HIGHLIGHT

Sang Penantang Rektor Itu Telah Tiada

17 Juni 2012 04:11:51 Dibaca :
Sang Penantang Rektor Itu Telah Tiada
Mendiang Prof.Achmad Ali, SH, MH (Antara)

"Papa, Prof. Achmad Ali meninggal dunia", ucap istri saya. Saya terdiam, seolah tak percaya. Lunglai terasa tulang ini, guru besar itu  -setelah saya membaca running text di CELEBES TV, Makassar- benar-benar telah pergi. Eks penjual buku jalanan itu telah menghadap Sang Khalik. Wafatnya mantan Dekan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, dua periode itu, melinangkan air mata saya.

Terbata-bata saya menuliskan artikel ini di Kompasiana, betapa tidak, professor itu pernah saya bonceng motor menuju kampus, saat itu ia menjabat Dekan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Pria bertubuh kurus dan penyorot "Istana Dalam Penjara", hembuskan nafas terakhirnya tadi pagi di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin.

* * *

Ia yang 'hyper active' menyorot dan mengkritisi kebijakan rektor Universitas Hasanuddin, sejak era Prof.Dr.Ir. Fachruddin, Prof. Dr. Basri Hasanuddin (mantan Menko Kesra), Prof. Dr. Ir. Rady A. Gani sampai Prof.Dr. dr. Idrus Paturusi. Teriakan paling keras saat beliau sangat menolak pendekatan kepolisian di kampus. Ialah yang ngotot melarang polisi masuk kampus, saat demonstrasi mahasiswa berlangsung. "Polisi masuk kampus adalah kebijakan putus asa rektorat. Rektor gagal mendekati mahasiswa, anak-anaknya", ucapnya yang membuat rektor terdiam.

Tat kala Prof. Basri Hasanuddin menjabat rektor, Achmad Ali dengan lantang memprotes kebijakan sang rektor yang bernuansa nepotisme. Fakta saat itu, tak sedikit yang se-etnik dan sekampung dengan Prof.Basri Hasanuddin memegang jabatan strategis. Entah kebetulan atau tidak, Achmad Ali wajar menyorotinya.

13399263051888099691
Almarhum (pakai kacamata) selaku dewan guru nasional Karate do Gojukai Indonesia Kyoshi Shihan Prof Ahmad Ali (Foto: Nyimas Sundari Wulandari)

Mantan Pimred Surat Kabar Kampus "SKK: Identitas" itu tiada pernah surut meluapkan 'pembangkangan' terhadap birokrasi Universitas Hasanuddin. Namun, nama beliau sempat 'tercemar' ketika dituding terlibat kasus korupsi beasiswa Program Pascasarjana, 2007 silam. Khalayak menilai, langkah penyudutan Achmad Ali merupakan upaya penjegalan terhadap pencalonannya sebagai Jaksa Agung RI, kala itu. Beliau ditantang mantan mahasiswanya, penyidik kasusnya saat itu, beliau malah berucap: "Saya sukses mendidik, muridku menjadi penyidik. Dan yang disidik adalah saya, gurunya. Alhamdulillah"

* * *

Apapun itu, kepergian kolumnis dan penulis kritik sosial, hukum dan birokrasi itu telah pergi meninggalkanku, meninggalkan seluruh civitas academica Universitas Hasanuddin, handai tolan dan sanak keluarga.

Pria turunan Arab itu telah menggoreskan pena, itulah 'warisan' beliau kepada kita semua. Tak akan kunikmati lagi tulisan-tulisan beliau di media sebesar KOMPAS, TEMPO, REPUBLIKA dan seabrek media nasional lainnya. Kumpulan artikel beliau yang telah saya dokumentasikan, pulalah berakhir seiring kepergiannya 'tuk selamanya. Kolumnis: "1001 Masalah Hukum" di Harian Fajar itu, berpulang. Pengagum Baharuddin Lopa dan penyuka olahraga bela diri ini, akan dimakamkan di "Pemakaman Dosen Unhas", usai sholat ashar, hari ini.

Inna Lillah....!!! Selamat jalan Prof. Pusaramu telah siap di sana, cepat atau merambat, sayapun akan menyusulmu di alam sana. Berbaringlah Sang Pendekar Hukum Universitas Hasanuddin. Terima kasih Prof atas cara menulis yang telah engkau ajarkan padaku. Kan kuingat pesanmu: "Jangko jadikan menulis sebagai pekerjaan. Jadikanko menulis sebagai jiwamu".

Muhammad Armand

/arsyadrahman

TERVERIFIKASI (BIRU)

Universitas Sultan Hasanuddin Makassar-Sulsel-Mandar-Sunni
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?