Gadis Tolotang Dipersimpang Jalan Amparita

15 Mei 2013 05:03:14 Dibaca :

Gadis itu telah berdiri mengosongkan pandangannya cukup lama. Wajahnya terlihat mendung, semendung awan yang tampak sebentar lagi akan menumpahkan banyak air. Di persimpangan jalan itu, ia berdiri menyimpan harap akan sebuah janji tiga tahun silam pada seorang lelaki. Sebuah harap pada lontaran kalimat cinta yang pernah mendengung di telinganya dan ia simpan rapi dalam memori kepalanya. Hari ini ia masih menunggu lelaki itu datang dan memenuhi janjinya. Namun hingga hari ketujuh tak ada tanda-tanda sosok lelaki itu akan datang.

Tetesan air dari langit perlahan jatuh dan menebarkan aroma debu dari aspal jalan yang tadinya kering. Aroma debu itupun membuat memori gadis itu berputar mengenang masa lalunya pada sesosok lelaki. Tepat di persimpang jalan, ia berusaha merasakan jiwa lelaki itu datang menghampirinya, memeluknya dan mencium keningnya.

“Benar kan. Saya bisa menunggumu hingga kapan pun itu?” Ucap gadis itu pada sesosok lelaki yang memeluknya.

Hujan kian menderas. Tubuh gadis itu pun mulai basah dan berhasil menyembunyikan air matanya. Aspal jalan yang tadinya menebar aroma khas debu pun telah hilang terbawa alir air ke irigasi sawah. Gadis itu masih merasakan kehangatan pada lelaki yang dirindukannya selama ini.

“Coba jelaskan padaku, mengapa kamu baru datang sekarang?” tanya Gadis itu..

Dari sudut jauh, beberapa warga menyorot gadis itu. Tingkahnya yang aneh, berdiri mematung di saat senja tiba beberapa hari terakhir ini membuat warga menjadikannya bahan pembicaraan yang hangat. Bahkan warga telah memvonisnya sebagai gadis yang tidak waras, tersenyum, menangis dan kadang berbicara sendiri.

“Ayo jawab! Jangan diam saja!!” desaknya diringi tangis yang menyesakkan dadanya.

Tanpa disadarinya, warga Kelurahan Amparita tempat gadis itu bermukim telah mengerumuninya, lalu segera menyeretnya dengan paksa pulang ke rumahnya. Tanpa perlawanan gadis itu pun pasrah.

“Sartika!! Ee, Lisuno Lao Bolamu!

ΩΩΩ

Ketika senja menjelang, Sartika berdiri mematung di persimpangan jalan Amparita. Hampir sebulan ia melakukan hal itu dan berulang kali pula warga menyeretnya pulang. Orangtua Sartika pun tidak bisa berbuat apa-apa, karena meskipun ia telah melarangnya, Sartika tetap saja berontak dan selalu diseret tanpa perlawanan oleh warga. Kini warga tidak lagi mempermasalahkan tingkah laku Sartika yang aneh itu setelah bosan memperingatinya dan terus dilakukannya setiap hari.

Pun Sartika kini telah menjadi pusat perhatiandi Kelurahan Amparita. Di saat senja tiba, warga selalu menemui seorang gadis berdiri mematung tepat di depan patung Pahlawan Nasional Andi Bau Massepe, tanpa sedikitpun sapa atau senyum yang dilontarkan padanya. Tak peduli pada mereka, namun bagi Sartika ada kebahagiaan yang diraihnya berdiri di persimpang jalan itu. Kebahagiaan akan harapan datangnya seorang lelaki yang pernah melontarkan kalimat janji untuk mempersuntingnya.

Lelaki itu adalah seorang mahasiswa yang menyinggahi kelurahannya selama dua bulan dalam rangka program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sartika mengenalnya dengan nama Zulkifli, seorang muslim yang taat beribadah. Kifli, begitu ia memperkenalkan namanya pada Sartika ketika mereka berdua kali pertama bertemu di pasar sentral Amparita. Sebagai seorang Towani Tolotang yang memiliki kepercayaan berbeda dengan Kifli, sosok Kifli sangat lain dari lelaki muslim yang pernah ia kenal. Sejak pertemuannya, Kifli memperlakukan Sartika dengan baik tanpa mendiskriminasi dirinya sebagai kaum minoritas. Kifli begitu menghargai kepercayaan Sartika sebagai penganut ajaran Dewata SeuwaE yang diwariskan oleh leluhurnya secara turun temurun.

