Pikiran yang Serupa Sepatu

02 Agustus 2012 22:12:58 Dibaca :

-



Jumawa itu seperti menginjak kepala orang lain agar diri sendiri terlihat tinggi. Menjelekkan pihak lain di luar diri agar diri sendiri tampak baik. Mengumpat pihak lain di luar diri agar diri sendiri tampak hebat. Mencela pihak lain di luar diri agar diri sendiri tampak terpuji.  Merendahkan pihak lain di luar diri agar diri sendiri tampak tinggi. Menghina pihak lain di luar diri agar diri sendiri tampak mulia.

Ujung dari sikap jumawa adalah pemberhalaan ego, menganggap diri sendiri sebagai pusat nilai, diri sendiri sebagai pusat kebaikan, diri sendiri sebagai pusat kehebatan, diri sendiri sebagai pusat keterpujian, diri sendiri sebagai pusat ketinggian, diri sendiri sebagai pusat kemuliaan. Meminta dunia mendengarkannya, namun diri sendiri enggan mendengarkan dunia.

Manusia yang meletakkan ego terlalu tinggi yang kemudian disebut jumawa (dalam istilah bahasa Jawa), ironisnya justru menggiring diri sendiri ke kedudukan yang paling rendah, sebab hatinya yang terlalu tinggi itu menjadi tertutup, sulit menerima pandangan lain yang berbeda dari dirinya, ia mengukur segala sesuatu di luar dirinya dengan ukurannya sendiri.

Apabila pandangan lain di luar diri itu berbeda dari dirinya, ia mengambil kesimpulan secara tergesa-gesa, terburu-buru, gegabah. Matanya dibatasi oleh terbatasnya pengetahuannya, telinganya dibatasi oleh terbatasnya pendengarannya. Pikirannya menjadi serupa sepatu, kalau kakinya kebesaran harus dipotong, kalau kakinya kekecilan harus diganjal. Apa yang belum pernah didengarnya dianggap tidak ada. Apa yang di luar pengetahuannya dianggap salah.

Tinggi hati atau jumawa merupakan sikap buruk, bahkan seburuk-buruknya sikap buruk, serendah-rendahnya manusia rendah, sebab ia mengunci diri dari hal-hal baru yang bisa jadi akan membawa kebaikan bagi dirinya sendiri. Jumawa merupakan penyakit hati yang kronis, hanya setelah diri menyadarinya, diri ini akan tergerak mencari obat untuk menyembuhkannya. Jumawa itu sama dengan berhenti belajar. Berhenti belajar artinya berhenti menjadi pemimpin (setiap orang adalah pemimpin bagi dirinya sendiri).

-

Arimbi Bimoseno

/arimbibimoseno

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Author: Karma Cepat Datangnya | LOVE FOR LIFE - Menulis dengan Bahasa Kalbu untuk Relaksasi | Website:http://arimbibimoseno.com
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?