PILIHAN HEADLINE

(Catatan Tepi) Aku antara Ningrat dan Jawara

17 Juni 2017 14:49:47 Diperbarui: 18 Juni 2017 08:56:32 Dibaca : 228 Komentar : 1 Nilai : 2 Durasi Baca :
(Catatan Tepi) Aku antara Ningrat dan Jawara
Sumber gambar: www.pexels.com

Sebagian kalangan teramat peduli pada garis keturunan. Ada yang menyimpan catatan silsilah dirinya yang ditarik ke belakang hingga menemukan dirinya masih keturunan raja anu, habib Anu, abu ini, raden itu. Bahkan ada yang bersikukuh harus menikah dengan orang dari kalangannya saja agar warisan keilmuan atau kebesaran nama keluarga tidak terputus dan tetap terjaga.

Sebagai keturunan orang biasa, sedikit-banyak saya juga mencari tahu siapa sih nenek moyang saya, apa juga orang biasa? Atau justru saya ini keturunan ningrat atau ajengan yang derajatnya lebih tinggi dari beberapa kawan yang mengaku keturunan raja atau sultan.

Dalam pencarian itu, saya mendamparkan diri pada satu tempat bernama Desa Ngawur atau beberapa orang menyebutnya sebagai Desa Kentengsari. Lucu namanya, tapi betapa serius untuk mencapai ke sana. Tidak ada jembatan pada ujung jalan dan harus menyeberangi Sungai Tuntang yang airnya coklat karena bebatuan besarnya ditambang oleh beberapa kaki tangan bisnis untuk dijual ke kota.

Desa Ngawur terletak di tengah hutan jati, di sinilah konon moyang ibu saya lahir dan berasal. Turun-temurun jabatan kepala desa jatuh ke klan keluarga Ibu. Kakek buyut kakung kami seorang sinder hutan yang dengan kesaktiannya memberi jarak bagi para pencuri kayu jati untuk berhadapan langsung dengannya. Begitu juga dengan kakek kakung kami yang memiliki jabatan serupa, penguasa hutan dalam administrasi wilayah kehutanan Kedungjati.

Meskipun di tengah hutan, Desa Ngawur saat saya datang dengan Ibu boleh dibilang cukup maju. Rumah-rumah dalam bentuk fisik cukup layak. Konon desa itu kebanyakan dihuni kaum lelaki karena kebanyakan perempuan di sana mendapatkan pekerjaan sebagai tenaga kerja di Timur Tengah. Aliran uang ke kampung tampak tecermin dari kondisi desa. Kepala desa kala itu adalah sepupu Ibu bernama Pak Asrap dan dalam kunjungan pertama saya, kami menginap di rumahnya.

Suatu sore di hari pertama suara kentongan berbunyi tanda warga diminta berkumpul dan disampaikan lewat mulut ke mulut. Mbah Carik ingin semua warga berkumpul di rumahnya yang memiliki pendopo sederhana yang cukup luas.

Mbah Carik adalah sekretaris desa, juga masih kerabat keluarga dengan Ibu. Ia berumur sekitar tujuh puluhan dengan postur saat itu tampak sedang mengalami sakit. Saya bertanya kepada Ibu dan orang yang berada di sekitar kami kenapa Mbah Carik setua itu tak diganti saja mengingat sekretaris desa perlu ketelitian dalam administrasi desa. “Jabatannya melekat seumur fisiknya. Jika masih mampu, tak ada yang berani mengganti. Sudah aturan dari sananya!”

Mbah Carik yang tampak telah bungkuk keluar dari ruang tamu disambut warga yang duduk mengitar di dipan-dipan pendopo yang telah disiapkan. Baju batik biru dengan pin korpri ia kenakan. Di tangannya terselip dua benda. Pisang rebus yang masih berasap di tangan kanannya dan satu kaleng susu kental manis ada di genggaman tangan kirinya.

“Waah… Mbah carik mau kasih berkah nih, hayo siapa yang dapat? Ke aku aja ya mbah supaya sukses!” silih berganti riuh rendah warga berteriak riang menyambut Mbah Carik yang dengan kepala berambut putihnya melemparkan pandangan ke setiap sudut di mana warga-warga berkumpul. Mbah Carik tak mampu bicara lagi. Kesehatannya jauh menurun dan patut diduga ia akan berpamitan kapada semua warga sekaligus menandakan ia akan tak lama lagi menyerahkan jabatan carik ke orang yang disepakati.

Langkah lelaki tua itu gontai. Bagai pemimpin upacara yang menginspeksi pasukan, ia berkeliling pendopo tanpa sedikit pun bicara. Wajahnya polos dan senyum tersunggging di bibirnya kepada semua orang yang ia lewati. Sesekali ia berhenti di depan seorang warga memandang lama dan kemudian berlalu begitu saja. Pada saat itu, warga bersorak karena sebagian orang yang dipandangnya merasa apa yang ada di tangan Mbah Carik akan diberikan padanya.

