HIGHLIGHT

Ah, Ternyata Duda Itu Tukang PHP!

03 Mei 2013 03:32:39 Dibaca :

“Dasar PHP. Gak akan kamu dapatin perempuan lajang yang mau sama duda PHP sepertimu.” Ucapku sendiri saat pikiranku kalut.

***

Bagaikan petir di siang bolong, kenyataan yang paling menjijikkan itu pun harus kualami lagi. Situasi yang merelakanku nodai prinsip kesendirianku selama setahun belakangan ini,  hampir saja terjadi. Awalnya, ini adalah sejumput cahaya terang. Akhirnya, cahaya itu pula yang tega membunuhku lagi, membuangku kembali ke alam bawah sadarku seketika, seperti sang pendahulu yang dengan mudahnya melumat jantungku, menjadikanku seperti perempuan bodoh.

Namun kau salah, aku tak bodoh seperti perempuan lain yang kau beri harapan kosong, seperti banyak perempuan yang asyik berbalas mention di Twittermu.  Kau pikir aku telah mencintaimu? Tidak! Salah kalau kau berpikiran begitu. Seharusnya kau gunakan akalmu. Kita belum lama berkenalan, bagaimana mungkin aku bisa merelakan hatiku untukmu?

***

“Hai, apa kabarmu?” tegurmu pada akun @afniputri milikku.

“Baik.” jawabku sekenanya. Jawabanku singkat memang, sebab aku tengah membentengi diri dari kaum sebangsa Ari, si mantan yang masih memohon untuk kembali padaku.

“Kok singkat gitu jawabnya, lagi PMS ya? Follow back aku ya. Hehehe” balasnya lagi.

“Gak juga, ntar deh aku follow.” Balasku lagi sekaligus memfollownya.

***

Setelah lama saling berbalas mention, aku berpikir bahwa orangnya memang asyik diajak ngobrol. Terlebih, tanpa ragu, ia juga menceritakan persoalan pribadinya di timeline.  Nah, ini yang aku tak suka. Seperti kebiasaanku, aku tak terlalu suka segala privacy diumbbar di timeline Twitter atau wall Facebook. Lalu aku menggiringnya ke Direct Messsage dan obrolanpun kita lanjutkan di sana. Obrolan pun makin nyambung dan diakhiri dengan ia meminta nomor ponselku. Tak lama ia langsung menghubungi ponselku dan kita berbicara panjang lebar tentang rencananya ingin menikah lagi. Rencana yang mengejutkanku. Kita belum pernah bertemu, bagaimana mungkin dia membicarakan itu padaku? Memang aku tahu, dia memiliki seorang anak tapi tak etis rasanya jika harus membicarakan itu, bukan?

Semakin hari hubungan kami semakin dekat. Dia sering mengirimkan BBM kepadaku dan mementionku di twitter. Lagi-lagi aku tak suka pembicaraan pribadi diumbar di media sosial. Aku pun mengarahkannya untuk di BBM atau di DM. Dia mungkin memang suka memperlihatkan keakraban secara berlebihan di timeline, sedangkan aku? Tidak!

***

“Tolong jangan mention yang mengundang perhatian orang di timelineku. Kalau ada yang privat, DM atau BBM aja.” Terangku suatu hari saat dia menghubungi ponselku.

“Lho, kenapa gitu? Biar fans-fans twittermu tahu, kalau kamu itu milikku.” Jawabnya.

“Aku gak suka. Bagiku, media sosial ya tetaplah media sosial. Gak perlu diperlihatkan kalau dekat sama orang. Lagi pula, aku bukan milik seseorang. Aku milik khalayak kalau di Twitter. Lagian kamu itu mau dekat sama aku, apa sama twitterku sih?” jawabku panjang lebar.

“Ya kamulah, kan kamu calon ibu dari  anakku.” Jawabnya dengan tawa.

“Ya udah kalau gitu. Kita ya kita. Gak perlu di twitter. Lagian kan kita gak pacaran. Dari awal aku sudah bilang, aku masih kuliah, masih mau ngerjain skripsi. Masih mau kerja sebelum menikah.” Kataku.

“Tapi aku mau secepatnya. Gak usah kuliah lama-lama. Berapa sih kerjain satu skripsi? 5 juta? Aku transfer deh. Yang penting, selesai wisuda, kita nikah.”lanjutnya.

“Apa-apaan ini? Tiba-tiba gitu. Kalau kamu mau tahu, orang tuaku saja gak setuju kalau aku menikah dengan duda!” terpaksa kukatakan itu karena paksaannya.

“kenapa begitu?” suaranya melemah.

