HEADLINE

Berkunjung ke Museum Rohana Kudus di "Amai Setia"

03 Juni 2010 04:30:00 Diperbarui: 26 Juni 2015 15:47:13 Dibaca : Komentar : Nilai : Durasi Baca :

Sejak mengetahui sedikit riwayat Sang Kartini dari Ranah Minang, Rohana Kudus, saya jadi ingin sekali berkunjung ke sekolah kerajinan yang didirikannya dulu, Sekolah Kerajinan Amai Setia, yang kini telah berubah menjadi toko cenderamata. Pas sekali, pada libur akhir pekan kemarin saya berkesempatan mengunjungi lagi kota Bukit Tinggi, yang dekat sekali dengan Koto Gadang, sebuah nagari di kabupaten Agam, Sumatera Barat, tempat Kerajinan Amai Setia itu berada. Nagari ini adalah pusat kekaguman saya yang lain terhadap ranah para perantau ini. Letaknya tepat di belakang Ngarai Sianok. Daerah ini bisa ditempuh dari dua jalan alternatif. Dari persimpangan Jl. Raya Padang Luar atau dari jalan yang  mengitari Ngarai Sianok. Pilihan kedua mungkin lebih menarik, karena kita bisa berada sangat dekat dengan ngarai curam yang kini tampak menjulang dan sungai kecilnya yang berkelok-kelok indah. Akan tampak pula beberapa pintu keluar Lobang Jepang yang berterali dan masih tampak suram. Tak butuh waktu lama untuk sampai ke sana. Tidak lebih dari 30 menit. Maka sampailah kita ke sebuah jalan panjang lurus beraspal yang sisi kanan dan kirinya terhampar areal persawahan yang hijau permai. Pepohonan rindang berbaris rapi sepanjang jalan. Dan inilah yang membuat pemandangannya tambah memukau; Gunung Singgalang yang berdiri gagah, samar-samar hijau bercampur biru, bersyal awan putih tipis, melatari persawahan dan pemukiman penduduk yang tampak ramai mengelilinginya. Bila sudah sampai di perempatan gerbang masuknya, beloklah ke kiri, melewati masjid hijau bertingkat yang besar dan megah. Sesuai petunjuk jalan yang ada di seberang masjid, hanya berjarak 300 meter saja kita akan sampai ke gedung Kerajinan Amai Setia. Tepatnya gedung ini adalah rumah yang saya duga tak banyak perubahan dari aslinya. Terlihat dari tulisan di bagian atas bangunannya; KERADJINAN AMAI SETIA 1915. Masih dengan ejaan lama dan bentuk bangunan yang benar-benar peninggalan  penjajah Belanda. Lantai dasar bangunan terletak beberapa meter dari permukaan tanah. Dari jalan kita langsung menaiki tangga, masuk ke halamannya yang ada bangunan seperti pendopo, lalu naik beberapa anak tangga lagi ke dalam bangunannya. Sampai di dalam, "hawa" Rohana Kudus sangat terasa. Bukan dalam arti mistik, tapi sangat terasa aroma perjuangannya dahulu, ketika berusaha membebaskan perempuan-perempuan Koto Gadang dari kebodohan dengan mendirikan Kerajinan Amai Setia ini. Semuanya masih bernuansa jaman dulu. Untuk mempermudah penggambarannya, kita bagi saja ruang utama menjadi tiga bagian; kanan, tengah dan kiri. Di ruang utama sebelah kanan, terdapat seperangkat kursi tamu model lama yang bisa menjadi tempat bersantai. Di ruang tengah, etalase-etalase yang berisi kerajinan perak berjejer mengelilingi ruangan. Hasil kerajinan peraknya sangat bagus dan indah, tak kalah dari hasil kerajinan perak di Kota Gede, Yogyakarta (entah mengapa nama kedua tempat penghasil kerajinan perak ini bemakna sama; kota besar). Ada replika rumah gadang, jam gadang, karapan kerbau, dan berbagai macam perhiasan; anting-anting, kalung, gelang, cincin, dan bros ditawarkan di sini. Harganya tentu bervariasi, sesuai besar kecilnya barang dan berat ringannya bahan peraknya. Mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Selain perak, ada juga kerajinan sulam berupa selendang suji cair, yang merupakan selendang adat khas Koto Gadang yang biasa dipakai sebagai pelengkap baju pengantin wanita atau bila ada acara-acara adat. Selendang-selendang asli kerajinan tangan ini dipajang di ruang sebelah kiri dan di beberapa lemari kaca di belakang etalase-etalase yang memajang kerajinan perak. Warnanya bermacam-macam dengan motif yang serupa tapi tak sama. Karena proses pembuatannya membutuhkan waktu lama untuk satu selendang, maka tak heran bila sehelai kain selendang ini berharga kira-kira dua juta rupiah. Suatu harga yang pantas mengingat pembuatannya yang rumit seperti layaknya pembuatan kerajinan kain lainnya; membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Di sini juga ada busana pengantin khas Koto Gadang yang bisa disewa atau dijahitkan. Model busana pengantin dari daerah ini berbeda dengan busana pengantin Minang dari daerah lain. Terkesan lebih sederhana dan unik. Salah satu keunikannya adalah pengantin wanita yang tidak memakai hiasan kepala suntiang, namun hanya memakai penutup