Kotak Suara

Inikah Empat Alasan Ahok Bisa Juara Putaran Pertama?

4 Maret 2017   13:48 Diperbarui: 4 Maret 2017   14:00 412 2 4
Inikah Empat Alasan Ahok Bisa Juara Putaran Pertama?
sampul depan majalah TEMPO


Banyak yang heran kenapa Ahok masih saja menjadi juara sementara dalam Pilkada DKI Jakarta, padahal dia telah secara terang menerang melakukan tindakan yang menyakiti banyak orang. Bahkan dia juga telah didemo jutaan orang, tapi dia masih saja lolos ke putaran kedua.

Bagi yang mengikuti perjalanan dari awal Pilkada DKI Jakarta bisa menemukan benang merah, apa saja alasan kenapa Ahok tetap mampu lolos dari desakan dalam proses hukum. Setidaknya ada kemungkinan empat alasan, pertama Ahok mendapat dukungan dari kekuasaan, kedua mendapatkan dukungan dari pemilik modal, ketiga mendapatkan dukungan dari penengak hukum dan terakhir media.

Pertama, dukungan dari kekuasaan kepada Ahok sangat jelas terlihat, sebut saja bagaimana Ahok tidak diberhentikan meski statusnya sudah menjadi terdakwa. Dukungan kekuasaan juga terlihat bagaimana beberapa kali mereka mencoba mengaburkan titik persoalan, saat Ahok menjadi penyebab kebencian dijadikan korban dari ketidakbhinnekaan. Lihat saja bagaimana aksi Kebhinnekaan dibuat saat aksi menolak Ahok bermunculan. Lalu, bagaimana salah seorang Menko datang malam-malam menemui KH Ma'ruf Amin hanya untuk meminta maaf untuk Ahok.

Dengan adanya dukungan dari kekuasaan, Ahok seperti mendapatkan jaminan untuk tidak akan dilengserkan dengan menggunakan berbagai alasan meski melabrak UU yang telah ada. Dengan nyata kekuasaan mempertontonkan keberpihakan mereka, dan menyebarkan bahwa keadilan hanya untuk kalangan terbatas. Begitu juga dengan pemberian grasi kepada salah seorang narapidana yang sangat kental unsur politisnya.

Kedua, dukungan dari pemilik modal. Dukungan ini sangat jelas jika dilihat dari beberapa video yang beredar tentang dukungan para pengembang dan perjalanan dari pulau reklamasi di pantai utara Jakarta. Tidak tertutup kemungkinan dengan kekuatan uang yang tidak terbatas Ahok bisa membeli suara, dan kemungkinan itu sangat kuat karena dari beberapa TPS di Jakarta ada yang suara untuk kandidat nomor 1 dan 3 mendapat suara nol. Tersiar kabar kalau satu suara dihargai 500-1 juta.

Dengan kekuatan uang yang dimiliki, Ahok yang dalam kondisi terjepit bisa memberikan penawaran instans kepada pemilih untuk mendapatkan sejumlah uang. Dengan kondisi perekonomian yang masih serba kekurangan, tentu masyarakat banyak yang mengambil uang tersebut. Walau mereka belum tentu benar-benar akan mendukung.

Ketiga, dukungan penegak hukum. Meski penegak hukum telah membantah, tetapi dugaan keberpihakan penegak hukum terutama polisi kepada Ahok sangat terlihat. Pertama polisi telat mengusut kasus Ahok, kedua polisi mempertakut orang yang akan melakukan demo, ketiga polisi mengusut kasus orang kontra Ahok yang sebenarnya masih lemah bukti dan dipaksakan.

Polisi telah menangkap orang yang diduga menghalangi kampanye Djarot, tapi polisi tidak menangkap Iwan Bopeng yang secara terang-terangan mengintervensi petugas TPS. Lalu polisi menangkap orang yang diduga mengeroyok pendukung Ahok, tapi polisi tidak menangkap relawan Ahok yang mengeroyok tukang parkir didekat kantor PDI P. Dan terakhir polisi mengatakan sudah ada pertemuan Iwan Bopeng dengan Pangdam, itupun dibantah oleh pihak Kodam. Ini terlihat polisi seperti kuasa hukum Ahok dan tim.

Sedangkan terkait dengan penanganan kasus, polisi seperti memaksakan kasus dugaan korupsi yang menyeret nama Cawagub nomor urut 1 Sylviana Murni. Dulu polisi begitu ngotot ingin mengusut secara tuntas, tapi setelah pasangan itu kalah diputaran pertama polisi juga mengendor. Polisi seakan ingin membuat posisi kandidat pesaing Ahok dalam posisi sama, terjerat kasus hukum.

Keempat, dukungan dari media. Hal ini yang sangat memalukan, wadah yang seharusnya menjadi pilar penyampai informasi independen malah menjadi alat untuk menghancurkan lawan-lawan Ahok. Dukungan media kepada Ahok tidak terlepas dari kedekatan pemilik dengan Ahok, ataupun karena faktor kepemilikan media yang dikuasai partai politik.

Lihat saja bagaimana frekuensi milik publik dimanfaatkan untuk menghabisi lawan-lawan politik Ahok, meski telah berulangkali diusir dan terbukti menyebar berita hoax, mereka tetap saja bersikukuh dan beranggapan mereka paling benar.

Beberapa media memang dimiliki oleh orang politik dan para taipan pendukung Ahok. Mereka seakan tidak memperdulikan lagi aturan yang ada, bagi mereka kemenangan Ahok adalah hal utama. Beberapa jurnalis dimedia tersebut pernah mengeluh, karena mereka sekarang malu mengatakan kalau mereka bagian dari media tersebut.

Kalau alasannya Ahok menang karena kinerja, dengan banjir besar yang melanda Jakarta menjadi jawaban kalau bualan Ahok tentang bebas banjir tidak terbukti. Kemacetan yang dulu dianggap bisa diatasi malah belum ada perbaikan, jika taman menjadi pedoman maka pihak ketiga yang harus mendapatkan apresiasi. Kemiskinan masih tinggi, kesenjangan makin melebar dan angka kejahatan tetap terbesar. Yang ada ucapan Ahok membuat perempuan Jakarta menangis.