HIGHLIGHT

Mencari Ruang Hening

28 Juni 2012 17:05:00 Dibaca :
Mencari Ruang Hening
Ilustrasi oleh Aryani Leksonowati | Kampret

SAYA suka mengenang. Sebagian hidup saya rasanya dihabiskan untuk mengenang sesuatu di masa lalu. Ah, tapi sebenarnya tak se-ekstrim itu juga. Saya hanya suka mengingat-ingat masa kecil, puber, hingga remaja saya ketika tiba-tiba saya ingin membuka sebuah tas rahasia yang berisi cerita-cerita saya di masa-masa itu. Tas yang saya simpan di suatu sudut di rumah orangtua saya itu berisi diary-diary saya, termasuk juga segala macam bentuk surat yang tak pernah terkirim ke tujuan, dan kartu-kartu ucapan lebaran yang saat itu masih populer.

Lucu dan menyenangkan ketika melihat dan membuka-buka lagi lembar-lembar kenangan itu. Tak jarang saya tertawa sambil malu melihat diri saya beberapa belas tahun silam. Di saat masih lugu-lugunya. Di saat masih polos-polosnya. Di saat kejadian sehari-hari diceritakan dengan begitu menarik, begitu hidup, dan positif. Dengan gaya bahasa yang di zaman sekarang disebut alay. Segala yang dialami dituliskan hampir setiap hari. Juga segala mimpi.

Saya menemukan cita-cita saya di sebuah buku kecil. Dokter atau pengusaha menjadi pilihan saya saat itu. Dua-duanya tak kesampaian. Haha! Pilihan menjadi dokter jelas sudah tidak mungkin lagi. Tapi kalau pengusaha? Siapa tahu. Tapi uniknya, saya tuliskan di lembar kecil itu sambil bercanda seperti ini;

Cita-cita: Pengusaha (tempe). Hehe..

Itu cita-cita mulia atau cita-cita yang aneh (bagi saya)? Sebentuk "Hehe.." yang absurd. Yang jelas, cukup banyak cita-cita yang dulu sempat tercetus di benak saya yang mungil ini. Kala SMU, saya sempat berniat mengambil jurusan Teknik Kimia, karena kesukaan saya dengan pelajaran Kimia. Sayangnya, keinginan ini tidak mendapat dukungan dari orangtua. Hehe.. Namun ada satu cita-cita khusus yang justru -seingat saya- tak pernah saya tuliskan secara gamblang di catatan-catatan itu. Penulis. Itu muncul saat saya SMP. Saya hanya mematrinya di hati dan pikiran saya dan berkeyakinan penuh bahwa suatu saat nanti cita-cita itu akan kesampaian.

Saya ingat sekali ketika akhirnya saya berhasil menyelesaikan sebuah cerpen remaja dan saya tunjukkan ke beberapa teman di kelas. Saat itu kelas 1 atau kelas 2 SMP. Saya tulis cerpen itu di lembar double folio, lengkap dengan coretan-coretannya. Kalau tidak salah, selembar double folio penuh. Lembar cerpen saya itu bergiliran mereka baca dan mereka apresiasi seperti ini, "Wah, bagus ya. Kayak di majalah-majalah. Kirim ke majalah, Nis," Saya pun melambung demi mendengar pujian seperti itu. Tiba-tiba saya merasa memang berbakat menjadi penulis.

Seorang sahabat saya malah lebih "ekstrim" lagi dalam menyampaikan pujiannya, "Karya brilian jangan disimpan aja. Sayang kan. Suatu saat nanti aku akan baca cerpenmu di majalah." Kira-kira begitu. Dan kalimatnya yang sungguh mengharukan bagi saya itu, masih terus saya ingat sampai sekarang. Sayangnya, lembar cerpen bersejarah itu raib entah kemana. Mungkin karena bentuknya yang sudah lecek, tak sengaja terbuang. Kenyataannya, belum ada satupun cerpen saya yang dimuat majalah manapun, sehingga saya masih merasa berhutang dengan kalimat motivasi sahabat saya itu.

