Zaki Mubarak
Zaki Mubarak Dosen

Saya adalah Pemerhati Pendidikan S1 Pendidikan Bahasa Inggris S2 Studi Islam S2 Pendidikan Bahasa Inggris S3 Pengembangan Kurikulum

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Sistem Penjaminan Mutu Internal, Bisakah Menjamin Mutu Dosen?

19 Mei 2017   09:54 Diperbarui: 19 Mei 2017   10:31 137 0 0
Sistem Penjaminan Mutu Internal, Bisakah Menjamin Mutu Dosen?
Sumber: mutupendidikan.com

Sumber: https://www.checkmarx.com
Sumber: https://www.checkmarx.com
Sistem Penjaminan Mutu Internal, Bisakah Menjamin Mutu Dosen?

Oleh: Zaki Mubarak

Tulisan ini adalah kelanjutan dari tulisan tentang peningkatan mutu guru. Dosen adalah guru di tingkat perguruan tinggi. Perbedaan guru dan dosen hanya terletak pada kepakaran sesorang terhadap disiplin ilmu yang diperoleh. Guru harus menguasai kompetensi tentang cara mengajar (pedagogical knowledge), menguasai ilmu pengetahuan tentang substansi ilmu yang diajarkan (professional competency), memiliki kesolehan sosial (social piety) dan memiliki kepribadian yang baik (good personality).

Berbeda dengan guru, dosen tidak dituntut oleh empat kriteria kompetensi di atas. Dosen dituntut untuk mengimplementasikan tridarma perguruan tinggi (PT). Tridarma PT memiliki tiga kegiatan utama untuk dosen yakni (a) pendidikan dan pengajaran, (b)penelitian dan (c) pengabdian kepada masyarakat. Guru sangat kuat (established) dalam ilmu pedagogis dan pengetahuan materi ajar, sehingga lulusan Lembaga Pendidikan dan Tenaga kependidikan (LPTK) sebuah lembaga yang menghasilkan guru dan staf kependidikan) memiliki otak dan memory yang dibagi dua bagian; 60% berisi substansi keilmuan, 40% pengetahuan pedagogis. Bagi dosen ini tidak berlaku.

Dosen tidak harus jebolan dari LPTK, mereka harus lahir dari ilmu yang linier dengan substansi disiplin ilmu yang diajarkannya. Linieritas dapat didefinisikan sebagai linieritas ilmu dimana program sarjana, magister dan doktornya. Bagi dosen-dosen Kemenristek Dikti, linieritas diinterpretasikan oleh keilmuan program studi sedangkan dikebanyakan kemenag, linier lebih dimaknai luas yaitu rumpun program studi. Menurut peraturan Menteri Pendidikan tahun 2012 bahwa liniertitas itu adalah kesamaan antara ijazah terakhir dengan mata kuliah yang diajarkan. Permen itu tidak melihat pendidikannya saja tapi dengan kepakarannya. Jadi linieritas bukan hanya dihitung dari pendidikan yang linier tetapi lebih kepada kepakaran seorang dosen yang diinterpretasikan dengan mengajar sebuah mata kuliah.

Jadi, otak dan memori dosen diisi 100% ilmu tentang disiplin ilmunya. Mereka fokus pada keilmuan yang dipelajari dari  mulai program sarjana, magister dan doktornya. Ilmu ini bisa tentang dari prodi yang sama, atau prodi yang satu rumpun. Bila ada kasus dosen yang tidak linier pendidikannya, maka dianjurkan untuk mengulangi proses belajarnya secara linier. Ini agak sedikit berat untuk generasi senior, karena kebanyakan kepakaran seorang dosen generasi lalu memiliki riwayat ketidak linieran studi. Mereka belajar secara zig-zag. Bisa jadi itulah alasan bahwa linieritas ala peraturan menteri adalah kesamaan ijazah terakhir dengan mata kuliah yang diampunya.

Dengan demikian, ini menunjukan bahwa dosen sangat mementingkan disiplin ilmu daripada pengetahuan pedagogisnya. Ini beda dengan guru yang 40%nya diisi dengan ilmu pendidikan. Alasannya bisa jadi bahwa pedagogis adalah ilmu seni mengajar anak kecil, dan itu berlaku di pra-sekolah, dasar dan menengah. Urusan PT, siswa sudah dianggap dewasa, bukan anak kecil lagi. Mereka lebih butuh andragogi, ketimbang pedagogi.

Masalah yang akan didiskusikan pada tulisan ini adalah apakah Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di PT dapat benar-benar menjamin mutu dosen?. Saya fokus kepada dosen, karena dosen merupakan faktor paling penting dalam implementasi mutu pada tingkat interaksi di kelas. Masih ada, paling tidak tujuh standar yang harus dibahas, namun dalam hal ini difokuskan untuk kualitas dosen yang dalam SPMI ada pada standar Sumber Daya Manusia (SDM). Jadi, untuk penjaminan mutu yang lain, saya akan bahas di lain waktu saja.

Di PT, banyak nama yang disandang untuk menunjukan bahwa lembaga penjaminan mutu hadir di PT. Di tingkat sekolah tinggi bernama Pusat Penjaminan Mutu (PPM), di institut atau universitas bernama Lembaga Penjaminan Mutu (LPM). Dalam perjalanannya, nama “Internal” belakangan disandingkan untuk menunjukan bahwa untuk menjamin mutu PT perlu ada pihak internal yang diwakili oleh lembaga atau pusat yang ada di dalam internal PT, sedangkan di eksternal bisa dilakukan pemerintah melalui BAN-PT dan atau melalui sertifikasi ISO 2008 khusus untuk standar perguruan tinggi berkelas “internasional”.

