Mohon tunggu...
hafsah zalfa Rafifah
hafsah zalfa Rafifah Mohon Tunggu... Mahasiswa - mahasiswa ( 23107030096 ) ilmu komunikasi UIN Sunan Kalijaga

Di antara aku,kamu dan senja,kita menuliskan kenagan indah yang berlaku selamanya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Panggilan Darurat dari Gaza: Krisis Kematian Anak dan Seruan UNICEF untuk Menyelamatkan Generasi

4 Maret 2024   16:41 Diperbarui: 4 Maret 2024   16:44 87
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
 sumber gambar Pinterest putriayu

Pada tanggal 3 Maret 2024, kekhawatiran global semakin merayap ketika UNICEF, Badan PBB untuk anak-anak, secara serius memberikan peringatan terkait peningkatan drastis jumlah kematian anak-anak di Jalur Gaza, Palestina. Penyebab utama di balik tragedi ini adalah serangan yang terus menerus dan pengepungan yang diimplementasikan oleh Israel. Dalam konteks ini, peristiwa yang paling mengiris hati adalah laporan mengenai kematian sedikitnya 15 anak Palestina di Rumah Sakit Kamal Adwan di utara Jalur Gaza. Mereka meninggal akibat dehidrasi dan kekurangan gizi yang memprihatinkan.

Penting untuk mencermati bahwa kondisi ini berkembang sebagai dampak langsung dari blokade ketat yang diberlakukan oleh Israel di wilayah tersebut. Keadaan darurat kesehatan ini menunjukkan eskalasi serius dalam krisis kemanusiaan yang tengah berlangsung di Jalur Gaza. Blokade tersebut tidak hanya memberikan tekanan ekstrem pada sistem kesehatan, tetapi juga meningkatkan risiko kesehatan anak-anak yang tidak bersalah.

Keberlanjutan pengepungan ini menggambarkan situasi yang semakin rumit dan memprihatinkan. Kematian anak-anak Palestina yang terjadi di Rumah Sakit Kamal Adwan menjadi sorotan yang mengejutkan, memperlihatkan bahwa perlunya tindakan cepat dan tegas untuk meredakan penderitaan yang tak terhitung jumlahnya. Dampak kesehatan yang parah, seperti dehidrasi dan kekurangan gizi, merupakan akibat langsung dari ketidakmampuan penduduk setempat untuk mengakses bantuan medis dan kebutuhan dasar lainnya.

Adele Khodr, direktur regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, dengan nada keprihatinan menyatakan bahwa situasi ini bisa jadi hanya puncak gunung es. Ia mengungkapkan keprihatinan bahwa mungkin ada lebih banyak anak yang tengah berjuang untuk hidup di salah satu rumah sakit terakhir yang masih beroperasi di Gaza, dan yang lebih mengkhawatirkan lagi, mungkin ada anak-anak di bagian utara yang sama sekali tidak mendapatkan perawatan.

Dalam konteks ini, UNICEF tidak hanya memperingatkan tentang krisis kesehatan yang akut, tetapi juga menyoroti urgensi untuk mengakhiri pengepungan dan memastikan bahwa bantuan kemanusiaan dapat diantarkan secara efektif. Adele Khodr menegaskan bahwa keputusasaan yang dirasakan oleh orang tua dan dokter di wilayah tersebut tidak dapat diabaikan. Bantuan yang begitu dekat namun sulit dijangkau telah menciptakan suasana yang penuh dengan kepahitan dan penderitaan.


Seiring dengan itu, UNICEF melontarkan seruan kepada Israel untuk mengizinkan lembaga bantuan kemanusiaan membawa bantuan ke Gaza melalui semua lintas batas, termasuk ke utara Gaza. Tanpa solusi cepat dan efektif, ribuan nyawa anak-anak menjadi bergantung pada tindakan mendesak yang harus diambil untuk mengakhiri krisis ini.

Kematian tragis yang telah terjadi di Gaza dianggap oleh UNICEF sebagai hasil dari tindakan manusia yang dapat diprediksi dan dapat dihindari. Kurangnya pangan bergizi, air bersih, dan layanan medis di wilayah ini disoroti sebagai dampak langsung dari hambatan akses dan berbagai risiko yang dihadapi operasi kemanusiaan PBB. Situasi ini menyoroti perlunya langkah-langkah konkret untuk mengakhiri konflik dan memberikan perlindungan serta bantuan yang dibutuhkan oleh anak-anak yang menjadi korban tak bersalah di tengah-tengah kekacauan ini.

Dalam menghadapi dampak kemanusiaan yang semakin meluas ini, dunia internasional dihadapkan pada tanggung jawab moral untuk segera bertindak. Mencegah tragedi kemanusiaan yang semakin membesar di Gaza memerlukan upaya kolaboratif dan kebijakan yang mendukung pemulihan dan perlindungan hak asasi manusia. Pemerintah, organisasi internasional, dan masyarakat sipil harus bersatu untuk menghentikan pertumpahan darah ini dan membuka jalan menuju perdamaian dan kehidupan yang layak bagi anak-anak yang tidak bersalah.

Direktur regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Adele Khodr, mengungkapkan keprihatinan mendalam, menyatakan bahwa kemungkinan ada lebih banyak anak yang berjuang untuk hidup di rumah sakit terakhir yang masih beroperasi di Gaza. Bahkan, lebih banyak anak di bagian utara mungkin tidak dapat mendapatkan perawatan sama sekali. Data UNICEF mencatat bahwa hampir 16% dari anak-anak di bawah dua tahun di utara Gaza mengalami kekurangan gizi akut.

"Sekarang, kematian anak-anak yang kami khawatirkan sudah terjadi dan kemungkinan akan meningkat dengan cepat kecuali perang berakhir dan hambatan terhadap bantuan kemanusiaan segera diatasi," peringat Khodr.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun