HIGHLIGHT

Perempuan Berwajah Kuyu di Jarak-Dolly (2)

03 Juli 2012 01:57:16 Dibaca :

lanjutan dari Perempuan Berwajah Kuyu di Jarak-Dolly (1)


“Anggota TNI Dilarang Masuk”



Kalimat larangan itu tertulis di depan pintu setiap wisma. Merata. Seakan wajib untuk dipasang. Tentu saja, aku yang baru pertama kali menginjakkan kaki di kawasan itu, tergelitik untuk menelisik lebih jauh. Namun rupanya pa Nur sudah menangkap kebingunganku.


Rupanya, hal itu dilakukan sebagai peringatan kepada anggota ABRI yang notabene tidak bertanggungjawab jika usai menerima pelayanan dari PSK. Selain tak ingin membayar upah kepada PSK yang sudah melayaninya, mereka (anggota ABRI) juga tak segan-segan melakukan kekerasan fisik, terutama pada saat mabuk berat.


Sementara itu, hingar-bingar musik disko-dangdut kian menggema. Dilengkapi dengan bar yang penuh minuman, para perempuan dan lelaki tak lagi rikuh bermesraan di sofa dengan warna menyolok membentuk setengah lingkaran.


Para perempuan itu memang diharuskan dandan penuh dengan berbedak tebal dan berlipstik menyala di bibirnya. Di sepanjang Jarak, aku tak hanya menyusuri gang sempit, tapi juga wajah-wajah perempuan yang resah. Di Jarak memang merata seperti di Dolly. Di Jarak, kita bisa menemui perempuan dengan usia mulai dari anak-anak sekitar 8 tahunan hingga 30 tahun keatas. Anak-anak itu, menurut pak Nur, hanya bermain biasa. Mereka terdiri dari anak-anak mucikari (pemilik wisma), juga tak sedikit adalah anak-anak PSK sendiri. Mereka berbaur. Dalam setiap geliat manusia dewasa yang ada di Jarak.


Di Jarak, masing-masing wisma memang tidak menyediakan karyawan seperti yang ada di Dolly untuk menggaet konsumen dan menawarkan perempuan yang ada di dalam ruangan. Karyawan tersebut terdiri dari kaum lelaki berseragam batik. Ya, sebagian besar mereka berpakaian batik, terlihat sopan dan rapih. Tugas para lelaki itu adalah menggaet konsumen lelaki dan menawarkan kepada mereka para perempuan yang sudah terpajang.


Aku menangkap jiwa yang lelah…


Tapi aku menangkap jiwa yang lelah dari para perempuan itu. Kaki-kaki mereka duduk seragam, menyilang. Mereka duduk berderet di sofa di balik kaca dengan lampu terang sehingga memungkinkan mereka terlihat jelas dan gampang dipilah-pilah. Mereka setia menghadap para pengunjung yang duduk-duduk di depannnya. Para pengunjung laki-laki konsentrasi memperhatikan deretan perempuan dari keremangan kursi. Mereka terlihat sedang sibuk memilih mana yang bakal dibeli.


Para perempuan yang dipajang itu mengenakan pakaian terbuka sejenis tanktop, rok mini dan sepatu ber hak tinggi. Kebanyakan berambut panjang, lurus, dan indah. Mereka duduk dengan kaki-kaki disilangkan, setia berdiam diri, sambil sesekali memainkan HPnya (seperti ber SMS-an) menunggu “dibeli”. Tidak seperti di Jarak, para perempuan itu sudah dihargai. Mulai dari Rp 75.000/jam hingga Rp 300.000/jam ke atas. Di kawasan Dolly, menurut pa Nur, para perempuan itu memang diseleksi terlebih dahulu. Di Dolly, usia para perempuan itu hampir semuanya dibawah 30 tahun. Jika sudah berusia di atas 30 tahun, mereka biasanya dialihkan ke Jarak. Perempuan di Dolly juga cantik-cantik dan berkelas.


Aku juga sempat menengok sejenak ke satu wisma di kawasan Dolly yang khusus merekrut perempuan Indramayu, Cirebon, Kuningan dan Majalengka. Aku cukup lama tertegun menatap mereka yang memang terlihat resah menanti konsumen. Memang, seperti perempuan di kawasan Dolly lainnya, mereka berdandan seragam. Mereka dihargai (dibandrol).


