HIGHLIGHT

Hati-Hati Terhadap Godaan Entrepreneurship

04 Juni 2012 19:41:28 Dibaca :

Pada umumnya masyarakat menilai bahwa dunia entrepreneurship itu sangat menyenangkan. Mandiri, bisa mengatur waktu sendiri, menjadi bos bagi diri sendiri, menghasilkan uang yang relatif banyak dan adanya rasa bangga karena bisa membuka lapangan pekerjaan.

 

Penilaian-penilaian tersebut memang benar koq, hanya saja masyarakat umum kebanyakan melihat sisi enaknya saja sehingga tergoda untuk meninggalkan pekerjaan lama, khususnya pegawai atau karyawan perusahaan, dan ternyata sebagian besar dari mereka mengalami kegagalan dan menyesal karena telah meninggalkan pekerjaan yang lama. Mereka terjebak dalam euforia entrepreneurship.

 

Hal ini dapat dimaklumi karena gencarnya berbagai media yang memberitakan kesuksesan-kesuksesan para entrepreneur yang tidak diimbangi dengan berita-berita mengenai banyaknya orang-orang yang mengalami kegagalan.

 

Michael E Berger dalam bukunya E-Myth, mengungkapkan hasil penelitian bahwa 80% Start-up Business berhenti di tahun pertama, selanjutnya 80% dari yang tersisa berhenti di tahun yang ke lima. Berarti hanya 4% yang berhasil meneruskan dan mengembangkan usahanya. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Frances McGuckin dalam bukunya Business for Beginner.

 

Saya teringat seorang teman, karyawan perusahaan farmasi dari Prancis. Dia pernah mencoba menjalankan bisnis tambak udang, tidak sampai setahun usahanya bangkrut dengan kerugian total kira-kira 20 juta rupiah, untung saja dia tidak keluar dari perusahaan tempat ia bekerja. Ada juga beberapa teman lain yang mengalami nasib yang sama.

 

Yap, saya sendiri adalah korban euforia entrepreneurship.

 

Kira-kira empat tahun yang lalu saya mengundurkan diri dari perusahaan farmasi asing (satu setengah tahun lamanya saya sempat bekerja di perusahaan tersebut). Termotivasi oleh kesediaan seseorang  untuk memberikan modal dalam bisnis produksi jamur tiram yang saya tawarkan.

 

Satu setengah tahun kemudian, setelah menghasilkan satu ton jamur tiram, usaha tersebut terpaksa berhenti karena adanya konflik manajemen antara saya dengan pemodal, bukan karena produk jamur tiramnya yang tidak laku dipasaran. Buktinya, teman yang sempat bekerja dengan saya selama 3 bulan, melanjutkan bisnis jamur tiram tersebut dan hingga sekarang (kira-kira lima tahun kemudian) usahanya masih berjalan dengan baik.

Banyak sekali hikmah yang saya peroleh dari kegagalan tersebut diantaranya adalah perlunya perjanjian yang jelas, deskripsi tanggungjawab dan hak masing-masing pihak, tertulis secara detail dalam kertas perjanjian yang diakui oleh hukum. Meskipun rekan bisnis kita adalah teman dekat atau bahkan keluarga kandung. Hal ini penting dilakukan untuk menjaga sifat profesional.

 


Wuihh cukup lama juga saya "luntang-lantung", depresi, karena pukulan telak kegagalan pertama tersebut, hampir dua tahun lamanya. Hingga akhirnya berkat dorongan keluarga, teman-teman, dan terutama dari diri sendiri, saya bangkit untuk berusaha kembali. Pada suatu hari istri saya menyarankan untuk memulai bisnis produksi nata de coco, mungkin dia teringat waktu saya pernah membuat nata de coco untuk "bisnis iseng" di bulan ramadhan.

 

 

Saya pun mulai mempelajari, mendalami kembali cara memproduksi nata de coco. Oh ya, sebagian besar pengetahuan saya mengenai produksi jamur makanan, nata de coco, asam cuka (vinegar), asam sitrat, alkohol dan banyak lagi, berasal dari saat kuliah di Departemen Biologi FMIPA Universitas Sumatera Utara. Selain itu saya mempelajari dengan tekun, buku-buku bisnis, profil-profil entrepreneur sukses, memahami penyebab kegagalan bisnis dan sebagainya.

 

Sayapun menyiapkan proposal bisnis, berisi aspek-aspek bisnis seperti gambaran usaha, dan analisis profit usaha. Dua bulan pertama pencarian rekan bisnis, saya bertemu dengan seseorang dan menerima tawarannya sebagai konsultan produksi nata de coco selama tiga bulan. Setelah kontrak selesai kira-kira satu bulan kemudian saya menemukan teman yang bersedia menjalankan bisnis ini dengan sistim bagi hasil.

