Merah dan Biru

07 Agustus 2013 21:37:21 Dibaca :

(Bagaimana Dua Hal Itu Bersatu)



Merah dan Biru:


Kita dipertemukan pada suatu event yang diselenggarakan oleh pihak kampus. Waktu itu kita berada dalam bagian kepanitiaan yang berbeda. Meski begitu, kita tetap sebagai satu tim yang saling mendukung. Disitulah kita mengenal satu sama lain. Banyak perbedaan memang, tapi itulah yang menjadi magnet khusus yang menarik kita kedalam pusaran yang lebih dalam. Dua tahun lalu, tertanggal 3 Januari, kita jadian...


Merah :


Dia belum memberiku sebuah alasan kenapa dia memutuskan hubungan kita.


Aradiah Nawasari, mahasiswi jurusan desain animasi. Penyuka warna-warna gelap , terutama biru dongker. Barang-barang yang ia kenakan selalu berkutat pada aroma musik rock dan country. Kaos oblong, celana jeans ukuran sepertiga, dan rambut panjang kuncir kuda telah menjadi ciri khasnya. Langkahnya tak pernah ragu untuk memutuskan sesuatu, walau tak jarang ia menyadari bahwa dirinya telah ceroboh. Dia setahun lebih tua dari aku. Manis, ogah dandan, unik, penggemar lukisan surealis, dan berkomitmen, itulah gambaran tentang gadisku. Sorot matanya yang tertutupi kaca mata minus berbingkai tebal menunjukkan kalau dia tangkas dan tegas. Entah sejak kapan aku merasakan desiran ketika tertawa bersamanya, berjalan bersamanya, makan bersamanaya, dan hal lain bersamanya. Tetapi aku sangat ingat kapan pertama kali aku tertarik dengan ganyanya yang terkesan cuek, yaitu saat pertama kali dia melirik tajam diriku diawal masa ospek. Namun setelah itu aku malah illfeel melihat gayanya yang so simple, sok galak, dan terkadang nampak acak-acakan. Dia bukan tipe wanita idamanku, tapi...


"Aku menyayanginya. Sangat "


Entah berapa kali hatiku berujar seperti itu. Dia wanita pertama yang membuatku out of the box. Beberapa kejadian gokil yang sebelumnya tak kualami secara tak terduga terjadi ketika bersamanya. Aku bisa merasakan asyiknya makan pinggir jalan, bersepeda ria mengelilingi kota, bergoyang jingkrak ala rocker dunia, menyanyi didalam bus mini, dan yang paling penting; menghargai tiap usaha dan sisa waktu yang terus berlanjut. Hanya dengannya hubungan asmaraku bertahan paling lama dari sebelumnya yakni, dua tahun. Ya, dia memang gadis ceria yang memberiku banyak rona. Tetapi dibalik itu semua, dia adalah gadis pejuang yang harus memutar otak untuk melanjutkan hidup dengan melakukan ini itu bersama teman-temannya.


Dia menuntut diri untuk lincah bekerja part time ini itu. Rasa gengsi serasa mati dalam dirinya. Ia tak pernah peduli apa yang orang katakan mengenai pekerjaannya, baginya, "Asalkan halal dan bisa buat biaya kuliah". Dan karena kesibukannyalah, terkadang aku merasa terabaikan. Aku tahu kehidupannya tak serba mudah seperti halnya kehidupanku. Keadaan menuntutnya berbuat mandiri dan sibuk. Namun sadarkah dia bahwa aku sering menunggu kepastian untuk sekedar bertemu , jalan-jalan, atau ngobrol ringan dengannya? Suatu hari aku pernah berinisiatif memberi bantuan berupa uang untuk menunjang kuliahnya, tapi dia menolak, dan terus menolak ketika kutawari hal yang sama. Ia lebih memilih berbisnis dengan teman-temannya yang rata-rata cowok , daripada menerima bantuanku. Ara , apa kau tahu bahwa aku sering cemburu melihatmu begitu dekat dengan mereka daripada aku?