Tidak berapa lama, pak Nur mengenalkanku pada Mia. Ya, aku menyapanya Mia (bukan nama sebenarnya). Mia adalah salah satu perempuan penghuni Dolly. wajah sumringahnya membuatku merasa tak enak, ketika pak Nur dengan semangat mempersilahkanku untuk mengobrol-ngobrol dengan Mia. Aku tidak berlama-lama dengan Mia yang kebetulan masih sendirian belum ada tamu. Kami mengobrol sangat singkat. aku dan Mia. dia tak hentinya menyunggingkan senyumnya. tak ada raut khawatir di sana. dia sangat terbuka. rambutnya nyaris sampai ke pundak. make up-nya, sama seperti yang lain. begitupun bajunya. aku sempat mencium harum minyak wanginya. namun aku tidak pandai menebak apa merk-nya.


“saya di sini baru sembilan bulan, dan saya enjoy di sini,” ujar Mia membalas rasa ingin tahuku. “tapi ini (menjadi PSK) demi anak, karena setelah cerai dengan suami, saya tidak ada penghasilan untuk membiayai anak-anak. mantan suami juga gak tau kemana,” aku Mia dengan tetap tersenyum. Hari sebelumnya, Mia baru saja mengikuti pengajian (ceramah agama) yang rutin digelar oleh pengurus kelurahan setempat. Mia mengaku betah, karena di Dolly dia lebih diterima dan mampu mengirimkan penghasilannya buat anak dan orang tuanya di Jawa Tengah.


menyusur sepanjang Jarak-Dolly, menemui mata sayu dan jiwa yang gelisah. di sana tak sekadar berurusan dengan nafsu syahwat. ya, gang Dolly, gang yang sudah ada sejak zaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Tante Dolly. Keturunan dari Tante Dolly tersebut sampai sekarang masih ada di Surabaya, meskipun sudah tidak mengelola bisnis prostitusi tersebut.


masih menurut hasil riset Faidza Marzoeki, sekarang ini atas kesadaran sendiri, sebagian perempuan yang bekerja sebagai pelacur penyebut diri sebagai “Pedila”, singkatan dari Perempuan yang dilacurkan. Istilah ini mengadung kesadaran bahwa ada agen-agen lain yang menyebabkan dirinya bekerja sebagai pelacur, bahkan dipaksa atau terpaksa menjadi pelacur. karena aku merasakan langsung atmosfir di sana, samahalnya Faidza, aku menggunakan sebutan perempuan yang dilacurkan, karena memang bahwa ada pihak lain, agen lain yang menyebabkan ada perempuan bekerja sebagai pelacur. dan aku sangat sepakat, bahwa perempuan sebagai manusia juga berhak dan ingin menjadi manusia. Bebas, merdeka dan bermartabat, setara dengan manusia lain, baik laki maupun perempuan.


Mengapa perempuan bersedia dilacurkan?


Masih berdasarkan banyak riset, mengatakan bahwa faktor kemiskinan menjadi pendorong utama para perempuan itu terseret dalam arus perdagangan sex. Faktor lain adalah budaya patriarki yang masih bersemayam dalam sistem masyarakat kita. Sehingga, dalam situasi kepepet itu, perempuan adalah “properti” yang paling mudah untuk dijinakan. Banyak kisah seorang Ayah menjual anak-anak gadisnya kepada para calo untuk dijual ke para mucikari di Dolly.


Menurut salah satu responden Faidza, perempuan itu diambil oleh para calo ke desa-desa, dengan membayar kepada orang tuanya sekitar Rp 2.000.000 s/d 5.000.000 per orang kepada orang tuanya. Calonya sendiri akan mendapatkan Rp 1.000.000 s/d 2.000.000 per orang. Uang tersebut (uang untuk si orang tua dan si calo) berasal dari calon mucikari si perempuan. Ketika perempuan itu sudah sampai di lokalisasi pelacuran dan siap bekerja, jumlah uang untuk orang tua dan calo langsung dibebankan kepada si perempuan. Beban itu disebut: Hutang. Selain hutang untuk orang tua dan calo, perempuan itu juga akan dikenakan uang makan, uang penginapan dan kebutuhan lain, yang dipinjami terlebih dahulu oleh sang mucikari. Jadi, perempuan itu sudah menanggung hutang jutaan sebelum ia bekerja. Pada detik ketika ia dipanggil oleh ayahnya untuk menemui calo, perempuan itu telah dirampas kebebasan dan harga dirinya. Ia harus menanggung beban kemiskinan dan kekuasaan ayah.



*mohon diingatkan jika ada istilah yang kurang sesuai, demi kebaikan bersama. terimakasih.

Alimah Fauzan

/alimahperempuan

just love to share inspiration for better life
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?