Aldi Mario
Aldi Mario

Orang Bebas yang Suka Mengamati

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Ketika Politisasi Ayat dan Mayat Terlanjur Identik dengan Pak Anies

23 April 2017   16:55 Diperbarui: 23 April 2017   17:40 1030 4 4

Masih ada yang alergi jika dibilang kemenangan Anies Baswedan di Pilkada DKI lebih disebabkan karena propaganda yang kuat terkait isu agama. Kesannya, mau menutupi fakta tentang penggunaan ayat dan eksploitasi isu mayat yang sempat kontroversial itu.

Ketika media-media asing menyoroti kemenangan Anies Baswedan sebagai kemenangan kelompok militan mereka protes. Tidak terkecuali Wapres Jusuf Kalla. Berbagai argumen dikemukakan untuk memberi citra positif kepada Anies.

Sayangnya, fakta faktor politisasi ayat dan mayat sudah terlanjur popular dan diketahui luas. Intinya, penggunaan isu ayat dan mayat sudah terekam baik secara tertulis maupun secara digital.  Siapapun dia, bisa mengakses berita-berita yang rada memalukan jalannya demokrasi di Indonesia itu.   

Upaya seorang Jusuf Kalla pun tak ada artinya. Semua tahu, Juauf Kalla berada di pihak siapa saat Pilkada DKI 2017. Iparnya, Aksa Mahmud dan keponakannya Erwin Aksa yang bernaung dalam konglomerasi Bosowa Group, adalah die hard pendukung Anies – Sandi.

Ahok sebagai Gubernur incumbent yang dikalahkan Anies memang sudah menerima kekalahan suara dalam fase quick count. Tetapi tak bisa dinafikkan fakta bahwa cara meraih kemenangan dengan politisasi ayat dan mayat adalah cara paling kasar dalam demokrasi di Indonesia.

Cara kasar menggunakan ayat dan isu mayat sangat mengkhawatirkan. Politisasi agama dalam proses demokrasi berpotensi menimbulkan masalah baru. Setidaknya, pernyataan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian bisa dijadikan sebagai rujukan.

Saat menjadi pembicara di semiloka bertema “Indonesia di Persimpangan antara Negara Pancasila vs Negara Agama”, di Hotel Aryaduta, Jakarta, Sabtu (8/4) lalu, Tito mengatakan, selama dirinya menjadi polisi, ia telah bertemu dan berbicara dengan banyak pelaku terorisme. Mayoritas teroris memiliki pola pikir yang sama, yakni melakukan aksi teror dengan menggunakan isu agama.

“Baik itu teroris yang ditangkap di Indonesia, Malaysia, atau teroris di penjara Guantanamo, mereka memiliki persamaan yakni, atas nama Tuhan membunuh yang lain,” kata Tito.

Dosen dari Universitas Nasional Australia (ANU), Profesor Marcus Mietzner juga menilai isu agama telah menyingkirkan Ahok. Dia khawatir penggunaan isu agama juga akan digunakan dalam pemilihan presiden 2019. Itu berarti demokrasi kita sedang berjalan menurun dan berdialektika negatif dengan segala ekstraksi yang kini dikonsumsi publik.

Kita patut prihatin karena Gubernur yang nanti akan memimpin Jakarta pasca pemerintahan Ahok adalah produk dari sentimen keagamaan yang kini sedang menunjukkan eksistensinya. Kita juga prihatin, banyak masyarakat yang terperdaya oleh mereka yang gemar memainkan politik identitas.

Kita perlu mengingat kembali, bahwa politik identitas memicu hadirnya eksklusivisme pihak mayoritas terhadap minoritas. Hal ini menyebabkan politik identitas berbasis agama kemudian bertumbuh menjadi penyebab konflik sosial.

Kita khawatir, intoleransi dan permusuhan yang dibentuk oleh permainan politik identitas semakin terjalin rumit dengan hadirnya pemahaman ajaran agama yang dogmatis dan tidak menyeluruh. Sikap intoleransi inilah yang kebanyakan menjadi akar dari munculnya kecurigaan dan stigma negatif antar agama dan kepercayaan.

Usai pemilihan Pilkada DKI, Anies Baswedan yang dikenal pandai beretorika itu memang sudah menyerukan persatuan. Sayangnya, dia baru akan menjalankan tugas sebagai Gubernur enam bulan mendatang.

Anies masih ditunggu komitmennya membangun persatuan tersebut. Jadinya, selama itu pula, kesan Anies sebagai pemimpin yang lahir dari sikap politik intoleran masih akan diyakini banyak orang. (*)