Achmad Zaky
Achmad Zaky

Anak seorang guru. Lahir dan besar di Solo. Pernah merantau mencari ilmu di sebuah institut teknologi di kota Bandung. Sekarang di Jakarta, menjalankan usaha di bidang teknologi internet. Memiliki harapan besar pada teknologi internet untuk bisa membawa kemajuan masyarakat Indonesia. Pernah menjadi duta kampus dalam Harvard National Model United Nations untuk bidang pengembangan berbasis teknologi. Senang mempelajari entrepreneurship, design, teknologi dan interaksinya dengan manusia.

Selanjutnya

Tutup

Media

Industri Internet : Peluang dan Tantangan

11 November 2009   17:03 Diperbarui: 26 Juni 2015   19:22 857 0 3

Status Internet Indonesia

Kehadiran internet bisa dibilang terlambat di Indonesia. Oleh karenanya penetrasi internet kurang begitu besar. Data akhir tahun 2007 dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan jumlah pengguna internet Indonesia mencapai 25juta jiwa. Diproyeksikan untuk tahun 2008 ini adalah sekitar 33 juta jiwa. Pertumbuhan jumlah pengguna internet per tahun berdasarkan data tersebut adalah sekitar 20an persen. Besar pertumbuhan ini jauh lebih besar dari jumlah pertumbuhan penduduk di Indonesia yang tidak lebih dari 3%. Ini semakin meyakinkan kita bahwa ke depan internet akan menjadi media baru yang akan dinikmati seluruh masyarakat Indonesia seperti halnya televisi sekarang.

Walaupun memiliki pertumbuhan jumlah internet yang cukup besar, tidak demikian penetrasi pengguna internetnya. Dibandingkan dengan Negara lain di belahan dunia, Indonesia tergolong Negara yang memiliki penetrasi pengguna internet paling bawah yaitu tidak mencapai 10%. Kondisi ini cukup ironis mengingat Indonesia yang merupakan Negara kepulauan yang sebenarnya sangat membutuhkan teknologi ini. Selain itu Indonesia memiliki potensi PDB peringkat 20 yang bisa membuka peluang ekspansi pasar internasional melalui internet. Data yang didapatkan dari webhosting.info semakin memperkuat ketertinggalan Indonesia di bidang pengembangan internet. Indonesia menduduki peringkat 36 dalam jumlah domain yang melakukan hosting di Indonesia yaitu sebanyak 100.000. Bisa dibilang, jumlah website yang dimiliki orang Indonesia hanya 100.000. Ini sangat jauh sekali menyimpang dari peringkat jumlah penduduk Indonesia yang menduduki peringkat 4 dan jumlah PDB Indonesia yang menduduki peringkat 20 dunia. Bahkan Indonesia berada di bawah Thailand dan sedikit di atas Malaysia yang notabene merupakan Negara yang memiliki demografi yang hampir mirip dengan Indonesia dengan jumlah penduduk yang tidak lebih dari 15% penduduk Indonesia.

Beberapa waktu lalu World Economic Forum mengeluarkan hasil risetnya dalam Global Information Technology Report 2007-2008. Mereka melakukan pemeringkatan tentang kesiapan dalam hal jaringan internet terhadap seluruh Negara di dunia. Dalam Networked Readiness Index tersebut Indonesia mendapat peringkat ke 76, jauh di bawah Malaysia dan Thailand. Apabila peringkat ini dibandingkan dengan peringkat tahun sebelumnya yaitu peringkat 59, Indonesia mengalami penurunan yang cukup besar. Hasil riset World Economic Forum ini mengukur 3 hal penting, yaitu lingkungan untuk tumbuhnya ICT, kesiapan dari seluruh stakeholder bisnis, dan juga pemanfaatan dari ICT itu sendiri. Yang menarik dari hasil riset tersebut adalah, Indonesia menduduki peringkat 4 dunia untuk persepsi penerimaan produk/jasa ICT luar negeri, peringkat 9 untuk kepuasan pembeli produk/jasa ICT, dan peringkat 12 untuk jumlah impor produk/jasa ICT. Ini memperlihatkan bahwa selama ini kita masih sangat konsumtif terhadap pemanfaatan ICT. Fenomena ini juga terjadi di dunia internet Indonesia. Masih banyak sekali masyarakat kita yang tergantung produk/jasa internet dari luar negeri. Seperti halnya google, yahoo, facebook, dan friendster. Sudah seharusnya pemerintah bekerja keras mendorong tumbuhkembangnya Internet di Indonesia. Lahirnya UU ITE merupakan langkah yang bagus untuk menumbuhkan industri internet di Indonesia. Hendaknya ini dibarengi dengan pelaksanaan hukum yang tegas dan konsisten. Dengan UU ITE, kini data digital bisa dijadikan barang bukti kejahatan untuk menjerat pelaku-pelaku kejahatan di dunia virtual. Selain itu transaksi elektronik yang digunakan oleh dunia bisnis juga sudah memiliki kekuatan hukum. Ini semakin memantapkan dunia bisnis di Indonesia dengan adanya kepastian hukum.

