Manusia Bagaikan Robot

02 Juli 2012 12:58:41 Dibaca :
Manusia Bagaikan Robot

AKBARPITOPANG --- Siang itu kami satu angkatan mampir di tempatnya salah seorang teman. Kosan teman itu bagi kami bisa dibilang base camp. Karena kadang sepulang kuliah atau ketika kuliah sedang kosong kami satu angkatan akan berama-ramai ke kosannya. Dikarenakan memang jarak antara kosannya dengan kampus cukup dekat. Makanya kami lebih memilih mampir kesana daripada pulang ke kosan atau rumah masing-masing yang jaraknya cukup jauh.

Di kosan teman kami bisa melakukan banyak hal. Sharing tentang perkuliahan, gaya dosen mengajar, mengerjakan tugas kuliah, berbagi ilmu dan berbagai cerita kami bagi disana bersama. Ceritanya juga ngalor ngidul. Dari satu topic bisa berlanjut ke berbagai topic dan bidang pembicaraan.

Kosan itu penuh dengan suara anak muda. Tertawa bersama ketika ada kelucuan. Saling berbuat jahil antara satu sama lainnya untuk mencairkan suasana untuk menghilangkan traumatis ketika di kampus. Jika kami satu angkatan sudah main ke base camp itu maka keheningan akan berganti dengan suara-suara anak manusia yang masih sedang mencari jati diri seperti kami semua..  :)

Namun ada beberapa hal yang kadang membuat saya berpikir. Ada beberapa hal yang menjadi tanda tanya bagi saya. Apakah itu?

Saya pernah mendapati sebuah peristiwa yang cukup penting untuk ditindak lanjuti. Ketika itu ada seorang teman cowok yang duduk bersimpuh. Anda tahu kan seperti apa duduk bersimpuh itu? Duduk bersimpuh dengan hanya menyilangkan salah satu kaki kebawah kaki yang lainnya. Duduk seperti ini sering kita jumpai pada perempuan.

Lalu seorang teman yang lainnya berkata seperti ingin mempermalukannya.

“oii, kok dudukmu kayak gitu sih?”

“emang kenapa?” Teman itu menunjukkan eksprsi dengan sedikit bingung.

“iya.. Perhatikan saja tuh gaya dudukmu..”

“memangnya kenapa?”

“kayak cewek tuh… ha aha ha..”

Teman itu hanya diam. Dengan ekspresi sedikit menyedihkan karena telah dipermalukan di tengah-tengah teman-teman yang lainnya yang ada di ruangan itu. Temannya tak hanya cowok namun juga ada beberapa orang teman cewek disana.

Suatu ketika ada juga teman lainnya yang saya dapati mengalami hal tersebut. Bukan gaya duduk yang menjadi perhatian namun gaya ia duduk di kursi atau sofa.

Teman itu duduk dengan menyilangkan kaki seperti cewek. Tahu kan gaya duduk cewek itu sedikit berbeda dengan gaya duduknya cowok. Kalau gaya duduk laki, mata kaki diangkat dan diletakkan di lutut. Sedangkan bagi yang perempuan gayanya dengan menyilangkan siku lutut diatas lutut kaki yang satunya lagi.

Teman itu tak luput dari perhatian teman-teman. Tak ketinggalan juga ikut dikomentari oleh teman-teman yang ada disana.

“ganti gaya dudukmu dong!”

“kayak gimana?”

“gaya dudukmu itu kan kayak cewek..”

“emangnya salah kalo aku duduk kayak gini?”

“ya salah dong! Kayak gitu kan gaya duduknya cewek bukan cowok”

“apakah bagi kalian hal itu menjadi sesuatu masalah besar?”

“tidak. Hanya saja beda dengan lainnya” kata seorang teman lain ikut mengomentari.

“apakah perbedaan itu manjadi sebuah masalah?”

“kamu kok dibilangin malah kayak cewek gitu? Cerewet” kata teman lainnya.

“ini bukan masalah cerewet atau tidaknya. Hanya saja saya ingin menjelaskan pada teman-teman tentang cara berpikir teman-teman yang seperti robot”

“kami bukan robot tapi manusia”

“saya tahu kalian manusia tapi bertindaknya seperti robot” seraya meninggalkan perdebatan itu dan pindah ke kamar sebelah untuk menonton tv.

---------------------------------------------

Cara berpikir kita kebanyakan memang seperti robot. Kita berpikir sebuah masalah kecil bisa berubah menjadi masalah besar hanya karena sesuatu hal yang tidak terlalu penting.

