Agung Han
Agung Han wiraswasta

Menulislah & biarlah tulisanmu mengalir mengikuti nasibnya... (Buya Hamka) Follow me : Twitter/ IG @agunghan_ , FB; Agung Han Email ; agungatv@gmail.com Tulisan lain ada di www.sapadunia.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora highlight

Aku Ingin Menjadi Ayah yang Baik Sebaik Ayahku

14 September 2017   06:18 Diperbarui: 14 September 2017   06:45 434 1 1
Aku Ingin Menjadi Ayah yang Baik Sebaik Ayahku
Ayah terbaik adalah ayah penuh perhatian- dokpri

Terbangun dari tidur pada dini hari, saya membuka medsos dan scrolling TL twitter. Sebuah  cuitan cukup menarik minat, dari seorang netizen dengan 210 ribu follower.

'Saya berharap, di masa depan bisa menjadi seorang ayah, sebaik ayah saya,'

Jujur perasaan ini tergelitik, sembari menghimpun sebuah kesimpulan. Pasti ayah pemilik akun twitter ini keren, setidaknya keren di mata anaknya sendiri.

"Apakah hal ini bisa menjadi indikasi, keberhasilan seorang ayah?" Bisa iya bisa tidak, tergantung prespektif orang yang memberi jawaban.

Kalau saya termasuk yang sepakat, ayah berhasil adalah yang bisa merebut hati anak anak. Bisa dilihat dari penerimaan anak-anak padanya, hubungan terjadi dua arah dan menyejukkan.

Bagiamana cara menjadi ayah baik?

Berusaha memberi sikap terbaik, kepada istri yang notabene ibu anak anak. Anak anak melihat sikap keseharian ini, disimpan dalam benak dan dibawa sampai dewasa.

Ayah keren, adalah ayah yang memberikan nafkah terbaik. Mempersembahkan makanan dan minuman haq, akan masuk ke lambung dicerna menjadi darah daging.

Ayah menyuplai kasih sayang tulus, tidak berhitung untung rugi dan mau menang sendiri. Sehingga anak dan istri nyaman, tidak menjaga jarak pada si kepala keluarga.

Saya pribadi masih jauh dari ideal, terus belajar mengejawantah persepsi sendiri tentang ayah ideal.

cuitan pagi -dokpri
cuitan pagi -dokpri

Lelaki Berhati Lembut itu Ayahku

Selama puluhan tahun menjadi anak, seingat saya relatif jarang mendapati ayah marah. Kalau mau dihitung, bisa jadi kemarahan itu tak genap sepuluh jari tangan disebut. Almarhum ayah hemat berkata-kata, punya cara sendiri menunjukkan sayang.

Satu kisah terekam jelas, pada saat kenaikan kelas tiga sekolah dasar. Saya minta dibelikan tas sekolah, diutarakan sebulan sebelum hari pembagian rapot tiba.

Tas lama sudah waktunya purna tugas, dua tahun menjadi wadah buku dan alat tulis. Selain warna hitam mulai pudar, kain bahan dasar tas sudah menipis dan rusak di sana sini. Beberapa bagian pintalan benang lapuk, membuat isi didalam tas tidak aman.

Pernah ujung pensil menerobos lubang darurat, akhirnya alat tulis satu satunya hilang tak berjejak.

'Ayah, kalau nanti naik kelas, beliin tas ya'

Sudut bibir lelaki sederhana mengembang, tiada sepatah kalimat keluar dari mulut. Pada wajah tidak tampak guratan marah, hanya ada garis di jidat seolah memikirkan sesuatu.

Si bocah bimbang, tak bisa menangkap arti senyuman itu. Nyalinya tidak cukup keberanian, memastikan makna dari senyuman yang ditangkap.

Hari pertama tahun ajaran baru tiba, tas hitam berlubang di sudut kanan bawah masih setia. Baru saya bisa tahu arti senyuman, bahwa tas sekolah baru hanya sekedar impian. Dua kaki mengayun gontai, tak berani protes apalagi merajuk.

