HIGHLIGHT

Novel: Perempuan Penunggu Dermaga (Bagian 3)

17 Februari 2013 14:28:49 Dibaca :

Semenjak mendengar cerita pilu Prasasti beberapa waktu yang lalu, Bahari semakin jatuh hati kepada gadis pelayan tokonya itu. Bila senggang, Bahari selalu berusaha mendekatkan diri dengan Prasasti. Namun Prasasti menganggap perhatian Bahari, sebagai bentuk tanggungjawab seoarang bos terhadap karyawannya semata. Sore ini, setelah toko tutup Bahari mengajak Prasasti menikmati kuliner khas Sumenep di sebuah lesehan. Seperti biasa keduanya terlibat perbincangan serius.

Pada waktu yang bersamaan, di sebuah wilayah pelosok nun jauh di Timur, tepatnya di pesisir sebuah desa bernama Kamboja, senja mulai merebak memenuhi cakrawala. Tampak seorang wanita berusia sekitar 40 tahun berdiri mematung di sebuah dermaga tua. Wanita itu tetap tidak bergeming, kendatipun beberapa orang berlalu-lalang di sekitarnya. Pandangan wanita it uterus berkonsentrasi ke arah lautan lepas. Sesekali bibirnya mengidung. Wanita itu tidak lain dari Atika, ibunya Prasasti.

Gegap ombak yang menghempas tiang dermaga tua itu terus bergempita. Kadang berjeda, namun lebih sering bertalu-talu. Atika berkeluhkesah dalam gumam.

“Ya Tuhan, sudah hampir 21 tahun di setiap senja, aku selalu berada di tempat ini. Sudah tidak terhitungng berapa jumlah kapal yang telah berlabuh di dermaga tua ini. Tetapi tidak satu pun di antaranya yang berpenumpang suamiku!”

Mata Atika masih pada focus semula. Hanya berpusar ke satu sasaran. Tepat di tengah hamparan lautan di hadapannya.

“Ya Tuhan, aku tidak ingin berputusasa dalam penantian ini. Naluriku berkata, kak Jauhari masih hidup dan pasti kembali!”

Kemudian Atika mengidung lagi. Bibirnya menembangkan sebuah syair lagu lawas yang biasa ia dengar di radio, satu-satunya media elektronik yang dimilikinya. Lagu ‘aku pun ingin cinta’ dari Iis Sugianto itu dikidungkan Atika dengan segenap jiwa.

“Lautku yang biru, ceritalah padaku.
Apa kabarnya dia di seberang sana.
Bilang lekas pulang, aku mungkin tak tahan.
Jangan sampai rindu menjadi beku.”

Atika menghentikan kidungannya manakala sebuah siluet seorang gadis berambut panjang melintas di ruang angannya.

“Ya Tuhan, ini tahun ke dua, putriku Prasasti merantau ke tanah Jawa. Ketika bapaknya pamit berlayar, aku merasa kehilangan setengah dari jiwaku. Kini setelah putriku pergi, seluruh jiwa ini terasa tergerus ikut pergi. Tuhanku, kutitipkan penjagaan putriku Prasasti hanya kepada-Mu. Dan, tolong pertemukan jiwa-jiwa yang sedang berserakan ini, duhai Rabb! Aamiin!”

Atika sesenggukkan. Keharuan meremas sekujur hatinya. Atika terkenang ketika Jauhari berangkat berlayar 21 tahun yang lalu dan saat Prasasti meminta restu pergi merantau 2 tahun lalu. Keduanya berpamitan meninggalkannya di waktu yang berbeda jauh. Keduanya pun sama-sama berjanji, akan kembali membawa kebahagiaan untuknya. Senja ini, bagai dikomando, suara Jauhari dan Prasasti terngiang-ngiang. Saling berlomba-lomba menyerbu telinga nuraninya. Suara suami dan putrinya seperti memenuhi udara-udara yang melintasinya.

“”Atika, kakak harap kau menjaga janin di rahimmu. Kalau anak kita lahir perempuan, beri ia nama Prasasti. Kakak pergi tidak akan lama. Kakak akan kembali manakala senja merebak di langit pesisir Kamboja ini. Kakak harap, kau tetap menungguku setiap hari di dermaga ini, Atika. Teruslah berdoa, kakak pergi untuk kembali membawamu kebahagiaan isteriku!”

Tangis Atika meledak berbaur dengan riuh ombak yang mengerumuni pasir-pasir pantai Kamboja. Sontak suara lain kian memerihkan jiwanya.

