Bahagia Bagi Raden

20 September 2012 06:15:48 Dibaca :

Penerbit UFUK Press


Penulis Raden Sirait


Ukuran: 14 X 20.5 cm, Soft Cover


Halaman: 444 halaman


Terbit April 2011


Harga: Rp 74.900,-


Baca buku Journey of Love ini awalnya membosankan. Hanya saja saya ingin tahu letak bagusnya buku ini di mana, makanya saya bertekad membacanya sampai tuntas. Ada teman yang bilang kalau penulis buku ini adalah homo. Saya pikir, masa iya? Penuh penasaran saya baca buku ini. Ingin tahu di bagian mana yang mencerminkan kelakuan homo si penulis. Apa benar dia homo? Dan kalau memang benar dia homo, lantas kenapa? Lalu apa istimewanya buku ini sampai bisa diterbitkan? Kata orang buku ini bagus, buku motivasi, ternyata.. memang benar! Buku ini penuh dengan makna positif. Terlepas dari status penulis yang dicap homo atau apapun.


Mengisahkan kehidupan Raden Sirait itu sendiri. Otobiografi, mungkin bisa disebut demikian (apa sih bedanya sama biografi? hehe). Tentang perjalanan hidupnya dari Porsea, sebuah daerah di Sumatera Utara menuju dunia internasional. Dari tulisannya saja terlihat dia seorang yang pintar. Kuliah di IPB jurusan agribisnis dan sempat menjadi manajer di bank BCA, walau begitu hatinya tidak bahagia. Passion nya adalah bergelut di dunia fashion. Sangat bertolak belakang dengan apa yang ia pelajari dan ia jalani.


Padahal ia tak bisa menjahit alih-alih membuat pola rancangan baju. Dalam buku ini ia ceritakan bahwa ia dikelilingi oleh sahabat jiwanya yang senantiasa membantunya di kala susah. Berbicara tentang sahabat jiwa, menurutku ia sangat setipe dengan Dewi Lestari. Mengingatnya kau pasti akan teringat beberapa novel tentunya. Bolehlah saya sebut Supernova, karya yang fenomenal itu. Kau tentu pula akan ingat tulisannya yang berbau jiwa, alam semesta, universe, dan energi.


Ya, tidak jauh berbeda dengan tulisan Raden Sirait ini. Dalam perjalanannya menuju ranah nasional saja, bumbu ‘jiwa-jiwa’ yang ia tuangkan sangat kental. Mulai dari Law of attraction, hukum tabur-tuai, hukum timbal balik, dan frekuensi alam semesta, akan sangat sering dijumpai dalam buku ini.


Seperti yang saya katakan di awal, saya teramat kebosanan membaca buku ini, seolah saya tidak mau meneruskan membaca saja. Betapa tidak, buku ini seperti tidak ada konflik. Datar saja. Hidupnya berjalan saja seperti itu, ia bekerja dan berkarya lalu bahagia. Memang hidupnya selalu mengerjakan segala sesuatu dengan hal-hal yang berbau positif. Berfikir positif, tersenyum, bekerja dengan bahagia, memaafkan & hal-hal positif lainnya. Namun hal itulah yang membuat saya—sebagai pembaca setia, mengalami kebosanan. Seperti di buku-buku kebanyakan akan ditemukan konflik di dalamnya yang membuat pembaca merasa ikut terlibat dalam buku, tapi tidak dalam buku ini dan ternyata dugaan saya salah total.


Setelah dibaca lebih jauh, ternyata pembaca baru diberi suatu hal yang baru. Konfliknya tidak terdapat pada awal atau pertengahan buku, tetapi di tiga perempat buku. Perjalanan menuju puncaknya Raden- lah yang membuat saya berkata dalam hati, ‘nah ini dia’. Sebuah pagelaran akbar fashion show bertajuk ‘Kebaya for the World’, impiannya sejak dulu. Mengundang sejumlah artis ibukota juga tak kurang dari 200 model papan atas. Adalah 5 ‘icon’ yang ia pilih yaitu Asty Ananta, Ardina Rasti, Moudy Koesnaedy, seorang Putri Indonesia dan seorang lagi model ternama untuk menjajal kebaya karya Raden Sirait ini. Di sini diceritakan ia sangat kesulitan untuk menghubungi para ‘icon’ nya berhubung mereka artis terkenal dengan jadwal padat. Ia hampir putus asa dan takut kalau impiannya ini tak akan terwujud. Namun ia punya banyak teman-teman yang mendukungnya juga bisikan hatinya untuk selalu berpositif.


