Muda

Menjadi Agen Toleransi dan Perdamaian

19 Mei 2017   10:22 Diperbarui: 19 Mei 2017   10:48 14 0 0
Menjadi Agen Toleransi dan Perdamaian
Toleransi - http://fkptdiy.com

"Saya memiliki harapan agar anak-anak muda ASEAN dapat menggunakan sosial media dengan bijak untuk sebarkan pesan-pesan yang positif, jadilah agen perubahan dan jadilah agen toleransi dan perdamaian," inilah salah satu pesan presiden Joko Widodo, dalam pertemuan di KTT ASEAN di Filipina, akhir April 2017 lalu.

Pemuda dan sosial media mempunyai hubungan yang tidak terpisahkan. Apalagi, di era yang serba canggih seperti sekarang ini, berbagai aktifitas banyak dilakukan di dunia maya dan media sosial. Bisa jadi, hampir sebagian besar waktu generasi muda dihabiskan di dunia maya dari pada dunia nyata. Dalam catatan pemerintah, setidaknya ada 73 juta pengguna internet dan 72 akun media sosial. Dan yang lebih mencengangkan lagi, setidaknya ada 44 juta posting di media sosial setiap jamnya di Indonesia.

Jika melihat data diatas, tentu membuat media sosial mempunyai pengaruh yang begitu hebat. Tak heran jika kelompok intoleran dan radikal, juga banyak menggunakan media sosial untuk melakukan propaganda, menyebar kebencian, hingga merekrut anggota. Hal ini juga dibenarkan oleh para pelaku tindak pidana terorisme. Mereka mengenal radikalisme umumnya dari internet. Mereka belajar merakit bom juga dari internet. Begitu bahayanya internet, jika memang digunakan untuk kepentingan yang tidak baik. Namun, internet juga bisa mempunyai kontribusi positif, jika memang digunakan untuk kepentingan yang positif.

Karena itulah, menjadi agen toleransi dan perdamaian di dunia maya, harus terus disuarakan para generasi muda. Anak muda tidak bisa lagi hanya sebatas curhat atau menuliskan statusnya di media sosial, tapi diharapkan juga bisa aktif menyebarkan pesan damai di media sosial. Bayangkan, jika 44 juta posting per jam itu berisi pesan damai, ujaran kebencian yang juga marak di media sosial akan bisa tertutup. Namun jika pesan damai itu sangat minim, maka media sosial seakan hanya dipenuhi oleh pesan yang menyesatkan.

Apa yang terjadi di dunia nyata saat ini, tidak bisa dilepaskan dengan yang terjadi di dunia maya. Ujaran kebencian yang muncul selama pilkada DKI Jakarta kemarin, begitu nyata terjadi di dunia maya. Bagitu juga setelah vonis Ahok, ujaran kebencian fitnah masih saja terjadi. Karena ini pula, presiden Joko Widodo kembali memanggil tokoh lintas agama, untuk bisa berkontribusi meredam ujaran kebencian ini. Jika hal ini tidak segera dilakukan, energi kita akan habis untuk mengurusi hal-hal yang semestinya tidak perlu.

Sebagai generasi muda, sudah semestinya juga aktif memberikan kontribusi aktif, dalam bentuk penyadaran yang bisa diterima oleh semua pihak. Media sosial begitu mudah mengakomodir segala bentuk ekspresi anak muda. Baik dalam bentuk visual, video, ataupun tulisan. Karena itulah, pesan damai yang disebarluaskan melalui media sosial, semestinya juga dikemas dengan cara yang kreatif agar mudah dicerna. Kreatifitas dan inovasi anak muda, seharusnya tetap harus dijaga, agar tidak menjadi generasi yang pasif.

Mari kita belajar dari sejarah, ketika generasi muda mempunyai kontribusi tersendiri bagi bangsa dan negara. Ketika dokter Soetomo berhasil menggagas organisasi Boedi Oetomo, terbukti berhasil mendorong anak muda berorganisasi, untuk mendapatkan kemerdekaan. Ketika 20 Mei 1998, generasi muda juga berhasil mendorong semua orang, untuk aktif secara bersama-sama memperjuangkan semangat reformasi. Begitu juga dengan sekarang, generasi muda harus juga aktif untuk mendorong menjadi agen toleransi dan perdamaian, agar praktek intoleransi dan radikalisme tidak terus menyebar di negeri yang toleran ini.