Laskar Pencerah: Kisah Aji si Arsitek Cilik Pertama Bromo

10 April 2013 16:40:49 Dibaca :
Laskar Pencerah: Kisah Aji si Arsitek Cilik Pertama Bromo
-

Setelah melewati seminar, jalan menjadi Laskar Pencerah masihlah panjang. Sebanyak 120 remaja kembali ke sekolah masing-masing dan bebas berekspresi menuangkan idenya dalam "Mading" alias Majalah Dinding. Hanya satu minggu batas pembuatan mading mereka sebelum akhirnya kami, Tim Pencerah Nusantara Tosari akan datang ke masing-masing sekolah untuk memberikan penilaian. Hasilnya, Fairuziana (psikolog)-Olivia (apoteker)-dan Feny (bidan) harus dibuat terperangah dengan mading ciptaan anak SMP dan SMA ini. Pasalnya, karya buatan mereka menunjukkan orisinalitas dan termasuk tidak kalah jika dibandingkan dengan anak kota. Bahkan mereka membuat boneka dari kotak korek api yang sebelumnya tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Jika yang membuat ini anak kota, saya tidak terlalu terkejut tapi ini anak Bromo!. Kami berkeliling ke 8 desa lagi dalam dua hari untuk menilai dan di sebuah desa yang sama sekali tidak terkoneksi dengan sinyal apalagi internet, kami menemukan kreatifitas Mading mereka. Secara grafis mungkin tidak sebaik mading lainnya namun kertas mungil berisikan tips tersebut mereka tulis sendiri. "Ini tips merawat kaos kaki siapa yang bikin?" tanya Fairuz "Saya bikin sendiri kak. Dulu waktu beli kaos kaki masih saya simpan kertas bungkusnya yang isinya tips ini" dan Fairuz hanya terdiam, tidak pernah terpikirkan bungkus kaos kaki saja sampai disimpan. "Trus ini tips merawat kuku siapa yang bikin?" "Saya sendiri kak. Saya tanya ke ibu lalu saya tulis disini" Ternyata berbagai macam ide tidak harus datang dari dunia internet atau digital lainnya. Hal sederhana dalam keseharian mereka pun dapat dimanfaatkan menjadi sebuah tulisan khusus.  Keseluruhan mading yang tersebar di setiap sekolah ini menyimpan ceritanya sendiri kepada kami. Ternyata masih ada harapan bagi negeri saya untuk berbangga bahwa dia menyimpan remaja-remaja potensial yang harus terus diarahkan jalannya. Sampai disini, saya makin menyadari betapa banyak potensi anak bangsa yang harus terkubur hanya lantaran tidak ada media bagi mereka untuk mengembangkan diri. Majalah dinding ini bukti sederhananya. Ketika kita berikan kesempatan para remaja untuk mengeluarkan ide dan kreatifitasnya ternyata mereka mampu. Dan ini tugas kita bersama untuk melihat potensi-potensi para remaja di sekitar kita.

1365302038269685727
Para Laskar Pencerah pembuat mading
1365302201932422116
Mading yang unik
1365302302913550800
Psikolog Fairuz penggagas Laskar Pencerah
13653032741646183662
Di sudut sekolah merah:Kreativitas luar biasa
13653033711519563563
Tulisan penyemangat di salah satu sudut mading
136530353597527732
Mereka tidak pernah melihat ini sebelumnya tapi mereka berhasil membuatnya
1365303611273500470
Si boneka kotak bersama rumah kotaknya
1365303761728180124
Laskar Pencerah: Karya kelas arsitek di tangan bocah SMP
1365588486894171587
Aji si cilik dengan sejuta mimpi

Hafiidhatur Rahmah

/avis

TERVERIFIKASI (BIRU)

Saya dr. Hafiidhaturrahmah namun biasa disapa Avis, lulusan FK Univ Jenderal Soedirman. Saat ini saya mengabdikan diri sebagai peneliti malaria bersama Eijkman Institute. Beberapa pelosok Indonesia menjadi tempat pengabdian saya seperti Sumba, Kalimantan, Tosari-Bromo, dan Timika-Papua. @avista_nada
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?