“Yaiyalah. Pokoknya gitu. Kalau kamu memang serius dan gak Cuma PHP sama aku, temui orang tuaku. Gampang, kan?”

“Akan kutemui.” Jawabnya lagi.

***

Hari demi hari kita lalui seperti biasa, aku di sini asyik bersama kuliah dan teman-teman komunitasku dan dia di sana dengan pekerjaannya. Dia pun tak pernah mention di twitterku lagi. “Hmm.. dengan begini, aku bisa tenang.” Pikirku suatu hari sebelum aku men-stalking TL twitternya.

Kenapa aku lakukan itu padahal aku tak mencintainya? Jelas itu harus kulakukan, sebab gelagatnya seharian ini begitu mencurigakan.

***

Aksi stalking pun dimulai, dan aku menemukan bukti yang membuatnya tak mampu berkelit ketika kutanyai. Di sana terlihat jelas bahwa dia aktif berbalas mention dengan seorang perempuan bersuami. Isinya gombalan layaknya alayer yang tak layak diungkapkan pada istri orang, apalagi diucapkan oleh pria seumuran dia. Aku yang melihatnya saja sungguh malu bercampur muak. Aku jadi berpikir, ternyata ia tak mempermasalahkan argumenku tentang mention karena ia telah menemukan santapan baru. Ia tak berpikir, bagaimana perjuanganku dalam hal melobi orang tuaku terkait dia.

***

“Ternyata selama PDKT sama aku, kamu PDKT juga sama kakak itu. Gak nyangka aku, kamu bisa melakukan hal itu. Di satu sisi kamu lembut ke aku, di sisi lain kamu nusuk aku. Ini rasanya gak enak kali, tau? Apa salahku coba? Cuma karena aku gak mau maen di TL twitter, terus kamu cari orang lain untuk bisa Tlan tiap saat sama kamu?” tulisku 3X di Direct Message Twitternya.

Setelah lama menunggu, akhirnya ia pun membalas Dmku.

“Kisah kita layu sebelum terkembang.” Sebaris kalimat yang terkesan puitis tapi nyakitin.

“Gimana mau kembang, kamunya gak bisa jaga komitmen. Kamu itu benar-benar gak tau diri ya! Aku di sini nanyain tentang kita sama mamaku, eh kamu malah asyik-asyikan di sana merayu perempuan lain.” balasku lagi.

Dia Cuma balas, “maaf”.

“Lebih baik kita gak pernah kenal.” Kataku mengakhiri.

“Baik.” Jawaban sok coolnya itu.

Jawaban yang malesi kalau kata teman-temanku di sini.

***

Aku memang belum mencintainya karena prinsipku selama ini sudah jelas, bahwa aku sedang ingin menikmati masa kesendirianku dengan memperluas networkingku dengan mengikuti beberapa komunitas dan aktif di situ demi mendapatkan banyak sahabat, mungkin salah satunya ada yang nyantol.

Jadi, jangan harapkan cinta dariku karena aku belum bisa membuka hatiku setelah Ari, si mantan. Tentang cerita kemarin, Ari pun tahu. Maka dari itu ia semakin getol mengajakku untuk kembali.

Kalau aku mau, aku masih bisa kembali bersama Ari, toh Ari setiap hari datang ke kostanku untuk membawakanku sarapan. “Ah.. Ari, setiap hari kau menyetorkan mukamu ke pintu kostku, seandainya saja...”

Namun itu tak kulakukan. Kini, aku masih trauma untuk kembali merajut cinta bersama laki-laki dan Ari tahu itu karena kesalahannya. Berulang kali Ari memohon maaf, dan maaf pun telah kuberi. Tapi, tak semudah itu. Traumaku masih terlalu berat untuk ditimbang. Aku tak butuh laki-laki yang Cuma bisa berkata manis, aku benci dikasih janji-janji palsu.

Dan untukmu si lelaki dua minggu, aku benci PHP sepertimu. Lebih baik kita tak pernah mengenal daripada hatiku harus terluka lagi hanya karena laki-laki tak bertanggung jawab sepertimu. Harapku, semoga kau dapatkan mangsa baru yang cukup pintar agar dia bisa mengimbangi kepintaranmu dalam mem-PHP perempuan.

***

PHP  = Pemberi Harapan Palsu

tentang Ari sebelumnya  :

1.http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2012/10/28/bertekuk-lutut-pada-perempuan-maya-498891.html

2. http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2013/03/13/aku-memang-orang-kampung-tapi-aku-punya-harga-diri-536452.html

***

Auda Zaschkya

/audazaschkya25071988

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Realita adalah Inspirasiku Menulis
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?