“Saya dan kamu sama-sama manusia yang diciptakan oleh Tuhan. Hanya saja letak perbedaan kita hanya pada deskripsi Tuhan yang memiliki tafsir masing-masing.” Ucapnya kala itu, saat matanya memandang Sartika cukup tajam.

Entah mengapa, karena sikap Kifli yang menghargainya, Sartika merasakan benih-benih cinta itu tumbuh dalam hartinya. Dan mulai berakar kokoh ketika Kifli berani melontarkan kalimat cinta di Pegunungan Nepo, tidak jauh dari sekolah Sartika di SMU Negeri 1 Tellu Limpoe, Sidrap. Diapit oleh Gunung Nepo dan Danau Sidenreng, di sanalah janji itu terlontar dari lidah Kifli.

“Tiga tahun kemudian, saya akan datang kembali ke Amparita membuktikan semua kata-kataku.” ucapnya yakin sambil mengusap rambut Sartika yang terurai panjang.

Beberapa tetes air mata Sartika pun berlinang ketika ia mengingat kembali janji itu. Janji yang kini membuatnya menunggu di Persimpang Jalan Amparita akan datangnya Kifli kembali.

ΩΩΩ

Sosok Kifli telah membuat Sartika larut begitu dalam hingga memburamkan kodratnya sebagai seorang Towani Tolotang. Sartika baru tersadar, setelah ratusan nasihat menumpuk di kepalanya, bahwa tidak mungkin Kifli yang seorang muslim akan benar-benar mempersuntingnya. Orangtuanya juga pasti akan menentangnya dengan keras. Namun kalau pun itu terjadi, Sartika harus rela dikeluarkan dalam silsilah keluarga hingga terkucilkan dan terusir.

Kini Sartika tak lagi menunggu Kifli yang tak kunjung datang, setelah setahun lamanya berdiri di persimpangan jalan itu. Meskipun Sartika mengakui harap dan cinta itu masih ada, akan tetapi hal itu hanya mampu ia simpan di kotak pandora hatinya yang paling dalam. Sartika akui, hal itu mustahil akan ia raih kembali, sebab minggu depan telah ditetapkan menjadi hari pernikahannya pada seorang lelaki pilihan orangtuanya yang berasal dari Kecamatan Pitu Riase, yang juga penganut Towani Tolotang.

Sore ini, jelang senja Sartika datang di Persimpang Jalan Amparita mengubur semua harap dan cintanya pada seorang mahasiswa bernama Kifli. Sartika telah menganggap Kifli telah mendustainya, membiarkannya menunggu lama, tersiksa dalam rindu dan harapan meraih cinta. Air matanya pun berlinang, menyisakan sakit yang mendalam. Nama Kifli pun telah ia geser oleh seorang lelaki bernama Mutang yang kini telah menjadi suaminya yang sah.

Para tamu mulai berdatangan memberikan selamat kepada Sartika yang baru melangsungkan pernikahan. Seorang tamu mengenakan jas hitam turun dari sebuah Toyota Corona bersama orangtuanya dengan wajah cemas. Dari raut wajahnya, ada tanya yang tersimpan dalam benaknya setelah memperhatikan dengan seksama rumah Sartika dihiasi ornamen-ornamen pernikahan. Sartika menyeret pandangannya keluar, memastikan tamu yang datang mengunjunginya. Jantungnya seakan mendadak berhenti berdetak setelah melihat salah satu tamunya yang datang. Sartika lalu cepat ke beranda rumahnya yang berada di lantai dua dan menyorot pandangannya pada seorang lelaki yang berada tepat di depan pagar rumahnya. Sartika hanya mampu berdiri menangis deras dengan gaun pengantin yang belum ia tanggalkan.

“Kifli…!!”

ΩΩΩ

*Penulis adalah salah satu penulis

Antologi Cerpen Psikologi “Fugue”

Ardiansyah Jasman

/ardiansyah_jasman

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Dewan Pembina Lembaga Kemahasiswaan Di Universitas Negeri Makassar....
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?