Saya ingin bertanya kepada anda. Apakah yang dilakukan teman cowok tadi dengan gaya duduk seperti itu salah? Apakah itu masalah besar?

Bagi saya hal itu bukanlah sebuah masalah besar. Setiap orang berhak untuk menentukan apapun yang ia suka dan yang terbaik untuk dirinya.

Misalkan untuk masalah duduk tadi. Kemungkinan ia memang sudah terbiasa duduk seperti itu. Karena ia mungkin saja lebih merasa nyaman duduk dengan gaya seperti itu.

Atau mungkin saja bagian kakinya mengalami sedikit cedera atau luka kecil. Sehingga jika duduk dengan gaya yang semestinya membuatnya menahan rasa sakit. Daripada merasa kesakitan lebih baik mengubahnya. Walaupun itu berbeda namun itu bukan sebuah masalah besar, bukan…??!!

Kebanyakan diantara kita berpikir seperti itu. Kita ini manusia bukan robot. Kita berhak untuk menentukan berbagai hal yang kita suka. Dan kita berhak untuk melalukannya tanpa dibatasi ruang gerak kita oleh orang lain.

Apakah kita menilai sebuah hal hanya dengan melihat seperti itu?

Bagi saya peristiwa tadi bukanlah masalah besar. Karena saya juga sering seperti itu. Kadang ketika saya capek duduk bersila, saya akan menggantinya dengan bersimpuh. Begitu pun dengan gaya duduk diatas sofa. Bagi saya terserah duduknya seperti apa yang penting nyaman.

Kita tinggalkan gaya duduk tadi. Coba kita perhatikan hal-hal kecil lainnya. Misalkan ada seorang laki yang suka masak. Ada yang suka bersih-bersih. Atau ada cewek yang suka nonton bola.

Lalu kita langsung mengadilinya kalau hal itu keliru. Berbeda dengan kebiasaan yang selama ini kita pahami bersama. Memang benar misalkan cewek itu suka masak tapi apakah laki tak boleh melakukannya?

Tanpa kita sadari kita memang seperti robot. Apakah semuanya harus berjalan seperti kebiasaan yang ada di masyarakat kebanyakan?

Apakah cara kita berpikir dan mengadili sesuatu hal seperti itu?

Kita jangan berpikir seperti itu. Jangan cepat mengadili. Dan jangan mau dikotak-kotakkan. Yang cowok harus seperti ini dan yang cewek harus seperti itu. Haruskah demikian?

Pengkotak-kotakkan itu hanya akan membuat cara berpikir kita akan semakin sempit. Kita langsung saja melihat sebuah hal itu salah atau keliru padahal kita belum tahu alasannya seperti apa.

Apa landasan yang kita gunakan untuk menilai atau mengadli sesuatu hal? Apakah kita berlandaskan kebiasaan atau berlandaskan norma?

Kebiasaan itu beda loh dengan norma. Walaupun kedua-duanya sama-sama diterima dimasyarakat namun norma lebih mengikat daripada kebiasaan.

Kebiasaan diyakini bersama namun masih bisa ditolerir jika menyimpang. Beda dengan norma, kalau norma dibarengi oleh sanksi dibelakangnya.

Untuk kisah diatas hanya menyalahi kebiasaan. Kita terbiasa menganggap cara seperti itu dengan kebiasaan yang berlaku. Kemudian ketika seseorang berbuat berbeda kita menilainya keliru padahal itu belum tentu keliru.

Apakah kita tak boleh berbeda dengan yang lainnya?

Hasrat yang dimiliki oleh manusia adalah berbeda-beda. Dan manusia berhak menentukan mana yang ia suka. Manusia lain juga demikian, mereka berhak bertindak mana yang ia suka namun harus tetap menghargai norma yang ada.

Jika kita tak mau dikatakan robot maka ubahlah cara kita berpikir selama ini. Hanya robotlah yang mau diperintah. Hanya robotlah yang mau diprogram atau di-install seperti apa yang dimau oleh pemilik robot. Dan robot akan bertindak seperti apa yang sudah terprogram. Apa yang dilakukannya benar-benar seperti apa yang sudah ditanamkan bukan ditumbuh kembangkan.

Apakah anda juga robot?

Akbar Pitopang

/akbarisation

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Pitopang Ever After | Jangan lihat siapa awak, tapi lihatlah apa yang awak tulis | Masih Mencari Jati Diri | Belajar Mendengarkan Kata Hati | Minangkabau Ngayogyakarta Hadiningrat
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?