anak yang menggunakan jasa ini. Karena tidak banyak anak bisa memiliki PlayStation, akhirnya mereka lebih suka rental saja.

Game yang dimainkan hanyalah paling sering adalah permainan sepak bola. Banyak dari mereka yang ahli dalam memainkan game tersebut. Tapi seiring berjalannya waktu muncul game yang sudah tidak pas untuk dimainkan oleh anak kecil lagi. Seperti Grand Theft Auto merupakan game pertama dengan genre game open world.

Singkat dari game ini adalah layaknya kita sebagai manusia hidup di game dan bisa melakukan apapun yang kita suka. Seperti melakukan makan, beli baju, tattoo, sex, penembakan terhadap siapapun, dll. Hal itu jelas sekali sudah bukan konsumsi buat anak kecil lagi. Karena banyak sekali yang aksi-aksi dalam game yang khusus dewasa atau 18+.

Nampaknya perusahaan konsol game melihat pasar video game sangat kurang jika hanya harus untuk anak kecil saja. Beberapa perusahaan ini melebarkan sayapnya untuk mencari pengguna konsol game untuk dewasa. Mereka mulai membuat game-game dengan genre action, fiksi dll. Mereka membidik para gamers dewasa yang dulunya sebagai pemain konsol mereka saat masih kecil.

Ada kecendurungan strategi ekonomi yang mereka lakukan untuk meningkatkan penjualan mereka. Dan ternyata benar, dengan merilis game dengan label 18+, penjualan konsol game mereka laku keras. Pemain game tak lagi anak kecil saja tapi sudah untuk orang dewasa. Seperti peraih game terbaik 2015, The Witcher 3: Wild Hunt memiliki cerita yang menurut saya anak kecil tidak akan paham. Dan beberapa cut scene dalam video game tersebut adalah adegan sex yang disensor.

Hal ini menunjukan bahwa game tidak lagi untuk anak kecil. Jadi bila ada anak kecil yang memainkan game 18+ ini wajib pendamping. Dan sah saja bila perusahaan sedikit beralih segementasi karena mereka memiliki strategi ekonominya sendiri.

Ilustrasi