PILIHAN HEADLINE

Subuh Sejuknya Remaja dan "Pagandeng"

18 April 2017 11:48:44 Diperbarui: 18 April 2017 20:56:30 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :
Subuh Sejuknya Remaja dan "Pagandeng"
Pagandeng

Saya sangat kagum kepada para pemburu subuh. Saat sebagian besar orang masih terlelap dalam peraduan, mereka memilih melangkahkan kaki memenuhi panggilan-Nya. Jumlah shaf-nya sangat terbatas. Maklumlah, mereka adalah orang-orang pilihan. Waktu subuh memang sangat berat dijalani, hanya sebagian orang bisa menaklukkannya.

Jika meneliti lebih dalam, para penikmat subuh berjamaah ini adalah orang-orang yang tenang hidupnya, bahagia kesehariannya, bahkan tidak berlebihan jika mereka adalah orang yang "merasa dicukupkan" kebutuhan hidupnya.

"Dua rakaat shalat sunah sebelum subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya." (HR. Muslim 725).

Wuih... luar biasa nih shalat sunah dua rakaat itu. Para penikmat subuh emang orang luar biasa. Apalagi yang mendirikan dua rakaat sebelumnya. Tertampar saya membaca beberapa tulisan tentang para pemburu subuh. Betapa luar biasanya mereka, bisa lepas dari godaan kantuk yang menyerang, dari dingin dan tarik selimut kembali.

- - - - -
Dulu, para "pagandeng" adalah julukan bagi para pedagang sayuran masih naik sepeda membawa dagangan mereka di pagi buta. Pemandangan lazim setiap subuh melihat mereka mengayuh sepeda "singking" menuju pasar pagi, menjajakan dagangan mereka. Dua keranjang terikat kuat di dua sisi sepeda berisikan barang dagangan. Mereka berangkat dari rumah saat dini hari, biasanya pukul dua atau tiga pagi. Hal ini dikarenakan jarak pasar yang lumayan jauh dari rumah.

Seorang pagandeng terlihat memarkir sepeda singking-nya di depan sebuah masjid yang terletak di pinggir jalan. Sebuah tongkat kayu diambil dari keranjang, kemudian menopang sepeda agar tetap berdiri menahan berat isi bawaan. Diambilnya sarung dan kopiah hitam lalu menuju tempat wudhu. Dia membasuh tangan, dan seluruh bagian tubuh yang wajib saat wudhu. Diikatnya sarung dengan kuat, lalu memasang kopiah hitam di kepala. Langkah kaki sigap tak ada ragu melangkah ke dalam masjid tuk mengambil shaf. Dua rakaat didirikannya, kemudian duduk berzikir sambil menunggu shalat Subuh berjamaah.

Saat telah menunaikan kewajiban terhadap pencipta-Nya, dia bersiap mengayuh sepeda melawan jalan tanjakan yang telah siap menghadang. Namun, tiba-tiba mulutnya tersenyum, wajahnya sumringah sambil mengayuh sepeda. Kayuhan terasa sangat ringan padahal tanjakan jalan nyata dilaluinya. Ternyata senyumnya muncul lantaran beberapa anak remaja membantu mendorong di sisi keranjang. Beratnya tanjakan tak lagi jadi masalah karena bantuan remaja yang baru keluar dari masjid. Setelah melewati tanjakan, suara teriakan terima kasih terdengar dari mulutnya.

Bukan hobi, tapi telah jadi kebiasaan bagi anak-anak remaja ini. Mereka bersiap membantu di sudut masjid, berbaris rapi menunggu "para mangsa" pagandeng yang kesulitan melalui jalan tanjakan. Mangsa dilahapnya dengan menyentuhkan kedua tangannya tepat pada sisi keranjang. Tenaga dalam dikeluarkannya, kedua kaki berpijak kuat ke jalan sambil berlari kecil. Semua terasa ringan karena mereka tak cuma seorang. Tak menunggu ucapan terima kasih lalu berlalu lagi, menunggu mangsa berikutnya. Kebiasaan ini dilakukan hingga mentari cukup "pede" menampakkan sinarnya menghangatkan bumi pada pagi hari. Saat pagandeng telah banyak berlalu, mereka pun melangkah pulang bersiap menuju sekolah tuk menimba ilmu. Sebuah modal bagi masa depan mereka yang masih menjadi misteri.

Hidup tak selamanya tentang diri sendiri, ada orang lain yang terkadang butuh bantuan. Atau mungkin ada saatnya kita yang butuh dibantu karena roda kehidupan berputar. Namun, jangan menyandarkan diri pada sesama manusia. Sandarkan diri hanya pada Ilahi Rabbi. Hasbunallah wani'mal wakil, ni'mal maula wani'man nasir. Barakallah. (*)

-----
Gowa, 17 April 2017
Muhammad Aliem
-----

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana