Cerpen : Cinta Tak Pernah Mati

23 Februari 2013 02:59:45 Dibaca :



Matahari sudah setinggi gunung, namun lelaki yang biasa dipanggil namanya dengan ILHAM ini masih terus tertidur pulas dipantai kapuknya itu seolah malam masih menyelimuti seluruh ruangan di rumah yang sederhana itu, maklum saja hidup sebagai seorang lajang yang tinggal sendirian dinegeri orang menjadi hal yang biasa bagi pria ini, biasanya ketika masih dibangku kuliah semua tempat pernah dicicipinya sebagai tempat tinggalnya, mulai dari ruangan perkantoran sederhana sampai menjadi penjaga mushola pernah dirasakannya, apalagi bila tidur seolah seperti susun ikan asin ditempat kos-kosan pria yang dihuni oleh banyak orang juga pernah menjadi tempat tinggalnya, tempat yang Over Dosis karena ruangan yang kecil diisi oleh banyak makhluk pria yang sedang menuntut ilmu dikota metropolitan itu. Namun setelah selesai kuliah sedikit peluang hidup terbuka untuk dirinya, setelah menamatkan diri di salah satu kampus negeri di kota Metropolitan itu, pria ini banyak mendapatkan keuntungan tak sempat ijazah masuk kesana-sini, ternyata Dewi Fortuna berada dipihaknya, satu kali mengikuti ujian menjadi salah satu Pegawai di Instasi yang sarat dengan kehidupan sosial itu dia langsung diterima dengan nilai cukup yang memuaskan.
Bunyi alarm di handponenya berulang kali berbunyi, sambil terkantuk-kantuk ILHAM menoleh melihat jam dinding yang berada disamping tempat tidurnya, jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.30 Wib, sontak dia terkejut dan langsung bangkit dari tempat tidurnya, sambil tergesa-gesa diambil handuk yang sudah tergantung di atas pintu kamarnya, sambil menggerutu di dalam hati, karena untuk yang kesekian kali pria yang satu ini tidak mengikuti Apel Pagi di Instansi tempat dia bekerja. Sambil terburu-buru tanpa sarapan langsung dikemudikannya tunggangan kereta yang setia mengantarnya kemana saja.
Hari itu sedikit menggusarkan bagi pria separuh baya ini, mengapa tidak, untuk yang kesekian kali cintanya kandas ditengah lautan, harapan yang sudah dibangunnya seolah roboh dengan sebuah keputus asaan, sehingga dia lebih memilih untuk tidak lagi ingin mengenal wanita dan sempat menganggap bahwa wanita itu adalah parasit yang tumbuh disekelilingnya, setibanya dikantor laptop yang menjadi kesayangan tersebut dibuka, bukan tugas kantor yang pertama dilihatnya, namun akun FB yang sudah lama menjadi tempat dia berbicerita keluh kesahnya sehari-hari. Namun hari itu sedikit berbeda, dia berteman dengan wanita yang tidak biasa, sambil Chat di akun FB, lelaki ini terus berusaha mengajaknya bercerita, tak hanya sebatas itu saja, lelaki ini juga mencoba memberanikan diri meminta nomor handpone wanita yang menjadi kenalannya tersebut, setelah mengenal wanita tersebut seolah anggapannya terhadap wanita sebagai parasit seolah pudar.
Dua hari berlajut, pria yang satu ini mulai mengenalnya, Putri namanya, sedang menjalani pendidikan di daerah asal pria ini berada, niat pertama mengenal perempuan yang satu ini hanya biasa saja baginya, hanya sebatas main-main atau sebatas sebagai pelampiasan saja, namun setelah lama mengenalnya, seolah dirinya menemukan sesuatu yang berbeda dalam dirinya,
Dalam hatinya selalu timbul sebuah tada Tanya “wanita yang satu ini berbeda, sifatnya sich masih kekanak-kanakan, tapi mengapa ada ssesuatu yang berbeda dalam dirinya, perhatian yang didapatkann darinya, begitu juga dengan diri ILHAM yang bisa tampil apa adanya, tanpa harus merubah style berbicara sok dewasa atau lainnya kepada diri Putri. Hari-harinya juga dihabiskanny untuk menelpon sang wanita tersebut dan waktu keluar untuk nongkrong di jalan seperti yang biasa dilakukannya selama ini menjadi berkurang,
ILHAM juga belum pernah menemuiinya, namun lelaki ini dengan nekadnya mengajak wanita yang baru dikenalnya itu untuk pacaran dengannya, bak ibarat bintang jatuh kepangkuannya, Putri yang juga baru patah hati juga tidak banyak neko-neko dalam menjawabnya, terjadilah sebuah ikatan yang menggelikan dalam sebuah perjalanan cinta cucu nabi adam di abad 21 ini, bermodal tampang foto di FB dan hanya mengenal melalui handpone ini membuat kedekatan ILHAM dan Putrie semakin menjadi-jadi, Putrie yang tinggal diasrama dengan berbagai peraturan yang ada, sedangkan ILHAM yang seperti burung bebas kesana-sini mampu menjalani hubungan yang mencengangkan mata dunia, bagi pria ini, Cinta itu adalah sebuah ketenagan, bila selama dia bisa merasa tenang dengan seseorang yang dikasihinya, dia akan terus mencintainya, begitu juga dengan wanita yang dikenalinnya ini, walau tergolong dengan wanita yang cukup aktif karena kebiasaanya yang tak seperti wanita lazim biasanya, karena terlalu sering terkena hukuman di asrama, bahkan wanita yang menjadi pujaan hatinya memecahkan record dunia yaitu tertangkapnya Handpone miliknya untuk yang kesekian kali di asrama, sehingga bisa saja wanita yang satu ini disebut dengan Miss Cell mempunyai sifat setia yang luar biasa, seakan menjadi sebuah cinta yang tak tergoyah oleh adanya pihak ketiga.
seperti perjalanan cinta pemuda lainnya, hubungan yang satu ini juga mengalami pasang surut yang luar biasa,, kalau kata istilah cinta era klasik “Derita cinta tiada henti”, tapi mereka masih mampu menjalani dan menghadapi permasalahan tersebut, sampai sebuah konflik panjang terjadi, ILHAM dicurigai oleh Putri menjalani back street dengan teman baiknya Putri sendiri, ILHAM yang tak mampu melihat air mata kekasih hatinya menetes ini juga tak mampu berkata apa-apa, karena dia merasa tidak melakukan apapun hingga sampai pada akhirnya dia memutuskan untuk membuang segala hal yang bisa membuat kecurigaaan sang kekasih hatinya tersebut menghilang.
Beberapa hari ILHAM menghilang dari kehidupan Putri, Handphone dan FB ILHAM seolah sirna dari dunia ini, karena emosi yang memuncak, Handpone ILHAM dibuangnya tanpa berpikir panjang, begitu juga dengan akun FB yang dimatikan olehnya.
Bahkan beberapa hari kemudian, penyakit ILHAM pun akhirnya kambuh lagi, mungkin karena banyaknya fikiran ditambah permasalahan konflik yang tak berkesudahan membuat dia harus berada dipembaringan, penyakit keturunan yang sudah lama dideritanya ini yang belum ditemukan obat penyembuhannya oleh dokter terus bersarang dalam dirinya, namun hanya pencegah saja yang bisa dilakukan.
Seolah kembali ingatannya merasuk kembali ke masa lalu, hubungannya yang pernah kandas ditengah jalan juga disebabkan karena penyakit yang diderita oleh ILHAM, kembali terniang dalam pikirannya, apakah kekasihnya akan menerimanya dengan segala kekuranganku, bila mungkin dia menerima, apakah orang tuanya juga akan menerima, pikiran yang senantiasa membayangi dirinya, dia hanya mampu mengungkapkan perasaan isi hatinya ini kepada sahabat dekatnya saja…
Namun selalu sahabatnya menguatkannya, katakana saja lah kawanku, lebih baik berkata dengan sebenar-benarnya tanpa ada yang harus ditutupi dalam sebuah hubungan. Sebuah kata yang memotifasi sekaligus menyakitkan untuk diungkapkan, bukan ku takut untuk mengatakannya kawanku, tapi kutakut mengecewakannya,,, hanya itu yang terucap dari bibir ILHAM yang sudah pucat karena kurangnya Hemoglobin dalam tubuh lelaki ini.
Sesuai sembuh dan bisa beraktifitas kembali, ILHAM sebenarnya ingin mengungkapkan semua kepada kekasihnya tersebut, belum sempat dia mengatakannya ternyata temannya sudah menyampaikan hal itu kepada Putrie, bak ibarat kapal tersambar petir, karam sebelum berlabuh.

