Mohon tunggu...
Mutiara Nur Rahman
Mutiara Nur Rahman Mohon Tunggu... Sharing is Caring

Bismillah

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

LGBT: Ingatlah Kasih Ibu dan Ayah

22 November 2020   18:05 Diperbarui: 22 November 2020   18:09 5 1 0 Mohon Tunggu...

Bismillahirrahmanirrahim

LGBT atau Lesbian Gay Biseksual dan Transgender adalah  sebuah pembelokan Fitrah seorang manusia yang lurus. Orientasi seksual manusia seharusnya ditumpahkan kepada lawan jenisnya. Allah menciptakan seluruh mahluk yang ada di semesta ini berpasang pasangan. Bahwa ada malam ada siang, ada benang sari ada putik, Ada laki laki dan perempuan. Fitrah manusia tersebut telah Allah tetapkan dengan fungsinya masing masing.

Allah telah memuliakan manusia sebagai bani Adam atau keturunan Adam. Dimana Di Surga pun Allah menciptakan pasangan Adam adalah Hawa yang merupakan perempuan. Identitas Laki laki dan perempuan ini kekal sampai ke akhirat. Di Surga nanti setiap orang berpasang pasangan dengan lawan jenisnya. Dimana seorang lelaki dipasangkan dengan istrinya, bidadari yang merupakan perempuan. Bahwa ketika identitas tersebut dirubah di dunia. Seperti laki laki ingin menjadi perempuan maka kelak di Surga ingin menjadi apa dan berpasangan dengan siapa. Jikalau di dunia ditakdirkan dengan identitas seseorang lelaki, maka tetap dia laki laki tidak bisa memilih di surga kelak berganti menjadi perempuan atau bidadari.

Alasan yang mengemuka adalah cinta yang buta, maka apakah cintamu kepada dia adalah cinta yang sejati. Ataukah cinta dia padamu yang sejati. Sesungguhnya tidak, Sejatinya cinta adalah cinta Allah kepada kita seluruh makhluk ciptaanNya. Cinta yang sempurna, murni tak bersyarat. Dia Allah yang Maha Pengasih dengan kasih sayangnya terus menerus mengurus kita. Dia Allah yang memiliki kita, menciptakan dan memberikan rezeki pada kita yang tak putus putusnya semenjak di alam kandungan. CintaNya melebihi cinta seorang Ibu pada bayiNya. CintaNya lah cinta sejati, Dia Allah yang tak pernah pamrih 

Bahwa pengalaman hidup tiap orang adalah berbeda beda, penuh lika liku dan batuan terjal. Terkadang di masa kecilnya seseorang tidak mendapat perlakuan sesuai kodratnya. Anak lelaki dengan mainan  lelakinya dan aktivitas maskulin. Serta perempuan dengan mainan perempuannya dan aktivitas feminine. Atau pengalaman hidup dikecewakan dengan lawan jenis seperti kecewa dengan ayah atau ibu atau saudara atau mungkin kekasih.  Bisa jadi juga mungkin pengaruh negative lingkungan dan media yang memaklumi LGBT. Banyak orang yang tanpa sadar terpengaruh terutama jika nilai dan pesan penyimpangan tersebut masuk sedari kecil.

Hidayah Allah adalah rahmat kasih sayangnya, bisa dari siapa saja dan peristiwa apa saja. Tinggal kita mau atau tidak membukakan pintu hati. Sehingga cahaya hidayah-Nya bisa masuk. Suatu kisah ketika saat di Rumah sakit ada seorang Ibu merawat anaknya yang remaja yang juga merupakan LGBT. Di saat dirawat di kamar kelas I sebuah Rumah Sakit Swasta, dia menelpon pasangannya sesama LGBT. Fisiknya laki-laki, tapi suaranya saat menghubungi temannya berubah menjadi perempuan. Ibunya datang membawa makanan berupa nasi tim daging yang dibelinya jauh dari Rumah Sakit dengan menaiki becak.  Dengan sabar beliau merawat anaknya yang terkena Dbd. Guratan kesedihan tampak padanya, lelah sebab tak tidur menjaga buah hatinya.  Dengan nada lirih dan berderai air mata Sang Ibu mengelus dada dan berkata : "Hampir mati Ibu melahirkan kamu Nak, kenapa kamu laki laki suka kepada laki laki. Sesak dada Ibu Nak. Ini adalah kali ke sekian Ibu merawatmu Nak sebelumnya juga kamu hampir mati karena terkena penyakit cacar ular, dan Ibu merawatmu Nak. Tapi kenapa kamu laki laki suka sama laki laki Nak itu dosa Nak nanti Tuhan marah Nak". 

Tak terbayang betapa sedihnya hati Ibu itu, bayi kecilnya yang dia lahirkan dengan sakit yang amat sangat.  Dengan pisau bedah membelah tertumpah darah, berjibaku dengan takdir antara hidup dan kematian. Masa hamilnya yang susah dan penuh kepayahan. Air susunya yang mengalir di darahnya yang menyambung hidupnya. Bayi mungil yang jadi permata hati dan harapan kebanggaan ibu dan ayahnya itu hanya dapat lahir tercipta, dari buah cinta Ibu dengan kelembutannya, dan Ayah dengan tanggung jawabnya.

Goresan Pena Taubat

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x