Selain melahirkan UU ITE, pemerintah juga harus segera menyelesaikan megaproyek Palapa Ring. Palapa Ring merupakan tulang punggung jaringan internet di seluruh pulau di Indonesia. Beberapa regulasi terkait internet murah juga sudah dikeluarkan pemerintah. Kita harapkan pemerintah terus bekerja secara optimal sehingga tercipta pertumbuhan industri internet yang bisa memajukan masyarakat Indonesia.

Potensi Ekonomi Internet di Indonesia

Dengan jumlah pengguna internet yang sudah mencapai hampir 30 juta, tentunya ini potensi ekonomi tersendiri bagi Indonesia. Banyak pihak memprediksi hadirnya internet ini seperti hadirnya teknologi listrik pada tahun 1920an. Internet akan melahirkan kehidupan ekonomi baru dimana dalam kehidupan ekonomi tidak bisa dilepaskan dari internet. Apabila penetrasi internet di Indonesia sudah sangat masif, segala kegiatan ekonomi akan sangat berkaitan dengan internet. Di Indonesia banyak minimarket sekarang menggunakan internet untuk melakukan pemesanan barang yang habis. Dengan adanya internet, pihak minimarket tidak perlu lagi melakukan pemesanan ke supplier sehingga lebih hemat BBM. Penggunaan internet dalam kehidupan ekonomi akan menghasilkan ekonomi berbiaya rendah (low cost economy).