Dalam perkembangannya, PPM atau LPM yang saat ini saya sebut SPMI (walaupun agak berbeda secara filosifis) memiliki perjalanan yang terseok-seok. Banyak batu terjal yang menghambatnya, baik dari sistem manajemen yang dilaksanakan dalam PT itu sendiri atau SDM PT yang kurang paham tentang SPMI itu sendiri.

Secara konsep, SPMI memiliki kepentingan yang sangat luar biasa pentingnya dan fatal bagi keberlangsungan mutu PT. Bila nilai akreditasi itu adalah ruh dari prodi di PT, maka SPMI adalah motor yang harus jalan dan mutlak dilaksanakan oleh PT. Bila SPMI tidak berjalan, maka dapat diprediksi mutu PT bisa tidak bernilai tinggi dan seadanya.

Untuk urusan dosen, SPMI bekerja untuk merencanakan dan mengawasi pelaksanaan tridarma PT yang dilaksanakan oleh dosen. Idealnya, di awal tahun, SPMI dapat mengguide dosen dalam merencanakan tridarma PT, ditengah mendampingi pelaksanaan tridarma dan di akhir mengevaluasi tridarma PT yang telah dilaksanakan oleh dosen. Nah, saya akan mencoba mengurai konsep ideal SPMI dari hulu, tengah dan hilir yang harus bekerja untuk dosen. Tujuan akhirnya, adalah peningkatan mutu dosen PT.

(1) di hulu, SPMI harus bekerja untuk merencanakan dan mendampingi dosen dalam planning tridarma PT. Manual guidance yang bisa dihadirkan dalam perencanaan ini adalah menyusun indikator-indikator tridarma yang sangat operasional dan rasional bagi dosen. Bagi SPMI yang dicopy pastedari indikator SPMI lain, maka akan banyak ketidak rasionalan dan ketidak cocokan indikator dan kemampuan dosen yang akan melaksanakannya.

Faktanya, ideologi copy pasteadalah hal lumrah bagi SPMI. Idealisme indikator yang diusung oleh SPMI yang sangat baik belum bisa dibumikan untuk para dosen yang memiliki kompetensi tridarma yang beragam. Agak sedikit lebih baik apabila ideologi ini yang berlaku, namun, apabila ideologi SPMI itu sudah wujud kal adam, adam kal wujud,ada namun tidak ada, tidak ada namun ada, SPMI siluman, SPMI untuk hanya kepentingan sessat, maka model ideologi SPMI inilah yang berbahaya. Sepengetahuan saya, SPMI siluman ini tidak sedikit berkembang di PT di Indonesia, atau jangan-jangan lebih dari 50%.

(2) di tengah, SPMI harus bekerja untuk mendampingi implementasi tridarma PT bagi semua dosen. Bila SPMI bekerja sebagai pendamping maka tridarma PT akan powerfull. Dalam pendidikan dan pengajaran, maka lesson yang didesain dosen akan mampu menghasilakan sebuah produk yang beroutput hebat bagi  mahasiswa. Pembelajaran bisa sesuai dengan standar yang diterapkan SPMI. SPMI bukan hanya menyalahkan, memarahi atau memberi saran, tapi ia bekerja sebagai kolabprator dosen dalam pembelajaran. Setiap minggu, dosen bisa berangkat ke kantor SPMI untuk melakukan focus group discussion (FGD) untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran yang terjadi di kelas.

Untuk urusan penelitian dan pengabdian, bantuan SPMI mutlak dibutuhkan. Semakin dosen didamping dalam implementasi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat oleh SPMI yang berkualitas, maka akan semakin hebat pula hasil penelitian dan pengabdiannya. Semakin baik laporan penelitian dan pengabdiannya, maka akan semakin bermanfaat ilmunya dan akan semakin berkembang ilmunya. Kemungkinan besar kepakaran seorang dosen yang biasa kita sebut guru besar atau profesor akan banyak lahir dari pendampingan SPMI di PT. Hari ini saya meyakini, kekacauan dan krisis profesor di PT adalah karena SPMI yang tidak berjalan dengan baik.

(3) di hilir, SPMI harus mampu menjadi quality controlbagi produk tridarma dosen. SPMI akan menjadi penjamin produk tridarma dosen, sehingga semakin SDM SPMI hebat, maka produk tridarma dosen pun akan hebat. Dosen dengan segala kelemahannya akan terbantu, sangat terbantu, untuk meningkatkan kemampuan kegiatan tridarma PT. Mereka akan menjadi dosen yang bermutu bila SPMI dapat membantu menjadikannya sebagai dosen yang berstandar, dan tentu saja standar yang tinggi, cocok dan rasional.

Tulisan ini sebagai prolog untuk membahas SPMI bertempat di Uninus Bandung. Karena acara sudah mulai. Mari kita analisis SPMI secara lebih tajam di tulisan berikutnya.

Selamat Berdesiminasi Pak Dosen dan Bu Dosen. Kami tunggu analisamu.

Pascasarjana Uninus, Bandung 19/05/17