“Ibu, aku pamit pergi bersama Surti ke Madura. Aku ingin mencari pekerjaan dan berharap ada mujizat yang bisa mempertemukanku dengan bapak, bu. Doakan aku ibu. Insyaallah aku akan kembali mempersembahkan kebahagiaan sempurna untukmu, bu. Tuhan akan menjagamu dan melindungiku, ibu!”

Atika sempoyongan. Atika terduduk. Suara-suara dari dua manusia yang paling dikasihnya saling silang dibawa angin menujunya. Terngiang-ngiang! Atika merintih!

“Ya Tuhan, bila kapal yang membawa suamiku sedang berlayar, tolong arahkan kemudinya ke dermaga ini. Ya Rabb, Yang Maha Mempertemukan! Pertemukanlah suamiku dengan putrinya, meskipun kelak aku telah meninggal dunia!”

Atika yang dikatakan sebagai perempuan penunggu dermaga itu, terus melantunkan doa-doa permohonan kepada Sang Maha Penolong, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sementara Bahari dan Prasasti yang sedang menikmati makanan khas Sumenep di lesehan masih terlibat perbincangan sangat serius.

“Okh, jadi setiap bulan selama 21 tahun, kau dan ibumu tetap menerima kiriman wesel dari seseorang yang dialamatkan ke kantor desa Kamboja? Tetapi, mengapa kau katakana nama pengirim dan alamatnya fiktif, Prasasti?”

“Mas Bahari, sewaktu aku berusia 4 tahun, ibu pernah membawaku berlayar mencari alamt bapak, sesuai yang tertera di wesel post. Tetapi, kami pulang dengan tangan hampa, sebab di rumah dengan alamat itu tidak ada laki-laki bernama Jauhari!”

Prasasti menarik napas berat sebelum melanjutkan tuturannya.

“Sejak itu, ibu tidak pernah mencari bapak. Dan, sejak itu pula si pengirim wesel tersebut tidak pernah mencantum nama Jauhari. Selanjutnya nama pengirim yang tertera di wesel hanya bertuliskan, Dari Suamimu Di Rantauan!"Bahari tak mampu menyembunyikan kekagetannya mendengar kata-kata Prasasti.

“O, ya, ke daerah manakah kau dan ibumu pernah mencari bapakmu itu, siapa tahu aku bisa membantumu, Prasasti?!”

“Untuk itulah aku berada di kota ini, mas Bahari. Alamat itu di tanah Madura ini, mas!”

“Apaaa? Bapakmu pernah berada di Madura ini? Okh, tenanglah Prasasti, aku akan membantumu, teruslah berdoa!”

Bahari menatap lekat-lekat ke wajah gadis pelayan tokonya itu. Hari ini, kekaguman dan rasa belaskasihan kepada Prasasti berbaur campur aduk. Bahari bergumam dalam hati, “oh, gadis yang malang! Ia berada di kota ini dan bekerja di toko kami, berharap bertemu bapaknya. Semoga Tuhan memberinya petunjuk!”

Di saat Bahari masih dikecamuk rasa prihatin atas nasib yang menimpa Prasasti, sebuah Nissan mewah sedang melaju di jalan raya. Seorang Pria paruh baya berpenampilan rapi duduk di samping kemudi, sedang berbincang-bincang akrab dengan si pengemudi. Pria itu adalah Tuan Yo dan Jarwo sang kurir.

“O, ya, Jarwo, aku heran dengan Bahari, akhir-akhir ini anak itu jarang pulang ke Bangkalan. Sepertinya Bahari lebih betah tinggal di ruko di Sumenep ini, ya, Wo?! Padahal ibu dan adiknya si Mutiara sangat merindukannya.”

“Bagaimana Den Bahari tidak betah tinggal di ruko, Tuan, wong karyawanya cantik-cantik! Pasti salah satu dari gadis-gadis itu telah mecuri hati Den Bahari, Tuan!”

Jarwo menjawab Tuan Yo dengan nada bercanda.

“Huusss, jaga mulutmu itu, Jarwo! Masa, putraku jatuh cinta sama pelayan tokonya? Kau ini suka mengada-ada, Wo!”

Tuan Yo diam sesaat. Kemudian dengan nada mengingatkan, Tuan Yo menatap Jarwo dari samping.
“Hai, Jarwo, kiriman itu jangan sampai telat seperti bulan lalu, ya?!