Pada akhirnya masa-masa aktif menulis diary itu tergantikan oleh masa-masa sibuk belajar di sekolah, mengikuti kegiatan ekskul, dan tak lupa dibumbui dengan cerita-cerita cinta remaja yang mengiringinya. Apalagi saat kuliah, dimana pikiran tersedot hanya untuk belajar, ujian, naik semester, belajar, ujian, dan naik semester lagi. Begitu seterusnya hingga lulus. Sekarang saya justru merasa banyak waktu-waktu terbuang karena saya tak lagi rajin mengabadikannya dalam tulisan. Padahal kisah-kisah sebagai mahasiswi strata satu dan strata dua yang pernah saya jalani, begitu penuh warna. Dan semuanya seolah menguap begitu saja. Hanya kenangan-kenangan yang berkesan dalam saja yang masih tersimpan di memori. Tak semuanya tentang kebahagiaan. Pastinya juga ada cerita tentang kegagalan dan kesedihan.

Kini, hampir setahun sudah saya memiliki diary lagi. Tapi entah mengapa, saya justru jarang menulis di situ. Padahal niat awal saya membeli lagi sebuah buku catatan adalah agar saya kembali aktif menulis diary, menulis cerita keseharian saya dengan lepas dan bebas. Tanpa beban, seperti dulu. Sekarang tangan saya rasanya telah kaku dalam menggerakkan pena. Tulisan saya yang sedianya lumayan bagus menjadi tak lumayan sama sekali. Jelek. Benar-benar jelek. Tak usah menulis diary. Menulis daftar belanjaan saja saya lihat sudah seperti tulisan anak SD yang baru bisa menulis. Tak beraturan, sesukanya. Untung saja tak ada grafolog yang tiba-tiba datang dan menganalisis kepribadian saya melalui tulisan itu. Apa kira-kira pendapatnya? Pasti salah satunya mencerminkan kekusutan pikiran. Hahaha...

Tapi lebih dari itu, saya perhatikan isi tulisan saya di diary itu menjadi kaku, mencerminkan seorang dewasa yang dituntut untuk bersikap bijaksana, menjadi tidak menarik. Saya bisa menulis panjang hanya untuk kondisi dan cerita tertentu saja. Lebih banyak berisi gagasan pikiran yang mengambang, yang setiap tanggalnya hanya berisi dua tiga baris kata. Sungguh mengecewakan bagi saya pribadi. Saya merasa tak lagi menulis dengan mengalir seperti dulu. Lebih dari itu, gagasan-gagasan yang dulu kerap muncul tiba-tiba mengering. Tinggal satu-satu.

Pada akhirnya saya harus "menyerah" pada kenyataan kalau zaman telah berubah. Saya lebih akrab dengan laptop dan gadget lainnya. Saya lebih akrab dengan begitu banyak informasi yang dengan mudah saya peroleh di internet. Jari jemari saya lebih lincah menari di atas keyboard daripada di atas kertas. Saya jadi asing dengan keheningan. Tak betah. Ketika sendiri, saya malah berpikir tentang teman-teman di jejaring sosial dan apa yang sedang terjadi di dunia luar sana kala saya duduk santai seperti ini.

Saya jadi seolah tak punya waktu untuk sekadar duduk, diam, menikmati detak jam yang berlalu tanpa merasa bersalah karena menganggap hanya membuang-buang waktu. Saya jadi tak lagi bersahabat dengan ide-ide segar dan murni yang acap muncul di kala sendiri dan hening itu. Ketika hanya saya dan diary saja yang ada di dunia saya. Ketika dunia dan masa-masa yang akan datang tetap menjadi tantangan yang menggairahkan untuk ditaklukkan. Ketika mimpi-mimpi itu terasa begitu dekat untuk diraih dan digenggam dengan sepenuh hati. Ah, rasanya saya ingin kembali ke masa lalu. Kembali menikmati keheningan dengan segenap rasa cinta pada hidup ini.

Tapi waktu terus bergulir dan zaman serta manusianya terus berubah. Mau tak mau, saya harus mengikuti arus yang deras ini dan menyesuaikan diri. Tantangannya kini sungguh berbeda. Di satu sisi, bisa saja impian dan tujuan hidup itu tampak mudah diraih, seiring dengan sisi lainnya yang menyuguhkan jalan terjal yang membuat pikiran kita sudah lebih dulu kepayahan untuk menggapainya. Semuanya tergantung pilihan dan sudut pandang saja. Tetap menaiki gunung impian sampai ke puncaknya atau memilih menyerah di tengah jalan? Dalam kondisi bagaimanapun, dalam situasi sesulit apapun.

***

>> Sebuah racauan kegalauan.

Annisa F Rangkuti

/annisa_rangkuti

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Penikmat hidup, tulisan, dan karya fotografi.
http://annisarangkuti.wordpress.com/

Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?