HEADLINE HIGHLIGHT

4 Cara Cermat Merawat Bayi Baru Lahir

19 Mei 2012 09:49:22 Dibaca :
4 Cara Cermat Merawat Bayi Baru Lahir
dok. Pribadi BCRT

Merawat bayi baru lahir menjadi pengalaman yang sangat membahagiakan bagi orangtua baru. Peran baru sebagai seorang ibu selain menggembirakan kadang juga ada kekuatiran. Selama ibu mengikuti petunjuk perawatan bidan  atau dokter maka tidak perlu cemas. Satu hal yang perlu diperhatikan saat merawat bayi adalah hati - hati, cermat dan tidak mudah panik. Ada beberapa perhatian penting yang perlu diketahui sehubungan dengan perawatan bayi baru lahir di rumah. Kebiasaan - kebiasaan yang perlu diketahui agar dapat memberikan perawatan terbaik bagi bayi antara lain: 1. Bayi baru lahir tidak  perlu memakai gurita. Perawatan bayi dengan mengenakan gurita perlahan kini sudah mulai ditinggalkan. Penggunaan gurita pada bayi justru akan menekan bagian perut bayi dan membuat bayi kesulitan bernafas. Seandainya ibu ingin tetap mengenakan gurita sebaiknya ikatan harus  longgar. Jangan kuatir bahwa tali pusat bayi akan tergeser dan cemas bayi akan kesakitan. Pemakaian gurita yang terlalu ketat justru akan menekan lambung dan membuat bayi tidak nyaman. Selain itu bayi juga sedang masa pertumbuhan organ tubuhnya. Ibu kuatir perut bayi akan kembung? Tak perlu cemas, tidak ada bayi kembung akibat tidak menggunakan gurita sejak bayi. Pada bayi memang otot dinding perut masih belum kuat dan  sangat lentur, sehingga kadang tampak lebih besar. Seiring dengan pertumbuhan dan gerak bayi semakin aktif otot - otot  tubuh bayi akan semakin kencang dan bila sudah mulai merangkak dan berjalan  secara alami kondisi perut bayi akan lebih kencang karena  sudah ada gerakan dan aktifitas. Cara perawatan tali pusar terbaru, sebaiknya tali pusat dibiarkan terbuka tanpa dibalut kain kassa dan cukup diolesi alkohol saat di rumah sakit. Selanjutnya di rumah setiap mandi disabuni dan dibersihkan. Bagaimana jika  nanti pusarnya bodong karena tidak memakai gurita? Pusar yang baru lepas  kadang pangkalnya tampak menyembul sedikit hal yang wajar, kecuali  kondisi  hernia umbilikalis yang berat, maka perlu rujukan untuk ke dokter anak guna perawatan lebih lanjut. Perawatan tali pusar setelah lepas juga tidak perlu ditempeli uang koin untuk mencegah tidak bodong. 2. Perawatan bayi dengan bedong. Bayi baru lahir memang membutuhkan kehangatan, namun bukan dengan membungkusnya rapat - rapat dengan kain bedong. Bila ingin memberi kehangatan sebaiknya   lipatan kain jangan terlalu erat. Sangat disarankan untuk lebih sering membebaskan bayi dari bedong agar bayi dapat bergerak bebas. Merawat bayi dengan  membungkus kain bedong  menjadi kebiasaan sebagian orangtua  selain untuk kehangatan juga  karena  mereka cemas bila melihat bayinya seperti ada reflek terkejut atau dalam bahasa medis di sebut hynogogic startles. Gerakan  seperti reflek terkejut  terlihat  pada tangan dan kaki  bayi seperti kejang dan gemetar  namun hanya beberapa detik . Hal ini normal dan akan menghilang sendiri ketika bayi memasuki usia 3 bulan. Cara mengatasinya memberi kehangatan dan kenyamanan dengan memeluk , meletakkan telapak tangan ibu didada bayi dengan lembut jika terkejut karena suara keras dan  memperbaiki posisi tidurnya agar nyaman. Mungkin ibu khawatir kaki bayinya akan bengkok. Tak perlu cemas. Bayi baru lahir memang kakinya cenderung  bentuknya  agak bengkok dan menekuk. Posisi kaki  saat bayi baru lahir memang masih belum bisa lurus  sehubungan dengan posisi bayi dalam kandungan. Secara perlahan nanti posisi kaki akan normal kembali. Kecuali bila  ada kelainan  pada bentuk tulang, tentu bidan akan menginformasikan cara perawatan lebih lanjut. Perhatian pada  bayi yang panas tidak  boleh dibedong, justru akan semakin meningkatkan suhu tubuhnya, dan bayi akan sesak karena tidak bisa bernafas dengan leluasa. Ibu sebaiknya membebaskan tangan dan kaki bayi dari ikatan bedong saat menyusui agar bayi juga bisa bersentuhan dengan ibunya. Kontak fisik ini sangat penting bagi bayi. 3. Penggunaan bedak bayi. Bayi baru lahir sebaiknya tidak  perlu diberi  bedak tabur seluruh tubuh usai mandi. Resiko terhirup serbuk halus dari  bedak tabur akan  masuk paru -paru dan mengganggu pernafasan bayi. Bila memang ingin memberi bedak sebaiknya gunakan bedak padat dengan spon lembut. Cukup  usap tipis pada daerah  lipatan paha, lipatan bawah lutut,  ketiak,  dan leher. Jaga kebersihan saat bayi mandi dengan menyabuni daerah ketiak dan lipatan leher dengan cermat.  Akan lebih baik jika bayi  setiap selesai mandi kulit bayi tidak diberi bedak tabur atau talk sama sekali. Perawatan  bayi usai buang air kecil dan buang air besar  dengan menabur bedak   di pantat atau alat kelamin tidak direkomendasikan lagi. Menabur bedak justru  akan menumpuk kotoran pada daerah alat kelamin bayi dan mudah terjadi lecet atau iritasi. Pori - pori kulit   bayi masih sangat sensitif dan perlu sirkulasi udara terutama di daerah pantat dan alat kelamin yang tertutup. Setiap bayi buang air kecil atau buang air besar cukup bersihkan dengan kapas yang dibasahi air hangat dan keringkan dengan handuk  lembut. 4. Penggunaan popok yang aman. Sebaiknya perawatan bayi menggunakan popok kain yang berbahan katun lembut. Bila terpaksa mengunakan pampers  saat berpergian. sebaiknya sering diperhatikan kondisi pampers. Ganti setiap basah. Anjuran terbaik adalah gunakan popok kain dari bahan katun yang lembut. Popok kain selain ramah lingkungan juga aman untuk bayi. Bayi terhindar dari resiko alergi dan  infeksi  dan ruam popok. Salam hangat semoga bermanfaat. artikel terkait :

http://kesehatan.kompasiana.com/ibu-dan-anak/2012/03/02/7-perhatian-khusus-saat-ibu-merawat-bayi/

Selamat menjalani peran menjadi ibu baru. Bidan Romana  Tari

Bidan Care / Romana Tari

/bidancare

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Bidan Romana Tari [bidancare] Sahabat bagi perempuan dan keluarga, saling memperkaya informasi kaum perempuan dibidang kesehatan dan pengalaman sehari - hari dalam hidup,
Mari hidup sehat dan kreatif dalam hidup bersama bidancare

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?