Andrean Pasaribu
Andrean Pasaribu

Seorang yang ingin menjadi HEBAT!!!

Selanjutnya

Tutup

Gayahidup

Bolehkah LGBT Berdakwah?

16 Juli 2017   22:20 Diperbarui: 16 Juli 2017   22:32 299 6 3

Mendadak terkenal ala Afi si gadis "toleran" tak mengherankan. Kata-kata bijak bertebaran dimana-mana. Jaman internet dan telepon pintar memudahkan orang seketika jadi guru yang menggurui. Bijak secara instan dan dadakan, meski itu hanya jiplakan dari penerusan yang berulang ulang.

Bahkan saya sering mendapat broadcast WA yang berkaitan dengan semacam dakwah agama tertentu, meski saya bukan penganut agama itu.  Saya pun biasanya seketika mem-forward  broadcast itu ke grup WA dan beberapa teman  lainnya yang saya tahu penganut agama tersebut.

Tentu dengan tetap menyertakan sumber dan keterangan yang diperlukan. Agar mereka tahu bahwa itu bukan asli dari saya.

Tidak diduga, beberapa kali  ada teman yang menceramahi saya secara berbalik. Mereka cenderung menganggap forward broadcast saya adalah dari saya sendiri. Yang lebih parah ada yang menuduh yang intinya bahwa saya tidak perlu berkhotbah selama saya masih jadi homo, masih melakukan perbuatan yang dimurkai Tuhan.

Waduh? Kenapa jadi urusan orientasi demikian mudah dituduhkan kepada seseorang?

Ternyata, jaman penuh ekspose dengan media sosial bergambar, swa-foto dan narsisme kini juga jadi bekal menuduh seseorang. Demikian mudah menghakimi dan memvonis orang lain dan meyakini tuduhannya itu adalah kebenaran.

Saya jadi berpikir mengambil kesimpulan sendiri juga. Apakah yang menuduh seseorang sebagai gay, homo atau pelacur dan lainnya itu adalah kalangan pelaku alias sendirinya begitu?

Disisi lain,

Perlu juga dipertanyakan, dengan kemudahan jiplak sertakan atau copy-paste jaman banjir informasi kini, sebagai manusia berakal, apakah seorang gay, homo, pelacur bahkan jablai tidak boleh beribadah, tidak boleh berdakwah mengajak sesamanya untuk lebih mencintai Tuhan  nya?

Apakah seorang mereka, suka atau tidak - dilarang mendekatkan diri pada TUHAN nya?

Memang kita tahu, perbuatan homoseksual adalah dosa besar (dalam agama semit ), namun sebesar-besarnya dosa perbuatan homoseksual dan pelacuran masih bisa diampuni karena itu tidak masuk perbuatan "syirik" atau menyekutukan Sang Pencipta.

Ini bukan pembenaran atas kelainan perilaku seksual seseorang. Tapi mereka memang ada. Dan tuduhan kepada seseorang menunjukkan bahwa eksistensi kaum homoseks itu tidak bisa dinafikan.

Persoalannya, kita diajarkan untuk mendengar apa yaang dibicarakan. Bukan siapa yang membicarakan sehingga tidak bisa dihindarkan jika ada  seorang gay, homo atau jablay yang berusaha berdakwah dengan kemampuannya.