Yang saya kurang enak membacanya adalah ada banyak kata yang sering muncul seperti kata yang ia menyebutnya sebagai “Sang Matahariku”. Ada pula “Sang Pembuka Tabir Jiwaku”, ada lagi “Sang Malaikatku”. Saya pikir ini sangat berlebihan, karena mungkin saya tidak pernah menyanjung orang lain sebegitunya. Hal ini juga menunjukkan kalau penulis belum begitu mahir memainkan kata karena pembaca bisa saja akan terganggu dalam menyelami isi buku dengan hal-hal yang remeh seperti penggunaan kalimat tersebut.


Dalam buku ini pun dituliskan ia mempercayai reinkarnasi. Ia pun sangat bersyukur mempunyai teman ngobrol yang berbau spiritual seperti Dewi Lestari. Selain itu ada pula seseorang yang ia sebut ‘bunda’. Sang ‘bunda’ pernah mengatakan bahwa di kehidupan sebelumnya ia sudah berkali-kali hidup dengan penulis sebagai istrinya. Hah? Ok, tak mengapa.


Terlepas dari semua itu buku ini sangat bagus sebagai buku motivasi. Salah satunya motivasi penulis untuk tetap sehat, karena itulah ia menjalani program diet dan fitnes rutin. Alasan lain karena sangat erat hubungannya dengan hukum tabur-tuai yang ia pahami. Ketika ia sakit maka aktifitasnya akan berantakan, sebaliknya jika ia tetap sehat, maka ia bisa mereguk hasil dari kerja kerasnya tanpa perlu merasa menderita. Sederhana memang, tapi pelaksanaannya lebih sulit daripada sekedar ujian di kampus. Sungguh sangat sulit mempertahankan motivasi yang tinggi, saya pernah mengalaminya.


Motivasinya juga untuk mewujudkan banyak sekali mimpinya--salah satunya adalah keliling dunia, dan motivasinya untuk terus berkarya atas nama cinta. Motivasinya untuk membawa kebaya sebagai aset budaya bangsa yang dapat dipakai dalam acara apapun ke kancah dunia internasional. Motivasinya untuk dapat lebih dekat kepada Sang Pencipta bagaimanapun caranya.


Saya menangkap banyak kesamaan antara buku ini dengan buku Secret. Setiap kali Raden bangun pagi, ia selalu menatap cermin lalu tersenyum dan mulai melakukan ritualnya. Mengucapkan terimakasih kepada alam semesta dan mengucapkan selamat pagi. Point kesamaannya adalah ketika kita memberikan afirmasi positif maka semesta akan menangkap aura & energi yang kita pancarkan. Lalu apa yang terjadi? Akan positiflah semua hari yang kita jalani. Bahagia, tersenyum, bersyukur, lalu atas semuanya, Raden merasa hidupnya indah bagai anugrah tak terkira. Raden Bahagia.


Ia kuliah hanya sampai S1. Tak ada setitik pun keinginannya untuk kuliah lagi. Saya jadi membandingkan dengan diri sendiri. Saya ingin kuliah lagi, bekerja, menikah, punya anak, dan bla bla bla lainnya. Tapi Raden tidak. Bahagianya Raden itu saya sebut kreatif. Karena bahagianya out of the box. Bahagia yang berbeda dengan manusia lainnya. Baginya bahagia tidak melulu soal alur kehidupan yang teratur dan menyenangkan. Bahagianya adalah dengan menjalankan passion-nya, keinginan terbesarnya.


Faktor ekonomi tak lantas membuatnya surut menggapai mimpi, terbukti kini ia menjadi perancang kelas atas yang sangat diperhitungkan. Kupikir dengan menjadi seorang jutawan dan impiannya terwujud, hidupnya akan enak dan asyik-asyik saja. Nyatanya tidak. Secara tidak langsung ia menyatakan ada banyak hal negatif yang ia alami. Kekurangan ‘sahabat jiwa’nya yang egois ia ungkapkan dan itu cukup mengganggu kehidupannya. Namun semua itu kembali ia tutup dengan sebuah penerimaan tulus. Persahabatannya bisa langgeng hanya dengan satu cara, menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.


Pun kondisi negatif yang ia alami selama liburan ke India. Hampir saja ia mengikuti hawa nafsunya untuk marah kepada seorang guide tua. Tetapi ia akhirnya mendengar bisikan hatinya untuk berpositif ini dan berpositif itu. Semesta menjawabnya. Salah satu sahabat jiwanya memberikan solusi terbaik seolah dapat membaca pikirannya dengan baik sekali. Akhirnya mereka memutuskan untuk duduk menenangkan diri, demi membuang semua amarah yang bisa membuat liburan mereka berantakan. Setelah emosi reda, lalu mereka memulai lagi liburan mereka yang sempat terhenti. Lalu, sampai sore mereka dapat tersenyum menatap senja yang menguning. [Ardhani Reswari]

Ardhani Reswari

/ardhani-reswari

seorang perempuan biasa yang selalu berusaha mengenal Tuhannya
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?