Sebagai seseorang yang mencintainya, aku tak mau kehilangan dirinya. Aku ingin memiliki Ara seutuhnya. Aku sering berangan-angan dan menanti saat dia menjadi pasangan hidupku sejak ia berkata,


"Kelak, aku mau cari suami yang mapan, Gi. Kalau udah berkeluarga , aku nggak perlu ngoyo-ngoyo bekerja. Cukup ngurusin anak, suami, dan rumah tangga saja. Hehehehe".


“Ngapain pakek nyari segala? Kan udah ada aku. Hehehe”


Kata-kata itulah yang selalu kuingat dan menjadi alasanku untuk bersabar dalam kondisi terabaikan. Aku tahu dia sama sekali tak berniat mengabaikanku. Bahkan disela waktu, ia ingat untuk menelponku walau jarang dan sebentar. Bagiku tak masalah, aku harus tetap bersabar. Namun sabar tetap ada batasnya.


Dan kesabaranku diuji. Entah kenapa akhir-akhir itu dia selalu hilang tiba-tiba ketika akan ku ajak ke acara pesta teman-temanku. Dia punya beribu alasan untuk menjawab pertanyaanku. Paling parah, dia tak mau hadir untuk sekedar melihatku merayakan keberhasilan menjadi duta pariwisata terbaik se-Indonesia. Aku semakin merasa ia sedang menghindariku, ada yang tak beres dengannya. Dia seperti hilang ditelan bumi. Kucari kemana-mana, nihil. Kudatangi indekosnya, dia selalu tak berada disana. Sekali saja tak sempat menghubungiku. Kutelepon, selalu sibuk. Sibuk, sibuk, dan sibuk.


Pada kesempatan yang tak terduga, kita bertemu secara tak sengaja di parkiran kampus....


"Kamu sibuk atau sengaja menyibukkan diri?" Tanyaku menahan amarah.


"....."


"Mau kamu apa sih, Ra?"


"Putus"


Kontan, aku melemas....


Biru :


Aku masih tak percaya telah benar-benar mengatakan itu. Kita putus? Benarkah?


Namanya Giananda Pratama. Mahasiswa Fakultas hukum yang selalu menampakkan kesan parlente dan borjuis. Suka sekali dengan warna merah dan barang-barang branded. Jika aku enggan memikirkan penampilan, maka ia sebaliknya. Dia selalu memperhatikan penampilan dari ujung kaki hingga ujung kepala, terutama rambut. Perfeksionis. Gian lelaki yang cerdas, supel, berprestasi, jago nglobi, jangkung, tampan, dan... konglomerat. Itulah kenapa banyak wanita yang berusaha beredar mengitarinya. Jujur, awalnya aku sangat tak suka melihatnya dari segi penampilan. Kehadirannya sebagai mahasiswa baru kala itu membuatku keki. Gayanya itu loh, boyband banget, metroseksual. Apalagi rambutnya yang sebentar-sebentar ganti gaya. Benar-benar jauh dari kriteria seorang Ara.


Tapi kenyataannya Tuhan berkata lain, beberapa poin darinya yang tak masuk dalam dafar kriteria cowok idamanku, ujung-ujungnya malah malah menjadi milikku. Dasar cinta! Cinta benar-benar tak memandang kriteria! Melalui event itu, aku menjadi tahu sisi lain darinya. Dia sangat baik, pekerja keras, memiliki jiwa sosial yang tinggi. Semangatnya menunjukkan bahwa dia tak pernah setengah-setengah untuk menggapai target kehidupannya. Dengan sangat mudah, ia bisa mengikuti langkah-langkahku yang sebelumnya tak ia pijak. Meski awalnya ia merasa sedikit risih, tapi aku bisa melihat gurat-gurat bahagia yang tersirat saat ia kuajak ke pasar, makan di warung tenda pinggir jalan, naik sepeda ke kampus, naik angkot, dan lain sebagainya. Dia fleksibel, dia selalu mengerti aku, dia berbeda, dan aku suka.