“Ba, ba, baiklah, Tuan! Kalau bulan lalu aku tidak sakit, kiriman itu tidak mungkin terlambat, Tuan!” Jarwo menjawab dengan sedikit gagap.

“Alaaah, sudahlah Jarwo, yang telah lewat usah dibahas! O, ya, sebelum ke ruko, sebaiknya kita makan dulu di lesehan serba-serbi di ujung jalan itu, ya, Jarwo?!"

Mobil Nissan milik Tuan Yo yang dikemudikan Jarwo, berhenti di areal Parkir lesehan tempat Bahari dan Prasasti berada. Setelah menutup pintu mobil, tiba-tiba Jarwo dengan sedikit berseru dan menghampiri Tuan Yo.

“Tuaan, coba lihat di sudut sana! Itu, kan, Den Bahari dengan salah satu pelayan tokonya. Betul kataku, kan, Tuan? Ayo, Tuan, kita dekati mereka!” Ajak Jarwo.

“Hai, hai, Jarwo, tunggu! Kita jangan ke sana dulu! Aku khawatir merasa tidak enak kalau melihatku. Sepertinya mereka sedang diskusi serius ya, Wo?!”

Tuan Yo, menahan langkah Jarwo yang tak sabar ingin menghampiri Bahari dan Prasasti.

“Siapa gadis itu ya, Jarwo? Aku pangling! Sebab di antara puluhan pelayan toko roti itu, paling ada satu atau dua orang yang kukenal!”

“Ya, soalnya Tuan jarang ke toko sih! Bahkan pernah hanya sekali dalam setahun, ya, kan, Tuan?!” Jarwo menjawab Tuan Yo sekenanya saja.

Bahari dan Prasasti tidak pernah tahu bahwa Tuan Yo dan Jarwo sedang memperhatikan mereka dari arah parkiran. Mereka masih asyik mengobrol.

“Hm, aku kagum dengan ibumu, Prasasti! Wanita pesisir memang tangguh! Bapakku selalu memuji karakter wanita pesisir. Bapak memintaku mencari calon isteri yang berasal dari pesisir Prasasti Menurut Bapak, wanita pesisir terkenal ulet, tangguh dan sangat setia!”

Hati Bahari diserang ribuan desir saat mata Prasasti bersiborok dengan tatapannya. Bahari menyusun kekuatan untuk menyatakan sesuatu hal yang penting kepada Prasasti. Bahari sedikit gugup!

“Untuk itulah aku mengajakmu ke mari, Prasasti! Aku, aku, aku ingin menyatakan..,”

Sebelum Bahari meyelesaikan kalimatnya itu, Prasasti memotong dengan suara bergetar!

“Mas Bahari, kekuatan yang dibangun oleh wanita pesisir, tidak jarang menjadi boomerang untuk dirinya sendiri. Bahkan ketangguhan yang ditunjukkan oleh wanita pesisir, sesungguhnya tidaklah sekokoh karang di lautan. Mungkin saja seperti tiang dermaga yang bisa lapuk oleh gelombang! Kecuali kesetiaannya yang bertahan!”

Prasasti melempar tatapannya ke luar, tak ingin berlama-lama menikmati pandangan Bahari yang serasa menelanjangi hatinya.

“Bagi wanita pesisir, kesetiaan merupakan takdir yang harus dijalani dan tidak bisa dijauhi. Ibuku contohnya. Bagi ibu, kesetiaan ibarat tiang penyanggah langit Tuhan, Mas Bahari! Ibu membayangkan dirinya sebagai bumi yang tidak akan goyah selama langit masih tegak berdiri! Tetapi, naluriku berkata lain, penantian sepanjang 21 tahun pasti membuat ibu sangat menderita, mas! Yah, ibu pasti sangat menderita!”

Mata Prasasti mulai berkaca-kaca. Bahari meraih tangannya. Lalu digenggam sekuat-kuatnya.

“Prasasti, aku mengagumi wanita sehebat ibumu dan sekuat dirimu! Dan, di sore yang indah ini, aku ingin mengutarakan sesuatu kep.., “
.

Sekonyong-konyong Bahari diam. Dengan sebuah teriakan kecil, Bahari meminta Prasasti melihat ke suatu arah.

“Oh, Prasasti, lihatlah itu mereka! Bapak?! Pak Lek Jarwo?! Kok mereka bisa berada di sini ya?!”

Selang beberapa saat kemudian. Bahari, Prasasti, Tuan Yo dan Jarwo telah duduk saling berhadapan di satu meja.

