Cerpen highlight

Penulis

14 September 2017   04:02 Diperbarui: 14 September 2017   04:12 287 4 3
Penulis
Ilustrasi: forum.wisecleaner.com

Yang duduk di hadapanku adalah seorang lelaki paruh baya, berambut tipis karena dua hari yang lalu dia telah memotongnya, kacamata tebal yang kadang melorot hingga bisa kulihat bekas garis di pangkal hidungnya. Sibuk sekali menghadap ke komputer, terus mengetik seakan dia sedang menulis surat kabar hari ini. Sesekali dia menyesap kopi hitamnya, meskipun tanpa rokok.

"Inaah... kopiku habis."

Jika panggilan itu sudah keluar dari mulutnya, datang seorang wanita yang tampak seumuran dengannya, mengambil cangkir kopinya yang sudah kosong kemudian pergi ke dapur untuk meracik kopi yang baru lalu segera menyajikannya kembali.

"Manisnya sudah pas?" tanya wanita yang dipanggilnya Inah.

Pria itu hanya menggumam tanpa keluhan yang menandakan bahwa kopinya sudah pas. Untuk sekali duduk mungkin dia menghabiskan tiga sampai empat cangkir kopi. Itu berarti tiga sampai empat kali pertanyaan dan gumaman yang sama. Wanita yang dipanggilnya Inah itupun sama sekali tak pernah mengganggunya jika dia sedang mengetik. Bahkan melirik layar komputernya saja tidak pernah. Pemandangan ini yang kulihat setiap harinya di rumahku sepulang aku sekolah.

Kadang aku iseng mengintip tulisan apa yang diketiknya. Tapi mungkin karena umurku yang masih kanak-kanak jadi aku tak pernah paham sama sekali apa isinya. Jika pria itu sadar aku sedang iseng membaca, tak segan dia menyingkirkan wajahku seakan dia sedang menonton film dewasa saja.

"Enyah kau anak kecil!" Usirnya.

"Sini, Nak. Jangan ganggu pekerjaan ayahmu," panggil wanita yang bernama Inah itu dan tak lain adalah ibuku sendiri.

Kerja? Kerja apa dia. Hanya mengetik seharian tanpa menghasilkan sesuatu yang pasti, pikirku saat itu yang masih berumur sepuluh tahun. Untuk membayar SPP sekolahku saja kadang ibu harus berhutang pada Bi Nok, kakak perempuannya. Kadang ibu bekerja serabutan kesana kemari yang setidaknya bisa menutupi biaya hidup kami. Pria yang terpaksa harus kupanggil ayah itu hanya ongkang-ongkang di rumah, mengetik, minum kopi, makan, dan tidur. Menanyakan kegiatanku di sekolah saja tidak pernah. Dan hebatnya, ibu tidak pernah protes sama sekali. Selalu setia membuatkan kopi di kala dia sibuk mengetik, mengerok punggungnya ketika dia masuk angin, memijatnya sebelum tidur, dan lain-lain yang memang seharusnya dilakukan sebagi seorang istri. Sungguh beruntung dia mendapatkan istri seperti itu.

Hingga pada saat aku menginjak kelas satu SMP, ayah sakit mendadak. Tak bergerak dari tempat tidurnya. Ibupun setia menemani dan melayaninya. Hingga beberapa saat sebelum ayah menghembuskan nafas terakhirnya, kulihat dia membisikkan sesuatu pada ibu. Ibu menangis sambil manggut-manggut. Tangisnya pecah ketika tubuh ayah mengejang sesaat kemudian lemas, menandakan nyawanya sudah keluar. Setelah menutup matanya, pertama kali yang ia lakukan adalah mencabut semua kabel komputer ayah, dan mengangkat sendirian CPU nya sambil tersenyum kecil, kemudian menyimpan barang itu. Baru kemudian menghubungi sanak keluarga sambil menangis mengabarkan bahwa ayah tutup usia baru saja. Setelah menutup telepon, kulihat dia terbahak keras seakan sedang tak ada musibah. Bahkan seumur hidupku aku tak pernah melihatnya sesenang ini.

"Kita akan kaya, Nak," lirihnya sambil mengusap ubun-ubunku.

Sepuluh tahun kemudian baru aku mengerti mengapa kami berdua bisa tinggal di sebuah rumah mewah dengan taman bunga yang indah dan beberapa pembantu. Juga dua buah mobil mewah yang selalu siap dengan sopirnya 24 jam. Aku juga baru mengerti mengapa setiap dua tahun sejak kematian ayah selalu terbit sebuah novel atas nama 'Inah M.' langsung yang dengan predikat bestseller. Dan aku juga baru mengerti kenapa ayah sakit mendadak kemudian mati, juga tawa ibu saat itu.

Tapi ibu tetap saja hebat, dia tak menikah lagi.

Mekah, 13 September 2017