HIGHLIGHT

Selagi Janur Kuning Belum Melengkung, Pilihlah yang Terbaik.

22 Juni 2012 04:22:22 Dibaca :

Pernah di curhati seorang sepupu yang datang dan langsung cerita kisahnya yang tak asyik bersama kekasihnya, namanya Ima. Karena kami dekat, jadi cerita urusan pribadipun tak ada kendala. Kemanapun Ima pergi selalu di monitor oleh pacarnya, sebut saja G. Ima punya waktu leluasa hanya pada saat kuliah di kampus dan ketika menghabiskan malam dirumah. Jika ingin hang out atau sekedar hadir di acara teman yang bukan teman pacarnya, harus melalui beberapa prosedur ijin dari G, biasanya G lebih banyak tak mengijinkan ketimbang memberi ijin walau Ima sudah mengemukakan alasan yang logis, seperti ingin hadir di acara ulangtahun sahabatnya, syukuran orangtua teman karena ingin menghargai undangan dari orangtua temannya atau sekedar ingin refreshing. Jika pergi tanpa G tentu banyak yang tak acc nya sebab G bekerja dan tak selalu bisa mengantar Ima hadir di suatu acara.


Pernah suatu saat Ima nekad tanpa ijin G pergi ke acara syukuran kakak teman kuliahnya yang wisuda, handphone sengaja tetap diaktifkan namun ketika G telepon atau sms tak dibalasnya, Ima berpikir biarin saja, ntar bisa bohong hp ketinggalan. Namun G akhirnya menelepon ke rumah Ima dan yang mengangkat adiknya yang tak diberitahu dulu, yah...ketahuan, akhirnya G langsung sms Ima dan menyuruhnya pulang karena G akan datang ke rumahnya untuk menjemput ke acara teman G. Ima merasa tak tenang untuk melanjutkan acara di syukuran wisuda kakak temannya, akhirnya pulang dan di rumah sudah nampak G dengan muka yang bete dan angker.


Adu mulut pun dimulai dan kali ini Ima sudah gerah dengan sikap G yang over protektif terhadapnya, awalnya Ima berpikir tujuan kekasihnya adalah untuk melindunginya dan mengajarkan disiplin. Tetapi lama-lama kok seakan merenggut hak hidupnya untuk bersosialisasi dengan orang-orang disekitarnya selain G, terus saat ingin maju dalam berbagai kegiatan kampus selalu harus melaui perijinan yang kebanyakan tak diloloskan oleh kekasihnya dengan alasan akan mengganggu frekuensi pertemuan dengannya atau G memberi alasan bahwa tak usah ikut kegiatan jadi aktivis kampus pun nanti hidupnya bisa terjamin setamat kuliah karena akan menikah dengannya yang sudah bekerja tetap dan berpenghasilan cukup walau belum terlalu mapan.


Saat saya kasih tau Ima, bahwa G adalah bukan suaminya, baru sebatas calon suami. Belum apa-apa sudah merenggut hak yang paling hakiki seorang perempuan yang ingin maju dan punya wawasan atau bersosialisasi. Selagi janur kuning belum melengkung dirumahmu, pilihlah kekasih yang bijaksana dan bisa membuatmu jadi pribadi yang utuh sebagai perempuan. Sikap G memang tak salah sepenuhnya namun terlalu memberi jalan buntu terhadap harapan Ima. Sehingga Ima tak bisa menikmati hidup sewajarnya, terlalu banyak batas dan sabotase dari kekasihnya.


Seolah-olah hidup Ima adalah mutlak milik G dan jika saja G telah mampu menyukupi kehidupan Ima kelak, bukan hal yang mustahil G akan bertindak sewenang-wenang terhadap sepupu saya Ima.


Saya tak menyarankan Ima untuk memutuskan hubungan dengan G namun memberi pengertian bahwa dia harus membicarakan hal ini dari hati ke hati dan jika perlu, ada pihak ketiga yang menengahi permasalahan ini. Karena hubungannya bukan masa pacaran singkat jadi saya sangat mengerti kalau Ima rela bertahan dengan perlakuan G selama ini walau harus mengorbankan kebebasannya dalam bergaul atau berkegiatan diluar kuliah.


Saya menyarankan Ima, jika G tak juga berubah dalam rentang waktu setelah berbicara dari hati ke hati atau G bersikukuh menerapkan aturan sabotase terhadap Ima, ada baiknya Ima berpikir panjang dan mempertimbangkan terhadap hubungannya itu untuk jangka panjang. Karena jika sudah menikah nanti akan lebih kompleks masalahnya.

Ani Berta

/brainy

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Blogger, Accounting, Jazz and coffee lover, And also a mother who crazy in love to read and write.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?