“O, ya, bapak, pak Lek Jarwo, kenalkan ini salah satu karyawan toko kita! Setelah toko tutup, kami langsung ke mari ingin menikmati makan sore di lesehan ini.”

Tuan Yo dan Jarwo memandang wajah Bahari dan Prasasti secara bergantian.

“O, ya, siapa namamu, nduk?” Tuan Yo bertanya sambil memandang paras cantik Prasasti.

“Nama saya Prasasti, Tuan!”

Praaang!  Tiba-tiba sendok yang sedang dipegang Tuan Yo, jatuh ke atas piring.

“A, a, apaa? Praa, Prasas, Prasastiii?”

Tuan Yo tersedak! Lalu seolah tersadar dari keterperanjatannya, Tuan Yo kembali memandang ke wajah Prasasti.

“Okh, ya, ya, Prasasti! Nama yang cantik! Secantik wajah pemiliknya! Namamu cantik, nduk!”

“Te, te, terima kasih, Tuan!”

kemudian, tanpa menghabiskan makanannya Tuan Yo beranjak berdiri.

“Ayo, Jarwo kita kembali ke Bangkalan. Hari sudah memasuki petang. Toh, aku sudah bertemu putraku Bahari di sini!”

Kemudian Tuan Yo memegang pundak Bahari.

“O, ya, Bahari, ibu dan adikmu sangat merindukanmu. Kalau bisa minggu depan kau pulang ke Bangkalan, ya, nak?!”

Tuan Yo melihat Prasasti dengan lembut.

“O, ya, nduk! Okh, Pra, Prasasti, kapan-kapan main ke Bangalan, ya?!”

Bahari dan Prasasti terus memandang kepergian Tuan Yo dan Jarwo, hingga mereka naik ke kendaraan. Mobil Nissan mewah itu menderu dan melaju membelah jalanan. Tuan Yo yang duduk di samping Jarwo hanya diam seribu bahasa.

“O, ya, Tuan! Gadis yang bernama Prasasti itu cantik dan lembut, ya, Tuan?!”

“He, eh!”

“Sepertinya Den Bahari sangat menyukai neng Prasasti, ya, Tuan?!”

“He, em!”

“Kenapa tadi Tuan Yo, begitu kaget saat neng Prasasti memperkenal diri? Ada apa, Tuan? Apakah, Tuan..,?”

“Hm..,?”

Walau dengan agak gugup, Jarwo terus memburu Tuan Yo dengan pertanyaan-pertanyaan. Meskipun sang Tuan hanya menjawab dengan mendehem saja.

“Mm, mak, maksudku, ke, kenapa tadi Tu, tu, tuan..,?!”

“Diaaaam Jarwoooo! Kenapa kau jadi rewel kayak balita, hah?! Coba hidupakan music! Putarkan lagu kesukaanku itu. Lagu si Panbers itu Jarwo!”

Mendengar teriakan Tuan Yo, Jarwo langsung mengkerut.

“Ba, ba, baiklah, Tuan!”

Lagu ‘Perantau’ mengalun syahdu dari CD di mobil Nissan yang disopiri Jarwo itu. Tuan Yo menikmati lagu itu sembari memejamkan mata. Tiba-tiba perasaan asing terasa merayapinya. Tuan Yo bergetar dalam gumam.

“Ya, Tuhan, mengapa dadaku serasa digodam secara bertubi-tubi? Jiwaku pun seakan sedang meregang ingin keluar dari tubuhku. Okh, sebuah kekuatan misterius seolah-olah berusaha menghelaku, tapi entah ke mana?!"

Batin Tuan Yo meronta-ronta.

“Hei, ada apa denganku ini? Hei, kenapa wajah gadis itu melintas terus di depan mataku? Okh, gadis itu! Ya, gadis itu seperti kekuatan besar yang ingin menggerusku! Tetapi ke mana?”

Tatkala Tuan Yo masih megap-megap dirajam perasaan aneh dan merasa gadis yang bernama Prasasti itu, seperti sedang menggeretnya ke sebuah tempat, pada saat yang bersamaan di tempat yang berbeda di nun jauh, Atika sedang rebah tersungkur bersujud di atas dermaga tua Kamboja. Airmata Atika seolah turut meluapkan air lautan hingga menyapu separuh badan pantai. Doa-doanya menguap ke langit menuju Arsy Tuhannya.

“Anda penasaran dengan apa yang terjadi kemudian? Jadilah bagian dari kisah ini!”

(Salam Bening Damhuji)

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?