HIGHLIGHT

Antara Aku, Istri, dan Anakku

28 April 2010 03:29:00 Dibaca :

Puisi Akhmad Sekhu
KASIDAH PENANTIAN KELAHIRAN
Notasi, 1
: mawar-melati untuk istriku, Wanti Asmariyani

Hari-hari yang mengalir
Aku bergulat debu dan menguras pikir
Kegelisahan hidupku tiada akhir

Muara, di mana aku akan menuju
Dengan langkah yang memberat
Diseret hasrat dan kemudian deras bergerak
Ke arahmu yang mengandung rindu
Tapi aku tersekat jarak dan tak mampu lagi
Memahat pusaran waktu yang berurat batu

Kota tak lagi menyediakan ruang
Untuk kita sekadar saling berpandangan
Meski sedetik, hanya mawar-melati yang masih
Tertancap pada detak hidup kita bersama
Tetap semangat merangkaki hari demi hari
Yang terus mengalir hingga sampai ke muara
Tempat kita bisa istirah dan meredam amarah
Dalam badai kehidupan tak berkesudahan

Notasi, 2
: secarik kertas untuk anakku, Fahri Puitisandi Arsyi

Hari-hari yang berganti
Adalah menanti, kita senantiasa berjaga
Dalam setiap nafas penuh pengharapan
Kapan tiba waktunya, betapa aku telah
Telanjur hanyut dalam gelanyut lamunan
Menginginkan segala keindahan tercurah
Saat tangis anakku pertama pecah

Adalah sebuah tangis yang kita rindukan
Bukan tangis karena duka yang menyeruak
Derita, tapi kebahagiaan yang menepi
Ke sisi hidup kita, dan siapkan pena untuk menulis
Kertas putih-bersih untuk anakku yang baru lahir
Dari hari ke hari yang terus mengalir
Tiada henti kita menimang-nimang, sayang

Puisi Akhmad Sekhu
KASIDAH AQIQAH
: untuk Fahri Puitisandi Arsyi, anakku

Telah terbit matahari di hatiku
Hingga terang-benderanglah semesta alam
Hangatkan kebahagiaan

Tampak kaki anakku menjejak-jejak ke atas
Seperti dapat menemukan jalan pintas
Menuju dunia yang lebih sejuk. Ayo, anakku!
Jejak bumi tujuh kali. Aku bapakmu akan selalu
Mengiringi langkahmu. Tampak tangan anakku
Menggapai-gapai ke berbagai arah
Seperti sedang mengurai kacaunya keadaan zaman
Kedamaian dunia yang tak pernah selesai diperjuangkan
Ayo anakku! Jangkaulah dunia sepenuh jiwa
Aku bapakmu akan selalu mendukungmu

Ketika tetabuhan rebana membahana
Anakku terpejam dari segala dunia keramaian
Mawar-melati disiratkan, doa-dzikir dipanjatkan
Anakku baru mau membuka matanya pada waktu
Keadaan gelap gulita dan dari sinar matanya
Aku baru mengerti ada terang yang lain
Sebuah benderang menerangi batin

Puisi Akhmad Sekhu
KASIDAH MELATI PUTIH
: untuk Fahri Puitisandi Arsyi, anakku

Fahri, anakku, teriaklah keras-keras!
dengan keberanianmu yang menggelora
kau lantang menyuarakan kebenaran
seperti melati, kau begitu putih

Fahri, anakku, peganglah erat-erat!
dengan ketabahanmu yang mendalam
kau mantap mempertahankan sikap
seperti melati, kau tetap putih

Akhmad Sekhu

/akhmadsekhu

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Akhmad Sekhu lahir di desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, besar di "Kota Budaya" Yogyakarta, kini hijrah ke "Kota Gelisah" Jakarta, yang insya Allah dalam hidupnya ingin selalu berkarya. Menulis berupa puisi, cerpen, novel, esai sastra-budaya, resensi buku, artikel arsitektur-kota, kupasan film-musik, telaah tentang televisi di berbagai media massa, juga banyak mengerjakan penulisan buku biografi karier dan kisah kehidupan, kini bekerja sebagai wartawan Majalah Film MOVIEGOERS.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?