Kami telah melakukan analisis potensi industri yang akan hadir seiring tumbuh kembangnya internet, seperti terlihat pada framework di atas. Industri yang memiliki pengaruh besar akan hadirnya internet adalah media. Hal ini dikarenakan internet secara langsung menjadikan media untuk menyampaikan informasi. Walaupun jumlah pengaksesnya belum sebesar media televisi, pengakses media internet telah jauh melampaui media cetak bahkan mungkin puluhan kali lipat lebih banyak potensinya. Munculnya pemain-pemain lokal industri internet yang memfokuskan diri pada media seperti detik.com, kompas.com, dan juga okezone.com menunjukkan cepatnya respon media akan hadirnya internet. Pendapatan yang diperoleh oleh industri media ini di dapat dari iklan. Sebagai informasi belanja iklan perusahaan di Indonesia total mencapai 70 triliun rupiah setiap tahun. Akan tetapi internet hanya menikmati jatah sebesar 80 miliar. Ini tantangan sekaligus peluang bagi industri media online. Pemain media online indonesia harus berbagi pasar dengan pemain superbesar seperti Google, Yahoo, dan Microsoft. Data yang kami dapat dari Alexa.com menunjukkan bahwa media online lokal di Indonesia hanya mampu berada di posisi tertinggi 9 untuk situs yang memiliki trafik paling besar. Delapan peringkat teratas dikuasai oleh pemain asing seperti Google, Yahoo, Microsoft, Facebook, Friendster. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang selanjutnya bagi pemain di industri media online. Jual beli online baik retail atau wholesale juga akan menghiasi internet Indonesia ke depan. Walaupun model bisnis murni ecommerce belum ada di Indonesia, transaksi jual beli yang terjadi dari Internet potensinya sangat besar di Indonesia. Mereka yang melakukan jual beli melalui internet umumnya masih melakukan metode konvensional transfer bank. Hal ini disebabkan kurang mendukungnya lingkungan di Indonesia untuk penggunaan sistem ecommerce dimana transaksi langsung menggunakan uang elektronik (Paypal, kartu kredit). Tapi secara garis besar kami melihat tidak ada bedanya antara transaksi ecommerce dan transaksi yang bukan disebut ecommerce, yaitu keduanya memiliki muatan transaksi yang terjadi melalui internet. Besarnya potensi transaksi jual beli online ini juga kami lihat berdasarkan studi di pasar global, salah satunya di Amerika Serikat dan Eropa. Di Amerika dengan penetrasi pengguna internet yang paling besar, pertumbuhan transaksi jual beli melalui internet dengan jual beli konvensional terus meningkat. Prediksi dari lembaga sensus Amerika untuk tahun 2008 ini perbandingan transaksi jual beli melalui internet dengan konvensional mencapai 7% dengan besar transaksi $300milyar atau sekitar 3.600 triliun rupiah (3 kali PDB Indonesia). Di Eropa walaupun besar transaksinya tidak jauh dari Amerika pertumbuhan jual beli online tergolong cukup tinggi. Terakhir berdasarkan data dari emarketer.com, Eropa memiliki transaksi sebesar $255milyar atau sekitar 3000 triliun rupiah dengan pertumbuhan 28%. Indonesia, dengan jumlah penduduk tidak kalah jauh dari kedua benua itu memiliki potensi yang cukup besar pula untuk kearah sana. Saat ini memang belum ada riset yang bisa menghitung berapa besar transaksi jual beli melalui internet di Indonesia. Tapi beberapa pemain besar di bisnis jual beli melalui internet di Indonesia menunjukkan ketahanan dalam menjalankan bisnisnya, seperti bhineka.com, tanahabang.com, gramedia.com apalagi pendapatan mereka mencapai milyaran rupiah.

Google merupakan perusahaan internet paling maju saat ini. Walaupun sebagian besar pendapatannya didapatkan dari iklan, model bisnis yang dikembangkan sebenarnya berbasis layanan (Application Service). Selain google search, beberapa layanan lain yang dikembangkan oleh google adalah navigasi bumi lewat GoogleEarth, GoogleDocs, GoogleTrends, Email, dll. Layanan GoogleEarth banyak digunakan oleh ahli pertambangan dan juga ahli kebumian untuk memeriksa permukaan bumi secara langsung. Selain itu, pada bencana tsunami di Aceh lalu, Layanan googleEarth juga dimanfaatkan oleh salah satu LSM di Indonesia untuk memonitor keadaan pasca tsunami di Aceh. Pada akhir 2007 lalu Google dengan model bisnis layanannya berhasil membukukan pendapatan $3663 juta atau sekitar 45 triliun rupiah jauh di atas Yahoo yang hanya $1671 atau sekitar 18 triliun rupiah. Selain Google, penyedia jasa layanan aplikasi lainnya yang cukup ternama adalah Salesforce.com. Salesforce menyediakan layanan aplikasi ERP (Enterprise Resource Planning) melalui website. Perusahaan yang ingin menggunakan aplikasi ERP tidak perlu melakukan investasi besar-besaran dengan membuat server sendiri. Mereka cukup menggunakan jasa layanan dari Salesforce.com sehingga biaya mereka bisa ditekan. Model bisnis seperti ini juga sekarang menjadi tren seiring berkembanganya teknologi infrastruktur internet yang semakin murah. Dalam buku The Big Switch juga digambarkan bagaimana korporasi-korporasi besar mulai menggunakan jasa aplikasi layanan sejenis Salesforce karena mahalnya biasa instalasi dan perawatan server mereka. Walaupun di Indonesia belum ada model bisnis semacam ini, ke depan jika jaringan internet murah sudah menyebar di pelosok tanah air model bisnis seperti ini akan turut mewarnai pasar Indonesia.