 

Alhamdulillah, bisnis produksi nata de coco mentah ini sudah berjalan satu tahun hingga saat ini. Mudah-mudahan kami tidak termasuk yang 96% itu ^_^

 

Enam bulan pertama kami berhasil memproduksi rata-rata 5 ton/bulan (24 hari kerja), jumlah produksi terus meningkat hingga saat ini kami memproduksi 13-15 ton/bulan.


Dunia entrepreneurship adalah dunia yang keras, banyak rambu-rambu yang harus dipatuhi dan lobang-lobang yang harus dihindari.

 

Mudah-mudahan tips di bawah ini yang saya peroleh dari berbagai pengalaman bisnis, dan dari buku Frances McGuckin "Business for Beginner", dapat bermanfaat khususnya bagi pembaca yang hendak memasuki dunia entrepreneurship.



    1. Ketahui dan pahami benar motivasi atau alasan-alasan pribadi untuk menjadi seorang entrepreneur. Apakah karena masalah keuangan, tidak nyaman dengan pekerjaan saat ini, ingin "berpetualang" atau alasan-alasan lainnya.
    2. Kenali kemampuan diri mencakup pengendalian emosi, pola pikir, kemampuan fisik. Dunia ini benar-benar melelahkan loh ^_^ Berikut beberapa karakter sukses entrepreneur, yang menjadi panduan: Visioner, Terorganisir (pola pikir sistematis), Berani mengambil resiko, Percaya diri, Tegas, dan Pemimpi yang selalu berkeinginan untuk mewujudkan impiannya (lebih suka mengatakan "aku akan" daripada "aku harap").
    3. Tujuh keahlian (skill) yang harus dikuasai: Personal (pengendalian diri), Interpersonal, Keuangan, Teknis, Komunikasi, Pemasaran dan Teknologi.
    4. Memilih jenis bisnis yang benar-benar diminati dan memiliki pengetahuan yang memadai mengenai bisnis tersebut, khususnya aspek pemasaran.
    5. Memahami dan menguasai pembuatan Perencanaan Bisnis (Business Plan). Hal ini sangat penting, karena merupakan peta bagi perjalanan bisnis. Bayangkan betapa sulitnya apabila memasuki kota yang belum pernah kita datangi tanpa peta. Segala aktivitas bisnis akan menjadi lebih efektif dan efisien dengan adanya Perencanaan Bisnis.


Adapun inti tulisan ini adalah sebagai wanti-wanti bagi pembaca yang hendak memasuki dunia entrepreneurship.


Bukan masalah mampu atau tidak mampu, karena tiap-tiap kita memiliki karakter yang unik. Bisa saja menjadi pegawai atau karyawan akan lebih baik daripada menjadi seorang entrepreneur.

 

Sangat disarankan untuk tidak meninggalkan pekerjaan sekarang (pegawai atau karyawan), sebelum benar-benar memahami dan menguasai poin-poin di atas. Pribadi yang suka kemapanan dan tidak nyaman dengan perubahan yang cepat, tidak sesuai bagi dunia entrepreneurship.

 

Mudah-mudahan tulisan ini dapat meminimalisir resiko kegagalan bagi pembaca yang telah memutuskan meninggalkan pekerjaan yang lama dan memasuki serunya dunia entrepreneurship.

 

Salam Hangat Sahabat Kompasioner ^_^


Tulisan Terkait:

    1. Business Plan, Kunci Sukses Entrepreneur Era Globalisasi
    2. Pembagian Profit yang Fair Dalam Kerjasama Bisnis
    3. Gara-Gara Berbohong, Gagal Memperoleh Pinjaman dari Bank
    4. Entrepreneur’s Skill: Break Even Point vs Breakthrough Point
    5. Maaf, Saya Tidak Menyukai Bob Sadino
    6. Ketika Tulisan Menasihati diri Sendiri
    7. 5 Langkah Sistematis Untuk Mencari dan Menemukan Solusi Permasalahan

 

Rahmad Agus Koto

/ajuskoto

TERVERIFIKASI (HIJAU)

"Alam Terkembang Jadi Buku" Dibaca, dipelajari, dipahami dan diamalkan, Inshaallah. Belajar sampai nafas terakhir. Suka membaca, menulis, mengamati perkembangan Agama, Filsafat, Sosial, Budaya, Politik, Teknologi Informasi, Fotografi, Biologi, Psikologi dan Entrepreneurship.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?