Rapimnas III Golkar untuk Indonesia Lebih Baik

09 Mei 2012 03:38:32 Dibaca :
Rapimnas III Golkar untuk Indonesia Lebih Baik

Partai Golkar Milik Semua Warganya Partai Golkar yang lahir di akhir pemerintahan Pak Karno, yang lahir pada tahu 1964, yang sudah Delapan kali pergantian Ketua Umum, dan yang selalu tampil sebagai pemenang Pemilu pada tahun 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997, bukanlah milik seorang Pak Ical, melainkan milik seluruh warga Partai Golkar yang menginginkan partai Golkar tidak hanya dimilki oleh warga Partai Golkar, tetpi semua elemen masyarakat Indonesia merasa memilikinya. Mengapa saya menagatakan bukan milik seorang Pak Ical? Karena Pak Ical menyuruh atau memersilahkan Pak JK untuk mencari Partai lain, kalau Pak JK mau maju di Pilpres 2014 nanti. Ini kata-kata Pak Ical di Kompas.com "Kalau semua DPD solid, saya akan menjadi calon (presiden) satu-satunya dari Partai Golkar. Kalau Pak JK maju, silahkan tetapi harus mencari partai lain,". Pak Ical berani berkata seperti itu karena berpedoman pada Keputusan Rapimnas II Partai Golkar, itu kan masih secara de jure. Ok, secara de facto Pak Ical bisa dinyatakan sebagai calon Presiden 2014 karena 33 Dewan Pimpinan Daerah menyatakan mencalonkan Pak Ical. Namu, secara de jure Partai Golakar belum memiliki keputusan mengenai Calon Presiden RI 2014. Nah, disni membuka kemungkinan bagi seluruh warga Partai Golkar untuk menjadi calon Presiden RI  2014, termasuk Pak JK. Selain berpedoman pada Rapimnas, keberanian Pak Ical berkata seperti di atas, juga karena keambisian Pak Ical. Ambisi yang Berakhir Kegagalan Melihat ambisi Pak Ical untuk menjadi calon Presiden RI 2014, bagaikan Perang Bubat di Tanah Sunda. Gajah Mada tidak ingin Kerajaan Sunda menjadi kerikil dalam Kerajaan Majapahit. Untuk melengkapi keberhasilannya menyatukan Nusantara, Majapahit harus menaklukkan Sunda. Bila kekuatan angkatan perang tidak mungkin, cara lainnya adalah melalui pernikahan. Ternyata Sunda tidak bisa diteklukkan dengan angkatan perang, terjadilah pernikahan Dyah Pitaloka (Putri Raja Sunda) dengan Raja Majapahit. Tapi pernikahan itu bagi Gajah Mada, bukanlah perkawinan antara seorang raja dengan putri dari dua kerajaan, melainkan penyerahan upeti sebagai tanda takluk Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Melihat hal ini, Gajah Mada melalui Sumpah Palapa, mengukuhkan dirinya sebagai sosok yang ambisius. Namun yang terjadi, ambisi Gajah Mada tidak menghasilkan kemenangan seperti yang diharapkan, melainkan kehancuran Kerajaan Sunda, juga dirinya sendiri. Pahlawan terbesar sepanjang sejarah Majapahit, orang yang pertama kali menyatukan seluruh Nusantara, akhirnya Gajah Mada menjadi buronan negerinya sendiri. Kerajaan Sunda dan mama besarnya runtuh karena hanya mementingkan ambisi dan mengabaikan sesuatu yang tak kalah besar. Ambisius Pak Ical itu telah membuat Partai Golkar mengabaikan sesuatu yang tak kalah besar, yaitu lebih diterimanaya Pak JK ketimbang Pak Ical. Memang 33 DPD Partai Golkar mendukung Pak Ical, itu di internal Golkar, namun antara Pak Ical dengan Pak JK, secara umum masyarakat Indonesia lebih setuju kepada Pak JK jadi Presiden. Apalagi Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Pak Akbar Tanjung yang optimis bahwa Pak JK bisa punya peluang. "Kita lihat, kalau memang sistemnya terbuka seperti yang kami usulkan maka Pak JK (Jusuf Kalla) berpeluang. Beliau berpeluang besar," ( Kompas.com ) Rapimnas III untuk Indonesia Lebih Baik Hasil Rapimnas II Partai Golkar harus dinjunjung tinggi oleh warga Partai Golkar dan harus diakui oleh seluruh rakyat Indonesia. Namun, tidak segegabah itu DPD Golkar dalam mengambil sebuah keputusan. Partai Golkar bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Indonesi. Rapimnas III Partai Golkar nati merupakan langkah Partai Golkar dalam menentukan masa depan Bangsa Indonesia, bukan hanya masa depan Golkar. Oleh karena, Warga Partai Golkar yang memiliki peran penting dalam Rapimnas III nanti, hendaknya menjadikan Rapimnas III sebagai jalan Indonesia menuju perubahan yang labih baik, Indonesia yang pemberani, Indonesia yang tanggap, Indonesia yang damai, Indonesia adil dan sejahtera, Indonesia yang disenangi oleh dan disegani oleh negara-negara lain.

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?