Wahai Sahabat Hatiku

05 Maret 2012 12:20:40 Dibaca :

Hatiku bertanya kepada hatimu.

Masih adakah tempat untuk kejujuran dalam rumah kita?

Tentu sudah sampai kepadamu cerita tentang kejujuran yang tiba-tiba terasa asing,

yang ditolak kehadirannya, yang dimusuhi dengan segala benci.

Aku cemas, hawa panas yang disemburkan lidah api permainan dunia membuat penghuni rumah kita kegerahan, lalu membuka pakaian memperlihatkan auratnya.

Dan mereka menari dengan irama dusta yang lagunya syair tipu daya, sembari membisikkan kalimat cinta.

Tapi cinta macam apakah yang hadir dalam hembusan dusta dan kerling tipu daya?

Hatiku bertanya kepada hatimu.

Masih ingatkah kamu tentang pelajaran kehidupan yang yang diajarkan orang-orang shalih dan shalihah yang selalu berinteraksi dengan Kitab Suci dan meneladani Nabi, yang menjadi orang tua kita, yang menjadi guru kita? Bahwa kejujuran adalah pemulia kehidupan.

Aku cemas, hasrat cinta pada dunia telah menyulap makna kebajikan seolah-olah keburukan yang menjijikkan.

Aku ngeri, dorongan rindu pada kenikmatan telah menghilangkan rasa malu. Sehingga racun disangka madu, air tuba disangka susu, rayuan nafsu disangka belaian cinta nan syahdu.

Tapi cinta macam apakah yang telah kehilangan rasa malu?

Hatiku bertanya kepada hatimu,

Darimanakah datangnya hama yang menyerang cahaya Qolbu? Sehingga berjangkit wabah tergila-gila pada yang palsu?

Aku cemas, kepribadian kita yang terpuji terkikis oleh pemandangan, oleh pendengaran, oleh pengalaman, bahwa kejujuran adalah pakaian usang yang mendekatkan kita pada kerugian, pada keterasingan, pada ketertinggalan.

Adakah tukang sihir yang telah menyebar mantera tipu daya, sehingga yang harum menjadi busuk tercium?

Siapakah yang mengajari orang-orang sederhana itu untuk menutup telinganya dari suara kejujuran? Yang memberi contoh hidup megah dengan cara yang tak semenggah?

Kalau keteladanan dalam kejujuran terhapus jejaknya dari jalan menuju masa depan, maka generasi macam apa yang kelak menulis sejarah?

Aku cemas, yang hadir kemudian adalah generasi berair mata, yang menulis sejarah air mata.

Hatiku bertanya kepada hatimu,

Masih adakah cinta dalam rumah kita?

Cinta yang bermata air, bukan yang berair mata..

(banda bening)

Banda Bening

/bandabening

derubening, putraku, memanggilku 'banda' (bapanda). maka jadilah aku 'banda bening', alias bapaknya si bening.. :)
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?