HIGHLIGHT

Nostalgia Sepak Bola 140 cm di Jember

08 Juni 2012 23:01:57 Dibaca :

Seperti bocah-bocah lelaki pada umumnya, saat masih kecil dulu saya juga menyukai permainan sepak bola. Terlebih, saya tumbuh di pinggiran kota kecil Jember. Tidak sulit bagi saya dan teman teman sebaya mencari sebidang tanah lapang untuk kemudian berbagi peran, mana yang lawan mana yang kawan bertanding. Mengenai tiang gawang, cukuplah menggunakan sandal sebagai tanda dan di pasang di kiri dan kanan, jaraknya sesuai kesepakatan bersama. Sederhana, tapi sangat membahagiakan. Kami adalah sekelompok bocah yang tahu caranya bersenang senang tanpa harus mengeluarkan biaya.

Pada era tahun 1988 - 1994, kota kecil Jember sedang marak dengan penyelenggaraan laga sepak bola remaja. Orang-orang menyebutnya dengan sepak bola pager sesek (pagar dari bambu) karena pihak penyelenggara menutup rapat keliling lapangan dengan pagar bambu. Dengan kata lain, jalannya pertandingan (lomba) sepak bola ini tidak gratis. Untuk bisa menyaksikannya, anda harus menuju loket (terbuat dari sekat sederhana seukuran KBU wartel, lalu ada celah selayaknya loket) dan membeli karcis seharga seratus rupiah. Para penonton yang masuk harus melewati penjaga gerbang. Di sinilah tempat penyobekan karcis, dan di sinilah saya biasa berada. Dengan mata yang awas, berharap ada karcis yang luput dari sobekan. Di tempat saya, beginilah cara bocah mempertahankan uang saku pemberian ibunya. Buruk, jangan dicontoh, hehe..

Laga sepak bola itu bukan hanya dikenal dengan nama "pager sesek." Ada juga yang menyebutnya dengan bal balan (sepak bola) ukuran 140. Setiap pemain tidak dipandang dari sisi usia, melainkan tinggi badan. Harus 140 cm. Lebih satu centi saja, maka sang pemain harus pandai-pandai meloloskan diri saat sesi pengukuran oleh panitia. Cara paling kuno untuk lolos adalah dengan mengempiskan perut hingga akhirnya sedikit membungkuk. Pengukuran ini dilakukan sesaat sebelum bermain.

Dari sanalah istilah bal balan 140 muncul. Dan pada akhirnya istilah sepak bola 140 lebih populer ketimbang istilah sepak bola pager sesek.

Saya mempunyai sebutan tersendiri untuk era tersebut. Yaitu sepak bola sate usus. Alasannya sederhana. Dimana ada desa / kampung yang menyelenggarakan lomba sepak bola 140 cm berpagar bambu, di situ pasti ada penjual sate usus. Kala itu istilah sepak bola tarkam (antar kampung) malah sama sekali tidak pernah saya dengar. Entahlah, mungkin karena saya masih terlalu bocah dan mudah melupakan beberapa hal.

Bisa dibilang, saat itu saya tumbuh di jaman keemasan sepak bola remaja Jember (diluar gala siswa) ukuran 140 cm. Ada banyak nama klub sepak bola 'sate usus' yang masih saya ingat hingga sekarang. Diantaranya adalah Anker (Anak Kereongan), Putra Wahyu Dewata, Yoma Putra, Gerpas, Arepa, Lawgriess, Perseka Kauman dan beberapa lagi. Saya juga masih ingat nama-nama pemain terbaik atau pencetak gol terbanyak di jaman itu. Ada Lutfi, Didit, Suker Anker (Almarhum), Adi Gerpas, Sauri, dan Zainul.

Cerita di atas melegenda di hati saya. Memang ada beberapa gambaran kecurangan, seperti saya yang senang mencari cara untuk masuk dengan gratis, dan atau curangnya pemain di sesi pengukuran badan. Tapi, bukankah saat itu kami masihlah belum dewasa?

Saya tidak bisa menutupi kenyataan, saat itu memang ada beberapa kali tawuran. Tapi itu terjadi ketika suporter terpancing dengan kejadian di dalam lapang, dimana ada pemain yang sok jagoan. Atau, keributan antara pihak tim sepak bola dengan penyelenggara acara. Selebihnya, hanya kenakalan remaja seperti pada umumnya. Dan yang perlu dicatat, telinga saya belum pernah mendengar adanya korban meninggal. Sangat jauh berbeda dengan fenomena yang terjadi saat ini di bumi Indonesia.

Itulah nostalgia antara saya dan sepak bola.

RZ Hakim Hakim

/acacicu

TERVERIFIKASI (HIJAU)

Rakyat biasa yang senang menulis. Tinggal dan berteduh di rumah singgah Panaongan - Jember.
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?