Mohon tunggu...
Moderasi Info
Moderasi Info Mohon Tunggu... Mari bernalar liar memenjarakan fikiran adalah awal mula kemunduran peradaban

Mari bernalar liar memenjarakan fikiran adalah awal mula kemunduran peradaban

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Tuhan, Gempa, Sadar Sosial

17 Januari 2021   23:42 Diperbarui: 17 Januari 2021   23:57 350 3 0 Mohon Tunggu...

Beberapa hari yang lalu Sulawesi Barat khususnya di daerah Mamuju dan Majene, mengalami peristiwa yang kurang beruntung. Tepat pada tanggal 14 Januari 2021 siang hari terjadi gempa bumi yang terbilang keras mengguncang wilayah Majene dan Mamuju yang merupakan titik pusat gempa tersebut. Bukan hanya Majene dan Mamuju yang merasakan getaran atau guncangan tersebut melainkan sepanjang wilayah yang ada di Sulawesi Barat, masyarakatnya merasakan getaran walaupun intensitas guncangan yang berada pada titik pusat gempa jauh lebih keras dan terasa.

Menurut BMKG bahwasanya gempa ini merupakan gempa yang berada pada kedalam yang dangkal sehingga tidak heran ketika getarannya begitu terasa di beberapa titik atau daerah Sulawesi Barat bahkan di beberapa daerah Sulawesi Selatan ikut merasakan getaran tersebut.

Belum lama setelah gempa pertama terjadi, 12 jam kemudian kurang lebih jam 01.00 Wita gencungan kembali terjadi dititik yang tidak berjauhan pada titik sebelumnya. Guncangan ini jauh lebih keras dari guncangan yang diawal. Akibatnya banyak gedung – gedung, rumah – rumah, toko, hotel dan lain sebagainya runtuh di sebabkan guncangan dahsyat ini. Tidak sedikit dari mereka banyak yang menjadi korban tertimpa reruntuhan, ada yang selamat meinggalkan bekas luka yang cukup serius, ada pula yang meninggal dunia.

Di daerah Mamuju dan Majene, banyak yang kehilangan tempat tinggal. Jalan satu – satunya adalah mengungsi. Belum lagi gempa yang terus berulang hingga saat ini sudah sebanyak 32 kali. Di lain sisi, informasi yang beredar bahwa potensi tsunami bisa saja terjadi, semakin membuat warga setempat apalagi yang berada di daerah pesisir memilih untuk mengungsi atau menjauh dari pantai.

Kelaparan, kehausan, obat – obatan, kebutuhan bayi dan masih banyak kebutuhan primer lain yang mereka butuhkan di lokasi pengungsian. Olehnya gerakan – gerakan kemanusian, gerakan sosial sangatlah menjadi penunjang bagi keberlangsungan hidup mereka. Mereka sangat membutuhkan uluran tangan dari kita semua baik itu fisik, finansial maupun logistik.

Suatu bentuk kesyukuran sebab bantuan kepada mereka mulai tersalurkan oleh mereka yang sadar akan pentingnya saling membantu. Tetapi, ternyata masih ada beberapa titik atau wilayah pengungsian belum juga disentuh oleh para relawan yang mengantar bantuan tersebut. Entah apa yang menjadi kendala mengapa hal ini terjadi, apakah akses jalan yang menyulitkan para relawan untuk menembus kesana  atau memang belum di tarjamah oleh tim relawan?.

Olehnya sangatlah perlu untuk tim relawan melakukan observasi yang masif agar kedepannya bantuan dari para donatur dapat tersalurkan secara merata. Selain itu kembali mengingatkan bahwa aksi sosial harus terus di optimalkan, bagi saudara – saudara yang sejauh ini masih terlibat dalam gerakan – gerakan sosial, di mohon dengan sangat untuk menularkan kepada kerabat yang lain, mari mengajak sesama untuk menolong saudara – saudara kita yang mengalami nasib kurang beruntung ini.

Saya percaya Allah SWT tidak menurunkan bencana, sebagai penggenggam alam semesta Allah mengindahkan peristiwa ini agar hubungan erat antar sesama manusia ( Hablum minannas) dapat terjalin lebih maksimal lagi.

berikut puisi yang saya tulis semoga kita dapat memetik hikmah bahwa peristiwa ini bukan merupakan sebuah bencana atau malapetaka, ia terjadi tentunya memiliki sebab, boleh jadi Tuhan ingin mengembalikan jiwa kepekaan antar kita sesama manusia.

Menghadap

Mungkin peristiwa ini bukan bencana

Boleh jadi Pemilik semesta

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN