HIGHLIGHT

Makna "Bandros" Dalam Hidupku?

30 Mei 2012 14:06:11 Dibaca :

Siapa yang tak mengenal "Kota Tentara" di kawasan cekungan Bandung, Kota Cimahi. Disana berdiri luas areal rumah sakit untuk para tentara, pensiunan tentara, sipil tentara, bahkan pasien rujukan Askes dan Umum. Rumah sakit itu merupakan peninggalan Belanda yang didirikan tahun 1887 dengan nama “Milifaire Hospital” dan tahun 1956 diberi nama Rumah Sakit Dustira. Nama dari seorang Mayor Tentara, dr Dustira Prawiraamidjaya, seorang dokter kelahiran Tasikmalaya 25 Juli 1919.

So what, bukan saya akan akan mengajak anda mengetahui dibalik sejarah rumah sakit. Akantetapi didepan rumah sakit tersebut setiap pagi dan sore hari, tersaji sebuah jajanan tradisional berbahan kelapa, tepung beras dan santan kental. Anda pasti mengenal jajanan tradisional itu bernama "Bandros".

Pagi itu, setelah menjalankan spiritual disiplin "solat", seorang pasien tentara menyapaku (Abah), "sarapan aya naon a di luar rumah sakit", ujarnya. Jawabku, "Kupat tahu, Bacang, Roti Bakar". Lalu ia mengerutkan kening dan terjadilah intruksi, "ought bosen, komo deui roti bakar teu asup pisan kanu letah (maklum nyunda), hayangna mah kopi hideung jeng udud, hhee, mun ayamah "Bandros" weh aa, sa garis", ujarnya.

Tanpa berpikir panjang, perintah itu saya laksanakan. Berjalan menyusuri lorong di Rumah Sakit Dustira, Cimahi, bukanlah pengalaman pertama, jadi sudah terbiasa saya kucing-kucingan dengan Petugas jaga. Maklum, area militer di bawah Kodam III/slw, jadi sangat disiplin. Nah, bagi anda yang akan menjenguk kesana, baca dulu saja aturan bagi penunggu pasien yang terpampang di pintu masuk rumah sakit.

Tahun 2003, pertama kali Babeh yang ku panggil "Abah" masuk rumah sakit, setelah itu, tahun 2005, kemudian 2008 dan terakhir kalinya di bulan April tahun 2009. Abah akhirnya menghembuskan nafas terakhir, terserang penyakit jantung dan berakhir dengan pecahnya pembuluh darah pada otak. Sejatinya, ia terbebas dari persoalan duniawi dengan wajar, karena individu yang hidup di dunia ini pasti meninggal "Menunggu Kematian", tunggulah giliran anda selanjutnya, hhee, . . (pray my father).

Tahun 2008 lalu adalah tahun dimana saya membeli "Bandros" untuk Abah. Depan Rumah Sakit itu, "Bandros" dijual Rp.2500,- satu garis. Penjual "Bandros" yang ditanggung oleh seorang kakek tua itu, sangat piawai membuat jajanan tradisional khas sundaini. Dinginnya Kota Cimahi, tiba-tiba terhangatkan oleh jajanan khas sunda ini, apalagi ditambah kopi hideung plus class (tak layak menjelaskan produk rokok, maaf). Sungguh sederhana hidup ini, namun masa-masa itu cukup bahagia dan mudah-mudahan masa-masa tua nanti, kita lebih bahagia, amin.

Selesai membelikan Abah "Bandros" terbesit dalam pemikiran, Ia adalah Pahlawan dalam hidupku "panjangkan usianya ya Allah, saya ingin merawatnya kelak, dan saat itu saya berhasil", ujarku. Sarapan "Bandros" itu, terjadi diluar ruang perawatan rumah sakit, dibelakang teras bangsal 10, khusus penyakit dalam. Maklum pasien sedikit "Bandel" seharusnya dilarang makan, makanan diluar rumah sakit. Sambil menikmati matahari pagi yang malu-malu menampakan keindahannya.

Ia (Abah) kembali memberikan petuahnya, "semenjak sekolah di tingkat dasar sampai hari ini, kita tak boleh menyusahkan orang lain, meskipun diakhir-akhir kehidupan, bahkan keluarga sendiri", ujarnya. Abah memang terlahir dari seorang ayah (Abah Aki) penjual Kupat Tahu, jadi semenjak muda ia kerja keras untuk menjadi seorang prajurit TNI. Lalu, diakhir perbicangannya ia berkata, "diakhir hidupku nanti, tak ingin menyusahkan seluruh keluarga, khawatir saja, suatu hari nanti terkena penyakit stroke", ujarnya. Segala sesuatunya pasti meminta bantuan orang lain, "pasti wae nyusahkeun keluarga", ujarnya.

Akhirnya di tahun 2008 itu ia berikrar, andai Illahi ingin mencabut nyawaku, mudahkanlah, jauhkanlah dari penyakit yang menaun dan menyusahkan orang lain. Itulah sedikit "spirit fighting" yang selalu ia amanatkan kepada generasinya, disela-sela obrolan ringan. Jadilah cepat anak yang mandiri, dan nanti menjadi seorang Ayah yang senantiasa memberikan makna diperjalanan anaknya. Terapkan itu semua pada generasimu dan masyarakat banyak tentunya.  Setelah itu, ia kembali ke ruang perawatan dan berharap segera pulang untuk berkumpul kembali di rumah.

Vera Hermawan

/63226cd2c0249e5

Jurnalist, Advanture & Humanist
Selengkapnya...

KOMPASIANA ADALAH MEDIA WARGA, SETIAP KONTEN DIBUAT OLEH DAN MENJADI TANGGUNGJAWAB PENULIS.

Siapa Yang Menilai Tulisan Ini ?