Ahmad Goltum Chaniago
Ahmad Goltum Chaniago

" Dalam memimpin, saya jadikan rakyat sebagai konsumen. Dan taukah? bahwa konsumen adalah raja" - Ir. Joko WIdodo

Selanjutnya

Tutup

Politik

Ketika Puan Maharani Mengamalkan Jasmerah

18 Mei 2017   20:44 Diperbarui: 18 Mei 2017   20:48 91 1 0

Sejarah adalah sejarah. Ia terjadi di masa lalu. Tapi sejarah, tak bisa dijarah karena posisi dan perannya bisa menentukan sejarah-sejarah yang akan terjadi setelahnya. Tak ada manusia dan bangsa yang hidup tanpa sejarah. Jadi, memaknai sejarah meniscayakan adanya proses membuka kembali memori masa lalu, dan menjadikannya sebagai pelajaran penting untuk melangkah menuju masa depan. Abai terhadap sejarah, berarti tidak menghargai peran dan perjuangan para pendahulu.

Begitu pentingnya melihat kembali sejarah, sehingga al-Quran sebagai kitab suci umat Islam berisi cerita dan sejarah masa lalu. Artinya, siapapun harus belajar dari sejarah masa lalu. Karena jika tidak, sejarah hanya akan menjadi cerita usang yang tidak mempunyai konsekuensi apapun. Termasuk menghargai sejarah adalah menghargai para pendahulu kita. Ayah dan ibu kita; kakek dan nenek kita; dan seterusnya. Kita lahir dari rahim ibu, bukan dari batu. Oleh karena itu, kita mempunyai sejarah masa lalu.

Mungkin itulah kesadaran yang melandasi Puan Maharani untuk memberikan penghargaan terhadap sejarahnya sendiri sebagai seorang anak sekaligus cucu ketika berkunjung ke Bengkulu, tempat neneknya, Fatmawati, berasal. Puan Maharani pulang ke kampung halamannya sendiri.

Hal itu dilakukan bukan karena Puan Maharani sedang ada kegiatan dan kunjungan kerja ke Bengkulu, tapi sejak sebelum berangkat, niat untuk itu sudah ada karena sebelumnya, ia sendiri sudah berpamitan kepada Ibunya, Megawati, dan meminta restu untuk menggelar kegiatan di rumah kakeknya, Bung Karno. Sebagai bentuk penghargaan atas sejarah dirinya, maka Puan Maharani berencana untuk melakukan renovasi rumah yang berada di Jalan Soekarno Hatta, Kelurahan Anggut Atas, Kota Bengkulu itu. Bukan tanpa restu, karena Ibunya serta para Andung (tante) juga menyambut baik keinginan itu.

Tidak hanya rumah pengasingan Bung Karno saja, tapi Puan Maharani juga bermaksud untuk melakukan perbaikan seluruh situs sejarah yang berkaitan dengan Bung Karno dan Fatmawati di Bengkulu. Bahkan renovasi juga akan dilakukan untuk daerah dan tempat lain yang pernah dijejaki Bung Karno lainnya, seperti di Surabaya, Blitar, Ende, dan lainnya.

Artinya, Puan Maharani mengamalkan Jasmerah sebagai bagian dari upaya untuk menjaga dan merawat sejarah dirinya, yang lahir ke bumi karena ibunya, dan sebab kakeknya. Sederhana, kita kadang merenovasi dan memugar pemakaman untuk keluarga kita, batu nisan untuk kakek-nenek kita. Apa tujuannya? Tentu saja sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah kita dan sebagai bentuk menghargai dan menghormati mereka. Tentu saja kita bukan manusia pelupa, seperti kacang yang lupa kulitnya, lupa dari mana asalnya.

Menjaga peninggalah sejarah para pendahulu, adalah bagian dari pengamalan Puan Maharani terhadap adigiumJasmerah. Sehingga ada dua hal yang bisa kita lihat dari Puan Maharani yaitu menjaga peninggalan fisik dan pelaksanaan terhadap ajaran-ajaran atau pemikiran Soekarno. Keduanya adalah poin penting atas pemaknaan Jasmerah yang dilakukan oleh Puan Maharani, yang tidak lupa asalnya, tidak lupa sejarahnya.