kepala dari kain beludru yang disebut talakuang. Jauh lebih praktis pemakaiannya dibandingkan dengan suntiang. Pakaian pengantin prianya pun demikian. Unik, khususnya karena celana yang dipakai menggantung sebatas betis dan memakai sandal adat yang disebut sandal datuak (sandal datuk/pemuka adat). Sekilas mirip orang kebanjiran. Hehehe... Tapi kesan sederhana itu sebenarnya akan langsung sirna begitu melihat kain dan selendang songket yang dipakai kedua pengantin. Belum lagi beragam bentuk kalung, gelang dan cincin khas yang dipakai pengantin wanita. Tak kalah ramai tampilannya dengan pengantin Minang yang sering kita lihat. Turun beberapa anak tangga ke bagian belakang ruang utama, tampaklah sebuah ruangan lapang dan luas yang kosong di tengah-tengahnya. Hanya ada beberapa lemari kaca yang menempel ke dinding, memamerkan belasan selendang suci cair yang tampak berusia lebih lama dibandingkan yang ada di ruang tengah. Di sisi kiri dinding tergantung sebuah lukisan besar Rohana Kudus, didampingi beberapa penghargaan yang pernah diterimanya. Di antaranya adalah penghargaan "Bintang Jasa Utama" yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan tertanggal 16 Februari 2008. Sungguh hanya secarik kertas piagam sederhana. Rasanya tak sebanding dengan kemegahan pengorbanan Rohana Kudus dalam berjuang di zamannya. Melihat ke langit-langit, baru saya sadari kalau bangunan belakang ini berlantai dua. Tampak beragam benda dari sela-sela pembatas kayu. Saya penasaran dengan apa yang ada di atas, apalagi setelah membaca peringatan di sisi salah satu anak tangganya yang berkarpet merah; "Dimohon untuk melepas alas kaki ketika naik ke museum Rohana Kudus", begitu kira-kira bunyinya. Hah? Museum? Mengapa tidak ada petunjuk di ruang sebelumnya kalau di atas ini ada museum? Maka segera saja, seorang diri saya menjajaki tangga kayu ke lantai atas. Sampai di ujung tangga, hening terasa. Cahaya pagi menjelang siang menerobos lewat kisi-kisi jendela dan ventilasi di ujung ruangan, menerangi koleksi museum yang terlihat kuno dan kusam. Ruangan yang hanya dua pertiga lantai di bawahnya ini memamerkan barang-barang lama koleksi Rohana Kudus. Di dekat tangga ada satu set meja dan kursi batu pualam berbingkai kayu yang hampir lapuk. Di belakangnya terdapat sebuah lemari kaca besar yang memajang benda-benda lama; selendang, piring, gelas, dan perabot rumah tangga lainnya. Di ujung dinding yang sama, manekin-manekin berbusana khas Koto Gadang tegak berdiri dengan pose tersenyum. Di antara lemari perabot lama dan lemari manekin itulah terpajang pelaminan lama yang sederhana yang kainnya sudah lusuh dan beberapa bagiannya robek di sana sini. Di ujung ruangan, di bawah jendela, terpampang deretan foto-foto lama yang disusun di atas sebuah rak rendah berpintu berwarna putih. Foto-foto lama juga menghiasi sebuah papan putih yang berdiri di depan rak. Di antara foto-foto lama yang juga tergantung di dinding itu terdapat foto Sutan Syahrir, adik tiri Rohana Kudus dan H. Agus Salim, sepupunya. Di balik papan foto itu dipenuhi oleh penghargaan-penghargaan yang pernah dianugerahkan pada Sekolah Kerajinan Amai Setia. Perjuangan Rohana Kudus untuk memajukan kaumnya itu tampaknya menurun dari Ayahnya, Rasjad Maharadja Soetan, yang ternyata adalah salah seorang pendiri cikal bakal Studiefonds Koto Gadang, sekolah untuk rakyat pribumi Koto Gadang. Tak sampai setengah jam, saya sudah selesai tur singkat di museum kecil ini. Demikian saja isi museum pejuang kaum perempuan ranah Minang itu. Sangat bersahaja, tak bergaung, hingga sosok dan peninggalannya nyaris tak dikenal oleh siapapun di luar masyarakat Minang Koto Gadang. Amai Setia ini pun tak banyak dikunjungi, bahkan di hari libur seperti kemarin. Begitu juga beberapa toko kerajinan perak yang ada di Koto Gadang. Sepertinya industri kerajinan ini kurang bergairah. Pengunjung dan pembelinya lebih banyak dari perantau Koto Gadang yang pulang kampung saat liburan. Entah karena banyak wisatawan lain yang tidak tahu karena kurangnya promosi wisata atau karena tempat ini kalah gemerlap dibandingkan titik-titik wisata di Bukit Tinggi. Selama saya di sana, hanya ada serombongan turis asing yang lewat, lebih tertarik mengabadikan keindahan alam Koto Gadang dengan sawah hijau dan Gunung Singgalangnya, yang langsung dapat dinikmati dari gerbang Amai Setia. *** >> Semua foto adalah dokumentasi pribadi >> Tulisan terkait: Menelusuri Jejak Rohana Kudus, Sang Kartini dari Ranah Minang

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana