Pemberian Hot-Pack Terhadap Hipotermi Pasien Post Operasi Seksio Caesaria di Recovery Room

21 Maret 2017   18:51 Diperbarui: 21 Maret 2017   18:57 12 0 0

Perkembangan jaman yang semakin modern diikuti dengan perkembangan di dunia kesehatan dalam menangani suatu masalah kesehatan salah satunya dibidang pembedahan, banyak metode-metode bedah yang di temukan dan diaplikasikan dalam bidang medis, dan sekarang semakin bertambah pula kepercayaan masyarakat akan keberhasilan tindakan bedah dibanding pengobatan alternatif diluar medis dalam menangani suatu masalah kesehatan.

Seksio caesaria merupakan salah satu tindakan yang dilakukan untuk melahirkan janin melalui pembedahan di daerah abdomen (Winkjosastro, 2002). Dewasa ini Seksio caesaria bukan lagi pembedahan yang dilakukaan pada keadaan emergensi melainkan menjadi tren pada proses kelahiran yang sengaja diputuskan oleh pasien atau elektif dengan berbagai alasan. Penjelasan yang baik pada pasien pre operasi seksio caesaria mengenai prosedur pembedahan sangatlah penting dilakukan baik persiapan sebelum operasi, penjelasan tentang prosedur operasi maupun komplikasi atau masalah yang akan timbul setelah menjalani tindakan operasi.

Dalam tindakan operasi akan timbul berbagai komplikasi atau masalah yang timbul setelah tindakan pembedahan, salah satunya adalah terjadinya penurunan suhu tubuh pasien atau hipotermi post operasi (Ignatavicious,1995). Goldberg dalam Sabiston melaporkan tentang pasien dengan tindakan pembedahan abdominal elektif sebanyak 78% mengalami penurunan temperatur tubuh. Hipotermi post operasi merupakan keadaan suhu tubuh dibawah temperatur normal (<36ºC). 

Proses kehilangan suhu tubuh akibat tindakan pembedahan dimana terjadi peningkatan metabolisme tubuh yang berlebih dan mengakibatkan Vasokontriksi dan perubahan termoregulasi sistem pada hipotalamus. Pengembalian panas tubuh harus segera dilakukan karena efek selanjutnya pasien akan mengalami ketidaknyamanan lain yaitu Shivering(menggigil) ditambah lagi dengan nyeri post operasi yang akan dialami oleh pasien. Efek hipotermi juga dapat memperlambat penyembuhan dan mempengaruhi lama rawat post operasi.

Pengobatan farmakologi pada pasien yang telah mengalami Shiveringadalah dengan memberikan terapi Pethidin injeksi. Sebelum pasien mengalami Shievering, perlu tindakan penghangatan tubuh dengan terapi panas yang diberikan pada pasien yang suhunya ≤36ºC. Berbagai metode Nonfarmakologi yang diberikan untuk terapi panas yang telah dipakai untuk pengembalian panas tubuh pasien antara lain selimut hangat, buli-buli panas, kompres dengan Hot-packdan penyinaran dengan lampu panas (Altman, 1999).

Hot-packmerupakan kemasan tertutup yang suhunya dinaikkan hingga menjadi panas atau sesuai suhu yang dapat ditahan pasien (Rosdahl, 1999). Peneliti menggunakan Hot-packsebagai pengganti buli-buli panas sebagai alat pengembalian suhu tubuh, lebih praktis dan tidak perlu diisi ulang seperti penggunaan buli-buli.

Berdasarkan hal-hal diatas menjadi alasan peneliti dalam melakukan penelitian tentang Efektifitas pemberian Hot-packterhadap hipotermi pada pasien post operasi Seksio caesaria di RSU Lumajang. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui Efektivitas pemberian hot-packterhadap hipotermia pada pasien post operasi seksio caesaria di RSUD Dr. Haryoto Lumajang.

Penelitian tentang Efektivitas pemberian Hot-packterhadap hipotermia pada pasien post operasi Seksio caesaria ini merupakan penelitian Quasi eksperimentdengan rancangan Time series. Quasi Eksperimentyaitu jenis eksperimen yang berupaya untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat dengan cara melibatkan kelompok kontrol disamping kelompok eksperimental (Nursalam, 2003). Sedangkan rancangan Time seriesmemiliki ciri tipe penelitian yang melakukan observasi pengukuran yang berulang ulang sebelum dan sesudah perlakuan baik sebelum maupun sesudah perlakuan terhadap satu kelompok atau beberapa intact group(Tim Puslitjaknas, 2008)

Sampel dalam penelitian ini adalah pasien post operasi Seksio caesaria di ruang recovery roomRSUD Dr. Haroto Lumajang dan memenuhi kriteria inklusi, yaitu pasien post operasi Seksio caesaria dengan SAB,pasien dengan temperatur tubuh < 36ºC (hipotermi), pasien usia 20-45 tahun, pasien tanpa terapi Pethidin, pasien yang kooperatif dan mau menjadi responden, dan pasien seksio caesaria elektif. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan Purposive sampling.Variabel dalam penelitian ini adalah pemberian terapi panas Hot-packsebagai variabel bebas dan terjadinya hipotermi sebagai variabel terikat.

Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi. Langkah-langkah pelaksanaan pemberian Hot-packpada sampel,yaitu Observasi 1 dilakukan pengukuran suhu tubuh menggunakan termometer aksila dan dicatat pada lembar observasi. Kemudian diberikan hot-packdi lengan bagian dalam, setelah 10 menit angkat Hot packberulang sampai 30 menit pemberian hot-packlakukan Observasi pengukuran suhu tubuh sebanyak 3 kali pengukuran atau setiap 10 menit. Data yang diperoleh selanjutnya diberikan kode nilai sebagai berikut:

Nilai 3 jika suhu tubuh pasien berubah ke nilai normal 360C-370C dalam 10 menit pertama,

Nilai 2 jika suhu tubuh pasien berubah dalam 10 menit kedua,

Nilai 1 Jika suhu tubuh pasien berubah dalam 10 menit ketiga,

Nilai 0 Jika suhu tubuh pasien tidak naik ke normal.

Analisa data menggunakan teknik analisa T-Paired testdengan bantuan SPSS no. 15 dengan Signifikansi 0, 05 pengambilan kesimpulan sebagai berikut Ho ditolak jika nilai P < 0,05 dan Ho diterima jika nilai P ≥ 0,05.

Diruang Recovery Roompasien dirawat dan dipantau sampai mengalami pulih sadar setelah menjalani suatu tindakkan operasi atau masih dalam pengaruh anestesia. Pemantauan keadaan pasien post operasi dilakukan sampai dengan status hemodinamik pasien membaik dan setelah itu dikirim kembali ke ruang rawat ataupun ICU dan ruang Kebidanan. Hasil penelitian menemukan karakeristik responden penelitian sebagai berikut :

Berdasarkan hasil pengukuran yang didapat setelah responden diberikan terapi panas hot-packmaka ditemukan sebagai berikut:

Sebanyak 20% responden yang suhunya mencapai normal (360C-370C) dalam 10 menit pertama, 40% naik kenilai normal di 10 menit kedua, dan 1% yang naik kenilai normal di 10 menit ketiga, dan 30% responden yang mengalami kenaikan suhu ≤360C.

Sumber :

Budi Susatia Poltekkes Kemenkes Malang ~ Jl. Besar Ijen 77 C Malang

Email: idub_susatia@yahoo.com