Sayangnya, aku tak bisa dengan mudah menyejajarkan langkahku untuk menapaki pijakannya. Kehidupannya begitu tinggi dari apa yang aku miliki. Orang-orang yang berada disekitarnyapun jarang yang berstatus seperti aku. Mereka semua glamoris. Sama-sama dari kalangan atas seperti Gian. Aku bagaikan liliput yang hanya bisa diam berada ditengah pergaulan itu. Bertemu dengan mewah, pesta, jas, gaun, barang-barang bermerk, obrolan berat, hal yang sama sekali tak kupikir , nyatanya bakal kujalani. Dia enjoy saat kuajak naik sepeda, sedangkan aku kurang enjoy duduk bersama dalam mobil mewahnya. Dia selalu mengiyakan permintaanku untuk makan di warung tenda, sementara aku sering mengelak permintaannya untuk menikmati hidangan-hidangan mahal di restoran. Parahnya ia tetap membelikanku beberapa gaun biru mahal walaupun ia tahu aku tak akan suka mengenakannya. Aku tahu dia tulus. Sangat tulus. Tapi aku merasa belum berhak mendapatkan seluruh keloyalan yang ia beri secara cuma-cuma.


Sebagai mahasiswa berprestasi yang populer, dia sangat sibuk. Keaktifannya di organisasi, serta padatnya jadwal perlombaan yang ia ikuti, tak membuatnya mengabaikanku. Dia selalu meyisihkan waktu untuk menemuiku , menelponku, menanyakan keadaanku. Ironisnya, aku jarang ada kesempatan meresponnya, itulah yang membuatku sering merasa bersalah dan tak pantas bersanding dengannya.


Pesta adalah saat-saat tak menyenangkan dimana dia berkumpul dengan kawanan model-model , dan dimana aku hanya dipandang sebelah mata oleh teman-teman Gian. Belum lagi ulah-ulah teman wanitanya yang keganjenan mendekati Gian tanpa memikirkan perasaanku yang berdiri disampingnya. Mereka memang tak menghinaku secara terang-terangan, tetapi mereka menyalahkan Gian karena telah kepincut sama cewek berkasta menengah dan bermuka pas-pasan macam aku. Meskipun Gian tak peduli akan kicauan-kicauan itu, dan memilih berjalan pede disampingku, tetap saja aku merasa bersalah padanya. Akulah penganjlok reputasi Gian didepan teman-teman glamornya. Akulah penyebab Gian sering dipermalukan. Aku,aku,aku. Apakah aku masih pantas disandingkan dengannya? Kurasa tidak. He’s flawless , dan dia pantas mendapatkan yang lebih baik.


Sengaja kuhindari dirinya. Sengaja tak kudatangi perayaannya setelah sukses menjadi duta pariswita nasional. Sengaja aku pergi dari kehidupannya. Toh, sebentar lagi aku akan diwisuda dan segera angkat kaki dari kota ini..


“Maafkan aku, Gian”




Kupencet tombol non-aktif. Nada dering ponsel yang tak henti-hentinya mengganggu telingaku, seketika hilang. Nama “G” yang tertera di layar monitor lenyap.


*****


Kemudian jarak, waktu dan keadaan memisahkan mereka. Entah untuk sementara atau selamanya. Namun Tuhan yang telah meniupkan benih-benih kasih dihati mereka sangat tahu bahwa kedua insan itu masih saling menyayangi , merindukan, dan menanti kehadiran satu sama lain. Tuhan juga tahu bila mereka memiliki keyakinan kuat “kalau jodoh, pasti bertemu”. Tuhan Yang Maha Segalanya telah memiliki rencana tersendiri bagi mereka.


“Ara”


“Gian”


Merah dan Biru, mungkinkah hal itu kemudian bersatu padu menjadi ungu?


_end_


cerita ini bisa anda baca di : http://apingping.blogspot.com/?view=magazine.



Aprillia Amail

/amailaprillia

Alhamdulillah,,, Saya berterimakasih pada Allah SWT yang telah memberi bakat seni dalam darah saya.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?