PILIHAN HEADLINE

Berbahayanya Jalan Negara di Pangkalan Kabupaten Limapuluh Kota

17 Maret 2017 10:22:41 Diperbarui: 17 Maret 2017 12:47:51 Dibaca : 304 Komentar : 1 Nilai : 0 Durasi Baca :
Berbahayanya Jalan Negara di Pangkalan Kabupaten Limapuluh Kota
Salah satu titik longsor di Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatera Barat. (FOTO: BNPB)

Entah apa yang akan terjadi di perbukitan kiri-kanan jalan negara di Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Limapuluh Kota, kalau terjadi lagi hujan deras bagai dicurahkan dari langit .

Jika hujan turun sebelum memasuki kawasan Pangkalan, sebaiknya perjalanan ditangguhkan. Sebab, resikonya sangat besar. Berbahaya. Di banyak kawasan pada kiri-kanan tanah perbukitan jelas sangat labil. Tidak kuat lagi. Memprihatinkan kondisinya. Meski tanggap darurat bencana di Kabupaten Limapuluh Kora sudah berakhir, namun tanah perbukitan berpotensi longsor ‘bagarumbuih-tumbuih' menghampai apa saja yang menghambatnya.

Bagi warga yang menyaksikan bekas hantaman longsor memang terasa memiriskan. Jalan negara di beberapa lokasi masih terpasang 'garis polisi' sebagai tanda hati-hati melewatinya. Bahkan, pinggir jalan yang longsor bisa saja tanahnya sangat labil karena setiap saat dilalui kendaraan dan membuat ketahanan fisiknya menurun. Semuanya itu butuh percepatan rehab jalan dan tebing. Tanah labil yang membahayakan tersebut juga harus dikikis habis.

Jelas, dana besar sangat dibutuhkan dalam hal ini. Permerintah Pusat melalui Kementerian PU PR tentu sudah menguasai semua problema kawasan rawan bencana di Pangkalan ini. Namun, dalam mengatasi problema kecemasan masyarakat ini sangat memerlukan kejelian banyak pihak.

Jalan negara di kawasan Pangkalan adalah alat penghubung perlalulintasan antar-provinsi di Sumatra. Lalulintasnya berlangung 24 jam.

Saat ini, lalulintas Sumbar-Riau kini memang sudah normal kembali. Namun, Anda jangan takabur. Sebaliknya, harus ekstra hati-hati. Jika hujan turun, bahaya dan maut niscaya selalu mengancam.

Meski perbukitan di areal longsor bukanlah kawasan gundul karena beragam tumbuhan kayu besar dan kecil berkembang subur, namun tanahnya tidak kuat menahan pepohonan bertahan, untuk tidak melorot dihantam air yang dicurahkan dari langit.

Sepintas, di lokasi yang kini keadaannya mengkhawatirkan itu hutannya tetap subur. Akan tetapi, kita sebagai ummat beragama (Islam) harus mengakui bahwa Allah Maha Kuasa. Kalau Yang Maha Kuasa sudah berkehendak, maka apapun bisa saja terjadi.

Mari kita jadikan bencana ini untuk mengoreksi diri kita masing-masing. Mungkin saja kita lengah, lemah, dan lepas kontrol, sehingga kita lupa saling ingat-mengingatkan. Mungkin saja kita lupa memberi nasehat pada warga kita yang berperangai tidak terpuji.

Mengakui keteledoran memang pahit. Kita selama ini cenderung mengupas terjadinya bencana karena kerusakan alam belaka. Penebangan pohon secara liar, tidak menjaga kelestarian alam, dan lain sebagainya.

Sepulang dari Pangkalan untuk menyerahkan bantuan, Selasa malam lalu (14/3/2017, penulis istirahat sejenak setibanya di Kota Payakumbuh. Penulis didatangi orangtua yang tidak dikenal dan terjadi dialog singkat.

“Anak dari Pangkalan, ya?’ tanya orangtua itu.

“Benar,” jawan penulis.

“Ingatlah, nak, terjadinya bencana itu juga disebabkan ulah perangai manusia. Di lokasi longsor itu selama ini beragam perangai anak manusia yang bertentangan dengan agama. Pemerintah pun sudah sering memberi peringatan dan menangkap serta memproses pelakunya. Namun, mereka tidak jera. Begitulah sejak dulu,” kata orangtua yang tidak penulis kenal itu.

Memang benar, bencana itu terjadi akibat ulah manusia. Alam itu tidak salah. Maka ‘kembalilah’, ‘bertobatlah’. Kita umat Islam, mari kita hidup di bumi yang damai ini dan menghindari semua kemaksiatan. Sekali-sekali, kita lihat peristiwa bencana itu dari kacamata jernih, ajaran Islam, sebagai sumber keselamatan dunia dan akhirat, terjauh dari segala marabahaya. Aamiin. *

Adi Bermasa

/adibermasa

TERVERIFIKASI

Aktif menulis, pernah menjadi Pemimpin Redaksi di Harian Umum Koran Padang, Redpel & Litbang di Harian Umum Singgalang, sekarang mengabdi di organisasi sosial kemasyarakatan LKKS Sumbar, Gerakan Bela Negara (GBN) Sumbar, dll.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH PLATFORM BLOG, SETIAP ARTIKEL MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

NILAI :

Daftarkan email Anda untuk mendapatkan cerita dan opini pilihan dari Kompasiana