HIGHLIGHT

Menjadi Qana'ah, Bisakah?

12 Agustus 2012 20:45:40 Dibaca :

Beberapa hari terakhir, setiap ceramah bertema sama, yaitu berlomba-lomba mengejar percik rahmat lailatul qadar. Seperti biasanya, tak satu pun ustadz berani memastikan kapan tepatnya malam itu datang. Yang dapat diketahui hanyalah tanda-tandanya saja.


Diceritakan bahwa, yang dapat merasakan tanda-tanda kehadiran lailatul qadar, hanyalah masing-masing diri. Tanda-tanda itu antara lain bahwa, dalam hati yang dipercik, ia merasakan ada keteduhan, ada ketenangan, ada kesejukan, ada kesyahduan dan kedamaian yang tidak biasa. Di situlah, letak malam yang didamba-damba, katanya. Keadaan hati yang seperti itu sanggup menjangkau dan melingkupi seluruh keadaan dalam rumah tinggal yang sedang dihuninya.


Tadi malam, saya duduk di teras hingga larut. Sayup halus terdengar suara para pecinta Tuhan sedang melantunkan "tadarusan".



Ramadhan. Memang cuma ia, yang sanggup menemani saya mengejar ketinggalan-ketinggalan dalam pembelajaran. Sebab hanya dalam heningnya, saya dibuat menjadi mengerti, apa yang belum tuntas saya mengerti sebelum kehadirannya.

Masih duduk di kursi rotan, diam melamun dalam perjalanan menulis buku ke sembilan, "Menjadi Cantik di MataNya". Dalam gelap, mata saya mencoba memandang menjulangnya tumbuhan bambu Jakarta, juga gelantungan buah mangga golek depan rumah yang masih berproses menuju masak. Telinga saya, bisa masih konsentrasi mendengar puji-pujian dari dalam masjid Bukit Palma sana, meski sesekali dikacaukan gaduh suara sepasang anak musang peliharaan anak saya.


Tiba-tiba saja saya ingat nama salah seorang guru, di SD tempat sekolah anak saya dulu. Perempuan sederhana berwajah cantik itu bernama Qona'ah. Entah mengapa, kata qona'ah ini baru secara serius ingin saya cari maknanya, ramadhan tahun ini.



Qana'ah...qana'ah...qana'ah..

Saya berusaha terus meluaskan bacaan. Saya senantiasa yakin bahwa, yang menarik hati saya pastilah sesuatu yang indah dan bermakna. Itulah sebabnya saya "mengejarnya".



Lumayan, ada beberapa buku yang membahas tentang qana'ah dalam pustaka kecil saya. Namun satu yang merangkum semuanya adalah Hidup Bahagia Cara Sufi, buku cantik bersampul hijau tosca, ditulis oleh Sudirman Teba.

"Qana'ah. Ia berasal dari kata "qani'ah", yang berarti merasa puas, rela atas bagiannya, dan tunduk.



Qana'ah adalah kekayaan yang sebenarnya. Sebab kekayaan yang sebenarnya bukanlah harta yang melimpah, namun kekayaan jiwa. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah, yang bunyinya;"Bukanlah kekayaan itu lantaran banyak harta. Kekayaan itu adalah kekayaan jiwa".

Qona'ah itu sikap puas terhadap apa yang ada,  tidak loba atau rakus dan tidak meminta terus menerus. Kalau masih meminta, berarti ia masih miskin. Yang qana'ah, ia memagar hartanya sekedar apa yang ada dalam genggamannya dan pikirannya tidak menjalar pada yang lain. Apalagi yang lain itu haram dan syubhat.


Untuk itu Hamka pernah menulis,



"Barang siapa yang telah beroleh rejeki dan telah mendapat yang akan dimakan, sesuap pagi dan sesuap petang, hendaklah ia tenangkan hati, jangan merasa ragu dan sepi. Tidak dilarang bekerja mencari penghasilan, tidak disuruh berpangku tangan dan malas lantaran harta telah ada. Yang demikian bukan qana'ah, tapi yang demikian adalah kemalasan. Bekerjalah...Karena manusia dikirim ke dunia untuk bekerja, tetapi tenangkan senantiasa hati. Yakinlah bahwa dalam pekerjaan itu ada kalah dan menang. Jadi bekerjalah bukan lantaran karena harta yang ada belum mencukupi, tapi bekerjalah lantaran orang hidup tidak boleh menganggur."

Para ulama berpendapat tentang qana'ah secara saling melengkapi. Qana'ah ibarat raja yang tidak mau bertempat tinggal, kecuali di hati orang yang beriman.


Qana'ah adalah jiwa yang rela atas pembagian rejeki yang telah ditentukan.



Kemuliaan dan kekayaan akan berkeliling mencari teman. Apabila mereka telah menemukan qana'ah, maka di situ mereka akan menetap. Dengan demikian, bagi yang mendamba kemuliaan, jadikan dirimu qana'ah.

Seorang ulama pernah ditanya,"Siapa orang yang paling qona'ah? Dia menjawab, "Orang yang selalu memberi pertolongan, meskipun kekayaannya sedikit". 


Usai menuntaskan bacaan. Saya mendapat gambaran, betapa cantiknya perempuan yang mampu seperti itu. Mampu membangun dirinya dengan keagungan sifat qana'ah. Ia pasti tampak begitu cantik di mataNya. Maka, satu lagi definisi cantik telah saya temukan.Yang cantik, ia yang memiliki sifat qana'ah.


Terima kasih telah membaca. Terima kasih Allah SWT. Terima kasih Sudirman Teba. Terima kasih kepada seluruh sifat baik dan juga beberapa sifat yang tidak baik, yang telah menginspirasi tulisan ini.




Salam bahagia dan terus berkarya!

Aridha Prassetya

/aridhaprassetya

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pemerhati Masalah Ketidakbahagiaan
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?