Kehadiran internet memberikan nilai tambah yang sangat besar pada layanan publik pemerintah. Dengan memanfaatkan internet, pemerintah daerah bisa menghemat biaya yang cukup besar. Selain itu, kecepatan layanan kepada masyarakat juga meningkat dengan sangat drastis. Salah satu daerah di Indonesia yang sudah menerapkan ini adalah Jembrana, Bali. Pemerintah daerah Jembrana menyediakan layanan yang sudah terkomputerisasi segala yang berhubungan dengan informasi pemerintahan. Ini menjadikan internet menjadi tumpuan bagi layanan publik di Indonesia ke depan. Beberapa pemerintah daerah lain juga telah mengembangkan e-government yang memanfaatkan internet untuk meningkatkan layanan publik. Selain pemerintah, korporasi swasta juga memanfaatkan internet dalam segala bisnisnya. Industri yang paling diuntungkan oleh adanya internet adalah perbankan. Dengan adanya internet, mereka bisa menghadirkan layanan ATM dan juga internet banking. Layanan mereka meningkat selain juga penghematan biaya. Tidak hanya perbankan saja, perusahaan customer goods dan juga supermarket juga memanfaatkan internet untuk informasi logistik mereka. Mereka bisa menghemat biaya BBM untuk transportasi, karena tidak perlu melakukan pemesanan ke supplier/retailer.

Semakin meningkatnya bandwidth internet berkat kemajuan teknologi informasi juga memicu tumbuhnya industri hiburan (entertainment). Survei yang dilakukan oleh suatu lembaga di Amerika menunjukkan bahwa masyarakat Amerika lebih menyukai internet daripada televisi. Mereka lebih suka internet karena mereka bisa menyaksikan program-program televisi di Internet melalui IPTV, HDTV, dan juga Podcast. Internet telah memungkinkan konvergensi berbagai media konvensional. Raksasa software Microsoft juga telah melakukan investasi besar-besaran untuk mempersiapkan bisnis IPTV mereka. Di Indonesia, model bisnis seperti ini baru berkembang dengan hadirnya KabelTV dan juga TV Langganan. Cabang industri hiburan lain yang cukup besar nilainya adalah Game. Industri game merupakan industri yang lebih besar dari Industri Hollywood. Internet juga telah membawa genre game baru seperti MMORPG. Di Indonesia industri game online sangat berkembang pesat di seluruh pelosok tanah air.

Tantangan di Indonesia

Tantangan terbesar bagi tumbuh kembangnya internet di Indonesia sebenarnya ada di berbagai sisi. Dalam hal infrastruktur, Indonesia sangat jauh tertinggal dengan Negara lain. Pemerintah perlu mengeluarkan regulasi yang mendukung pemain di industri infrastruktur internet agar pertumbuhan infrastruktur jaringan internet menyebar di seluruh wilayah Indonesia. Di sisi konten juga Indonesia memiliki tantangan besar. Data Networked Readiness Index 2007-2008 yang menunjukkan Indonesia peringkat 9 untuk jumlah produk/layanan asing patut menjadi perhatian kita bersama. Selama ini keuntungan dalam industri internet di Indonesia dinikmati oleh pemain asing google, yahoo, friendster, facebook, dll.

Keamanan menjadi penting ketika seluruh kehidupan ekonomi terkait dengan internet. Kejahatan virtual secara personal bisa saja terjadi seperti pencurian kartu kredit, spam email, dll. Dalam dunia bisnis juga dikhawatirkan akan terjadi kekacauan jika saja ada pihak yang merusak sistem. Seperti digambarkan dalam film Die Hard 4.0. Bisa saja fenomena itu menjadi kenyataan ketika semua sistem sudah saling terkait melalui internet. Pemerintah dalam hal ini harus benar-benar serius menghadapi tantangan ini. Perlu dibentuk tim khusus yang menangani kejahatan virtual di Indonesia.