“Hahaha… ojo gede rumongso, Mas!” riuh warga saat seorang lelaki telanjur menyodorkan tangannya ke arah Mbah Carik untuk menerima dua benda dari tangannya tetapi Mbah Carik kemudian berlalu begitu saja.

Usai berkeliling tiga kali, Mbah Carik kembali duduk pada kursi goyangnya dan berayun-ayun disaksikan warga sepuluh menit lamanya. Istri Mbah Carik menghampiri warga dan mengatakan bahwa Mbah Carik ingin selesaikan jabatannya sekaligus mau menyampaikan benda yang ada di tangannya untuk disampaikan kepada orang yang ia tunjuk.

“Akan banyak berkah dan keberuntungan bagi yang menerima!” ujarnya.

“Kenapa mesti pisang dan susu kental manis?” tanya seorang warga

“Konon dia pernah bilang dua benda itu adalah lambang keseimbangan, keseimbangan isi dunia.”

Begitulah filosofi sederhana Mbah Carik yang terlahir dari tengah hutan di Desa Ngawur. Desa ini konon dinamakan Ngawur karena seorang bangsawan dari Kerajaan Demak bernama Raden Bagus Suradi harus tersingkir karena konflik politik kerajaan. Dalam pelariannya ia tersesat ke tengah hutan jati dan tak mampu keluar dari hutan karena berbentuk sama di semua sudutnya. Hingga ia bertemu seorang sakti yang menguasai daerah hutan itu yang bernama Sawung Joyo. Kedua orang sakti ini bertempur hingga tak ada yang kalah maupun menang sehingga mereka sepakat untuk membuat perdamaian dan membangun permukiman di hutan tempat mereka bertempur sekaligus menetapkan bahwa anak keturunan mereka akan memimpin desa itu. Mulai saat itu, desa tempat mereka bersepakat dinamakan Ngawur karena bangsawan Kerajaan Demak itu merasa arah yang ada di hutan itu ngawur. Mereka beranak-pinak hingga sekarang.

Sepuluh menit terlewat, Mbah Carik tiba-tiba bangkit dari kursi goyangnya. Ia perlahan berkeliling dan memejamkan mata di tengah pendopo. Setelah itu, pandangannya memutari pendopo dan menumbuk tempat di mana Ibu duduk. Ia melangkah pelan dan semua mata tertuju kepadanya. Ibu mencoba berdiri bersiap menerima, tetapi Mbah Carik memberi tanda untuk tetap duduk. Semakin dekat kepada Ibu Mbah Carik tersenyum lalu ia meminta Ibu menyingkir dan langkah Mbah Carik menuju kepada saya. Mbah Carik memeluk dan memberikan dua benda itu ke tangan saya tanpa berkata apa-apa. Pendopo bersorak, mereka tak mengenal saya. Orang yang baru datang belum genap sehari telah menerima lambang keseimbangan hidup.

“Bejone anakmu mi!” satu per satu mereka menyalami Ibu dan saya, lalu Mbah Carik tampak kembali tertidur di kursi goyangnya dalam wajah yang puas dan damai.

Sebulan setelah kunjungan kami, Mbah Carik berpulang. Pisang rebus telah saya makan saat masih berada di Desa Ngawur atas saran beberapa orang, termasuk Ibu. Satu kaleng susu kental manis masih saya simpan di sudut kamar.

Sayangnya, sebelum berpulangnya, Mbah Carik saya belum sempat bertanya kepadanya apakah saya ini keturunan Raden Bagus Suradi dari Kerajaan Demak atau Keturunan Sawung joyo jawara penguasa hutan yang sakti mandraguna.

Dalam adukan susu kental manis yang menggenapkan keseimbangan hidup warisan Mbah Carik, saya mencoba menemukan apa pentingnya mencari pengakuan saya ini keturunan bangsawan Kerajaan Demak atau justru keturunan jawara sakti mandraguna.

Susu putih itu seperti menasihati: manis dan pahit hidupmu itu tak ditentukan apa dan dari mana asal-usulmu. Ia akan berasa manis bila engkau mampu menyeimbangkan kehidupan, dan akan berasa pahit jika keseimbangan hidup engkau abaikan.

“Ketahulah setiap Nabi dan Rasul hingga Muhammad, didatangkan oleh Allah SWT untuk memperbaiki akhlak dan keimanan bukan memperbaiki keturunan seseorang” - AN

-From the desk of Raden Bagus Suradi Sawung Joyo- (ORA PENTING)

Aryadi Noersaid

/aryadinoersaid

TERVERIFIKASI

Lelaki yang bercita-cita menginspirasi dunia dengan tulisan sederhana.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.
LABEL humaniora

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana