Serupa Langit Memayungi Bumi

30 Juli 2012 16:23:35 Dibaca :

-

Siang dan malam saling menggenapi. Demikian juga, kegembiraan akan menjadi genap dengan hadirnya kesedihan. Biarlah, berlinanglah berlinang, biarkan linangan menghanyutkan kesedihan. Biarlah, berlinanglah berlinang, biarkan linangan menyarikan kegembiraan yang utuh.

Endapkan endap, biarkan kesedihan mengendap, berpikir ulang tentang hal-hal, patutkah hal-hal demikian menjadi sebab kesedihan. Berhentilah merisaukan kesedihan-kesedihan kecil. Pikirkan kesedihan-kesedihan besar. Endapkan endap, biarkan kegembiraan mengendap, berpikir ulang tentang hal-hal, patutkah hal-hal demikian menjadi sebab kegembiraan. Berhentilah menawan diri dengan kegembiraan-kegembiraan kecil. Pikirkan kegembiraan-kegembiraan besar.

Niat, mengingat kembali niat ketika kesedihan menyapa, ketika kegembiraan menyergap. Mengapa masih berkutat di antara sedih dan gembira. Bagaimana kalau berusaha melampaui kesedihan dan kegembiraan saja.

Ikhlas bukan tentang menerima kesedihan saja, ikhlas juga tentang bagaimana menerima kegembiraan. Kesedihan dan kegembiraan yang diikhlasi serupa langit yang memayungi bumi.

Nanti akan terlihat olehmu ketika kamu menengadahkan wajah ke langit. Lihat, langit itu memayungi seisi bumi, semuanya ia payungi. Semuanya. Tanpa kecuali.

-

Arimbi Bimoseno

/arimbibimoseno

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Author: Karma Cepat Datangnya | LOVE FOR LIFE - Menulis dengan Bahasa Kalbu untuk Relaksasi | Website:http://arimbibimoseno.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?