Dalam hati kematian saja yang sudah menyelimuti, kehidupan mengarungi rumah tangga pun sudah tak tergambar lagi dalam hidupnya, ketakutan untuk mengecewakan orang yang dicintai juga hadir dibenak hati, karena kumencintaimu maka ku tak berani hidup denganmu, sebuah keputusan yang memilukan, tak tahu apa jalan yang akan dilewati, kembali hatinya mendekat kepada sang kuasa, memohon petunjuk jalan apa yang akan dilewatinya…
Putrie yang berpura-pura tidak tahu sebenarnya ingin mendengar penjelasan langsung dari kekasihnya tersebut, namun apalah daya, ILHAM yang sudah patah semangat hanya sering berbicara tentang kematian, Putrie pun hanya mampu menangis diam-diam dibekakang ILHAM karena sudah mengerti apa yang telah dibicarakan oleh ILHAM, dan selalu menunggu penjelasan dari kekasihnya tersebut.
ILHAM yang didiagnosa mengalami penyakit cacat darah tersebut diprediksi oleh ahli medis tidak bisa memiliki usia yang panjang, kekecewaan hati ILHAM yang semakin menjadi-jadi juga membuat ILHAM seolah patah kemudi, selalu hati kecilnya berkata, Cinta itu tidak harus memiliki sepenuhnya, ku sudah bahagia pernah mendapatkan cinta yang begitu tulus darinya, tapi ku tidak siap untuk mengecewakan kehidupannya.. bayangan itu yang sering muncul dalam benaknya tersebut.
Namun,,, Putrie berkata lain, cinta mulai angkat bicara, sebuah hal yang diingatnya dalam setiap harinya, cinta yang begitu dalam darinya tak surut, itu bukanlah sebuah alas an untuk memudarkan cinta Putrie kepada ILHAM, malah semakin membuat Putrie semakin mencintai ILHAM, sementara pemuda itu masih dalam kebimbangan yang luar biasa, apakah rela bila dia tetap melanjutkan rasa cintanya bila nanti membuat sang kekasih nantinya terluka.. Istikharah Cinta merupakan jawaban dari sebuah kebimbangan hati…
Walau cinta tak mempunyai Mata…
Tapi cinta mempunyai Rasa…
Cinta ini bukan permainan nafsu saja…
Tapi cinta itu adalah Fitrahnya manusia..
Walau tak sempurna ku memilkimu,,,
Tapi izinkanlah kumelengkapi kesempurnaan itu..

Aidil Harahap

/aidilharahap

Sebagai Pembaca dan Penulis
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?