Kandidat

Kepemimpinan Profetik Vs Trik Saudagar

7 Desember 2018   18:40 Diperbarui: 7 Desember 2018   18:49 366 0 0
Kepemimpinan Profetik Vs Trik Saudagar
foto:merdekanews.co

Nabi Yusuf merupakan figur istimewa dalam Islam---juga agama ibrahimiyah lainnya. Membaca kisah Yusuf akan membawa setiap pembacanya ke dalam panorama tata negara dan politik di era Mesir kuno. Secara substansi, Nabi Yusuf adalah negarawan, politikus, dan CEO yang berhasil menyelamatkan Mesir dari situasi krisis.

Begitu istimewanya Nabi Yusuf sampai-sampai Allah Yang Maha Pemurah mengabadikannya sebagai salah satu nama surat di dalam Al Quran. Saya memaknainya bahwa Tuhan telah memberi pedoman bernegara dan berpolitik.

Banyak pelajaran yang bisa diserap dari kisah Nabi Yusuf. Pertama, ia berhasil bangkit dari seorang terpuruk menjadi sangat sukses. From nothing to be everything. Yusuf belia pernah dibuang oleh saudara-saudarinya yang tidak berkenan atas bakatnya. Hari-hari kemudian menjatuhkan Yusuf ke titik terendah. Ia menjadi budak, sebuah status yang bahkan lebih rendah dari seekor keledai.

Yang kedua, Yusuf memiliki mental baja. Dirinya pernah dipersekusi oleh kerajaan, bahkan seluruh Mesir karena difitnah selingkuh dengan Zulaikha. Namun baginya penderitaan adalah sebagian dari perjuangan. Yusuf tak lari ke luar Mesir, melainkan menghadapi semua tuduhan itu dengan paling berani. Selama beberapa waktu Yusuf mendekam di penjara. Tetapi ia mampu melawan dengan argumen dan bukti sehingga pengadilan memutus ia tak bersalah.

Ketiga, Yusuf tak mendendam. Suatu ketika raja bermimpi buruk dan meyakini mimpinya berkaitan dengan masa depan Mesir. Maka dipanggillah para orang pintar untuk mentakwil mimpi tersebut. Yusuf pun terpanggil untuk mengartikan mimpi raja, terutama karena ia memiliki bakat memprediksi masa depan. Alhasil raja takjub ditambah khawatir dengan penjelasan Yusuf. Mesir bakal menyongsong krisis! Sungguh demikian, ini bukan obvious lies yang bertujuan menanamkan ketakutan raja. Namun ada pertanyaan penting; bagaimana caranya menghindari krisis?

Ini hikmah selanjutnya dari kisah Yusuf. Ia bisa saja bungkam terkait antisipasi krisis. Namun nyatanya Yusuf memberikan solusi cerdas, yakni program ketahanan pangan. Mesir akan memasuki masa panen raya selama tujuh tahun. Sebagian hasilnya akan disimpan di gudang pangan demi menghadapi masa paceklik tujuh tahun berikutnya.

Belum berhenti di situ, Yusuf bahkan berani meminta jabatan sebagai bendahara kerajaan. Raja menyanggupinya karena percaya Yusuf takkan berkhianat. Sedangkan bagi Yusuf, urusan negara lebih penting dari sekadar membalas penderitaan yang dilaluinya. Ia pun akhirnya berhasil menyelamatkan krisis dalam tujuh tahun, persis seperti prediksinya dan strategi yang ia utarakan. Keberhasilan ini kemudian hari mengantarkan Yusuf menjadi penguasa Mesir setelah sang raja wafat.

Hari-hari terakhir, seorang saudagar bernama Sandiaga Uno membuat sensasi, mengklaim akan memulihkan ekonomi Indonesia hanya dalam waktu singkat. Ia menyebut jika Nabi Yusuf butuh waktu tujuh tahun, Prabowo-Sandi hanya perlu tiga tahun.

Tidak perlu menganggap Sandi merasa lebih hebat dari nabi. Ia memang hobi membuat segalanya ramai. Hanya kita perlu menguji, apakah pernyataannya sesuai realitas?

Sandi mengutarakan ada tiga jurus pemulihan ekonomi. Yaitu mengurangi impor, bersinergi dengan pelaku usaha dan, pembangunan infrastruktur. Ketiganya tampak hanya semacam judul bab.

Pertama, mengurangi impor. Data yang dilansir BPS Oktober lalu menyebut, Indonesia surplus perdagangan ekspor sebesar 0,23 persen. Menkeu Sri Mulyani mengakui surplus terjadi karena impor menurun, terutama dari sektor migas. Namun pertumbuhan ekspor yang cenderung melemah dapat dimaklumi mengingat geliat ekonomi Tiongkok, salah satu mitra dagang terbesar Indonesia, sedang lesu.

Soal sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha, kiranya maksud Sandi lebih kabur lagi. Sementara soal pembangunan infrastruktur, pemerintahan Jokowi-JK sekarang terbukti melampaui banyak harapan. Lebih dari 4000 km jalan baru, 65 bendungan, 2,5 juta perumahan serta jaringan listrik dan pengairan menjadi bukti keberhasilan pemerintah sekarang. Lebih jauh lagi, pemerintah berhasil menurunkan persentase kemiskinan hingga di bawah 10 persen.

Apakah dengan semua pencapaian kerja tersebut membuat Jokowi melampaui Nabi Yusuf. Sama sekali tidak, dan Jokowi tak pernah mengklaim seperti itu.

Apa yang diucapkan Sandi sebenarnya menunjukkan ia tak terlalu paham ucapannya. Dengan begitu ia mengulang apa yang dilakukannya di Jakarta. Terlalu banyak janji dan program sensasional tetapi ujung-ujungnya ambyar. Seperti Oke Oce Mart yang jadi bahan tertawaan.

Meski begitu, perlu dimengerti bahwa Sandiaga adalah saudagar berpengalaman. Ia menguasai trik dagang, dari yang halus sampai yang ekstrem. Dan pilpres baginya tak lebih dari menjual produk.