Bumi dan Musik

13 Mei 2012 18:45:34 Dibaca :

Musik, bagi saya adalah sesuatu syarat hidup. Saya meyakini hanya 0,00001% manusia yang tidak suka mendengarkan musik. Pendapat ini pun terlintas didasari oleh adanya kebebasan berpendapat di antara setiap mahluk yang ada di dunia ini. Walau pun pendapat itu sendiri dapat mengakibatkan suatu hal buruk yang sangat besar.

Musik adalah gambaran suatu bayangan diri setiap orang. Rangkaian nada dan suasana, sering kali memecahkan pertanyaan "itu bayangan siapa?". Menunjukan arah, mengatur waktu, merubah hidup, membuktikan kenyataan, dan berbagai hal di dunia dapat terjadi karena sebuah musik. Musik bukan hanya kaitan antara liryc, nada, dan benda. Tetapi kaitan antara banyak hal yang saya sebut itu Bumi.

Bumi dan musik adalah sesuatu hal yang tidak dapat di pisahkan. Layaknya mahluk hidup dan udara. Yang selalu berdampingan sampai waktu yang tak akan kita pahami.

Postingan ini adalah tulisan saya yang perdana untuk kompasiana. saya memilih tema musik karena musik adalah hidup saya. Dan musik tidak pernah perduli apakah kita dapat memainkan, menciptakan, atau memanfaatkannya. Tidak lebih besar dari sebutir pasir dan tidak lebih kecil dari sebuah planet.

Memang saya yakini 101% pendapat setiap orang pastinya berbeda - beda. Saya hanya mencoba menelaah celah dan mencari titik pisah antara musik dan bumi dengan pengartian, kesederhanaan, atau juga dengan cara saya menjabarkan penelaahan celah titik pisah antara musik dan bumi.

Setiap langkah mengandung musik yang tanpa kita sadari dapat membawa kita sampai titik dimana akal sehat pun tak dapat mencerna. Lirikan, senyuman, gerakan, dan bahkan saat bernafaspun kita dapat merasakan kuatnya rekatan antara Bumi dan Musik. Dengan kata lain bunyian, suara, atau lantunan dari Bumi mengandung 100% nada yang tidak lain adalah bahan dasar dari sebuah musik.

Hanya ada satu tempat di alam semesta raya ini yang tidak akan memperdulikan kuatnya makna dari musik. Tempat dimana mahluk hidup di bumi ini tidak akan pernah dapat menafsirkan secara logika termasuk anda, mereka, dan juga saya memahami tempat apakah itu. Dan kembali lah kepada-Nya, seperti orang yang beragama katakan.

Akan tetapi, kita sebagai manusia tentu tidak akan pernah kehabisan pemikiran dan pencarian tempat itu sampai akhir hayat. Karena hanya kita lah ciptaan-Nya yang paling sempurna dengan memiliki seluruh hal yang ada di kehidupan alam semesta raya ini, kecuali ke Esaan-Nya dan ke Mahaan-Nya sang pencipta.

Sehingga sampai titik buntu ini, pasti kita akan menafsirkan celah pisah antara Bumi dan Musik adalah kemusnahan, kematian, dan kehampaan. Dan yang pasti Maha mengetahui hanyalah sang pencipta semesta alam. Karena akibat kesempurnaan pemikiran kita, sampai lah pada saat penenangan terahir dan terbersitlah opini pertanyaan "Tetapi setelah kemusnahan, kematian, maupun kehampaan apakah mungkin di alam yang tidak ada seorang pun tau persis gambaran tempatnya itu tetap saja masih ada MUSIK?". Dan demikianlah muncul kembali pernyataan baru mengenai Bumi dan Musik yang seakan masih ada harapan celah pisahnya.

Sampai titik ini, saya hanya bisa berkata "MUNGKIN", yang berarti mengisaratkan banyak tanda tanya besar dalam pencarian titik celah pisah antara BUMI dan MUSIK.

Kesenangan saya dengan kata "pemikir" lah yang membawa banyak keingin tahuan dalam memikirkan banyak hal yang kadang sampai pada batas tidak diketahui. Hingga banyak anggapan itu sebagai hal yang tidak berguna untuk di telaah. Tetapi tidak dapat di pungkiri, hal yang sangat tidak berguna untuk di pikirkan itu kadang adalah hal yang sangat penting. Misalkan saja hal yang jika kita pikirkan sebenarnya sepele seperti udara. Udara adalah hal yang sangat biasa karena keberadaannya yang tidak terbatas di muka bumi tetapi jika udara tidak ada atau hampa, semua isi dunia akan hilang dan ekosistem akan mati.

Begitu juga dengan musik. Tanpa musik atau nada, dunia pasti akan terasa hampa. Sedangkan udara saya dapat bersuara atau bernada.

Mungkin sampai di sini kita dapat menyimpulkan kalau celah pisah antara Bumi dan Musik itu adalah 0,00000000000001%. Kita tidak dapat menutupi kemungkinan yang ada, karena kita bukanlah sang pencipta. Dan tidak akan pernah dapat menjadi seperti-Nya. Mencoba seperti sang maha pencipta alam semesta saja sudah merupakan niat yang sangat teramat buruk. Apalagi sampai - sampai mengaku Dia itu kita. Pemikiran yang paling buruk dari yang buruk, mungkin itu ungkapan yang pantas.

Sekian tulisan perdana saya untuk kompasiana kali ini. Intinya jangan pernah halangi jika pemikiranmu ingin merjalan, tapi batasi saat sesuatu itu sudah melampaui batas kemampuan kerja otak. Karena, walau bagaimanapun sempurnanya tuhan menciptakan kita, kita tidak akan pernah bisa sesempurna Dia.

Tanpa ada maksud mengajari dan menguji, hanya kembali kepada kebebasan berpendapat. Saya ucapkan banyak terima kasih.

Sekedar coretan buah pemikiran.

Medan, 14/05/12.

Bie S

/bie90

Life just about 2 word. Yes or No.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?