Sikap ayah yang irit bicara, memberi dampak secara psikologis. Bahwa secara fisik kami tidak terlalu dekat, hanya sesekali bicara kalau ada perlu.

Seminggu setelah masuk sekolah, jawaban atas senyuman ayah dikoreksi. Kejutan ditunggu tiba, pada senin pagi setelah sarapan. Kali ini, senyum ayah lebih lebar dari sebelumnya. Hingga menampakkan deretan gigi, disa bisa gigi kering karena senyum terus menerus.

Tas sekolah berbahan kain tebal, dominasi  warna cokelat berseling cokelat muda pada bagian pinggir. Dua saku besar menempel pada bagian depan, dengan resleting bergerigi menambah keren penampilan.

Tak sabar, saya segera memindahkan semua isi di tas lama. Mengisi setiap ruang, dengan buku dan alat tulis dimiliki. Memanggul tas baru dipunggung, membuat badan kecil itu seolah melayang. Senyum ayah dan anak begitu lepas, rasa sayang bermekaran di hati masing masing.

Masih banyak peristiwa lain membekas, mengingatnya menguatkan kesan ayah pribadi istimewa. Cara ayah susah diterka, demi mewujudkan keinginan buah hati tanpa berjanji.

Peristiwa puluhan tahun silam, terus membekas di kalbu anak bungsu. Sungguh lelaki sederhana berhati lembut, dengan segala keterbatasan berusaha mewujudkan mimpi.

Pada usia 70 ayahanda berpulang, meninggalkan duka mendalam bagi anak istr. Ibu adalah orang paling berduka, berhari hari dua bola mata itu tampak sembab.

'ayahmu itu, jarang marah sama ibu'

Perjalanan kehidupan ayah terurai, setelah ibu bercerita panjang kali lebar. Saya akhirnya memaklumi, musabab ayah menjadi pribadi pendiam dan lembut.

-0o0-

illustrasi- dokumentasi pribadi
illustrasi- dokumentasi pribadi

Beberapa hari setelah kelahiran ayah, ibunda yang telah mengandung dan melahirkan meninggal dunia. Anak yatim ini diasuh kakak tertua, berlimpah kasih sayang dari ayah kandungnya. Kehilangan pelukan hangat sang ibu, membuat harinya terasa tidak genap.

Setelah dewasa dan menikah, satu peristiwa menggoreskan luka tidak pernah hilang. Tahun 1966, ketika itu karir sebagai guru baru beberapa tahun dirintis. Nasib mujur enggan berpihak, terkena fitnah namanya disangkutkan organisasi dilarang pemerintah.

Imbas peristiwa berdarah di Jakarta lebih dikenal G30S/ PKI, merembet sampai daerah pelosok. Lelaki malang tidak pernah berpolitik, hatinya diliputi perasaan khawatir berlebihan. Setiap terdengar suara huru hara dari luar rumah, matanya melotot dan air mukanya berubah drastis.

Peristiwa pilu suatu sore, guru muda digelandang ke kantor polisi dan diintrograsi. Sehari semalam ditahan, pada hari kedua lelaki lugu dipulangkan. Sejak saat itu hidup tak tenang, ketakutan berlebihan seolah menyelimuti.

Tahun 1967 kondisi mulai kondusif, guru muda sempat diskors dinyatakan bersih. Keadaan mulai berpihak, dunia mengajar kembali ditekuni. Peristiwa kelam pada masa muda, membuat ayah lebih banyak diam. Kepedihan dialami, menumbuhkan perasaan sayang kepada istri dan anak anaknya.

-0o0-

Mencerna cuitan di twitter dini hari, membuka kembali memori tentang ayah. Ayahku dengan segala keterbatasan, adalah ayah istimewa di hati anak bungsunya. Mungkin ga ya, kelak anakku bersikap seperti sikapku pada ayahku.

Salam hormat dan sungkem, untuk ayah kompasianers dimanapun berada.