Mohon tunggu...
Zahranissa HasyaAsmihusna
Zahranissa HasyaAsmihusna Mohon Tunggu... Mahasiswa - mahasiswa universitas pendidikan indonesia

essai tentang abad 21

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Standar Nasional Pendidikan di Indonesia Abad 21: Model Pembelajaran dan Pendidikan Karakter

16 Maret 2022   21:26 Diperbarui: 16 Maret 2022   21:27 371 1 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DI INDONESIA ABAD KE 21 : MODEL PEMBELAJARAN DAN PENDIDIKAN KARAKTER

Kemajuan informasi pada akhirnya mempengaruhi semangat dan kepribadian masyarakat. Di era informasi, hanya orang-orang yang berorientasi masa depan yang telah mengubah pengetahuan menjadi politik dan memiliki karakteristik masyarakat modern yang disebutkan di atas. Dalam keadaan demikian, keberadaan masyarakat di suatu negara menjadi satu dengan negara lain, secara sosial, budaya dan ekonomi. Ini adalah gambaran masa depan yang akan terjadi, dan umat manusia harus menghadapinya. Masa depan akan mempengaruhi dunia pendidikan, baik dalam dunia materi kelembagaan, pendidikan guru, metode, infrastruktur dan lainnya. Ini pada hakekatnya merupakan tantangan yang perlu dijawab oleh komunitas pendidikan. Seperti yang Anda ketahui, ICT (Information and Communication Technology) memiliki dampak yang sangat besar bagi kehidupan mahasiswa. Teknologi adalah sesuatu yang siswa ingin pelajari, dan kami selalu secara sadar dan tidak sadar membawa mereka ke dunia ini. Mereka menggunakan internet, handphone dan chatting seperti aktivitas makan sehari-hari Hari. Ini berarti bahwa siswa kami sangat cerdas secara teknis. Namun, hal ini tidak sejalan dengan keberadaan guru. Lagi pula, ada celah dan pengetahuan yang diberikan guru tampak tertinggal jaman dan negatif.

Pendidikan adalah kebutuhan semua orang di dunia. Abad 21 dicirikan sebagai abad keterbukaan atau abad globalisasi. Dengan kata lain, kehidupan manusia di abad 21 telah mengalami perubahan mendasar yang berbeda dengan gaya hidup abad terakhir. Abad ke-21 ditandai dengan perkembangan pesat teknologi informasi dan otomatisasi, dengan banyak kegiatan rutin dan berulang yang digantikan oleh mesin produksi dan komputer. Salah satu ciri abad 21 adalah dunia ilmu pengetahuan yang semakin saling terhubung, di mana sinergi di antara keduanya semakin cepat. Gagasan abad 21 menekankan bahwa siswa perlu berpikir lebih kritis, mengintegrasikan semua pengetahuan ke dalam kehidupan nyata, memahami teknologi dan informasi, serta mahir dalam komunikasi dan kolaborasi.

Model pembelajaran project-based learning atau pembelajaran berbasis proyek ini merupakan model pembelajaran yang menekakan pada teori pembelajaran kontruktivistik. Hal Dalam model pembelajaran ini anak didik ebih ditekankan pada kegiatan desain seperti merancang, merumuskan pekerjaan, mengalkulasi, melaksanakan pembelajaran dan mengevaluasi hasil. Slain itu tentunya pada setiap model pembelajaran mempunyai karakteristik tersendiri, menurut Buck Institute for Education mendefinisikan (2014) pada model ini karakteristik yang dimilikinya seperti membuat keputusan dan kerangka kerja bagi siswa, menemukan permasalahan yang belum diketahui solusinya, merancang proses untuk mencapai hasil, bertanggung jawab untuk mendapatkan dan mengelola informasi, melakukan evaluasi, melihat ulang pekerjaan, mengevaluasi dan mentolelir kesalahan dan mengubahnya. Dalam project-based learning ini juga siswa bekerja baik secara individu maupun kelompok agar dapat berkolaborasi untuk mengembangkan proses pemahaman. Adapun untuk guru sendiri disini tidak aktif melatih secara langsung, namun guru disini hanya mendampingi dan memahami pemikiran siswa.

Model inquiry-based learning merupakan proses pembelajaran yang dibangun atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan siswa. Dalam model ini menekankan agar siswa dapat memecahkan masalah. Disini guru bertugas untuk membantu siswa dalam menjalani proses menemui pengetahuan baru. Untuk karakteristik pada model ini dengan mengorganisasikan pengajaran seputar penemuan dan pemecahan masalah yang penting secara sosial dan bermakna bagi setiap individu dan juga model ini dengan karakteristik yang dapat menemukan dan memecahkan masalah dengan rasa percaya diri. Adapun prinsip dalam model inquiry-based learning ini mengacu pada aspek perkembangan siswa, mengembangkan kemampuan berpikir, bertanya berrinteraksi, dan mmencoba segala kemungkinan yang ada dengan memanfaatkan beragam cara.

            Pendidikan karakter dapat diartikan sebagi suatu usaha kita secara sengaja dari seluruh dimensi kehidupan sekolah atau madrasah untuk membantu pembentukan karakter secara optimal. Dalam melaksanakan pendidikan yang berkarakter tentu saja dibutuhkan suatu cara atau metode tertentu untuk mewujudkan tujuan pendidikan.

Adapun model pembelajaran pendidikan abad ke 21 ini ada dua yaitu Model pembelajaran penanaman nilai dan Analisis nilai dan juga project citizen. Tujuan pendidikan karakter bagi individu yaitu Mengetahui berbagai karakter bagi manusia, dapat mengartikan dan menjelaskan berbagai karakter, menunjukan contoh perilaku baik dalam kehidupan sehari -- hari dan memahami sisi baik menjalankan perilaku berkarakter.

Selain itu ada pula model model pembelajaran pendidikan karakter menurut sukadi (2011) ada beberapa model pembelajaranpendidikan karakter pada abad 21 yang berbasis pada pendidikan dan nilai dan moral

  • Model pembelajaran penanaman nilai, bahwa peserta didik perlu menerima nilai -- nilai yang dianggap luhur oleh masyarakat, baik yang berupa nilailama yang masing dianggap luhur maupun nilai modern yang telah diterima oleh dominan dalam masyarakat.
  • Model pembelajaran berbasis perkembangan penalaran moral, perkembangan penlaran moran itu berkembang dan tingkat heteronom menuju pengambilan keputusan moral yang bersifat otonom.
  • Model pembelajaran analisis nilai, menekankan pada kemampuan peserta didik untuk melakukan analisis nilai -- nilai secara rasional dan logis pada masalah sosial yang mengandung muatan nilai -- nilai moral.
  • Model pembelajaran project citizen, membantu peserta didik mengembangkan kompetensi menjadi warga negara yang baik dalam arti demokratis dan partisipatif.

Ilmu pengetahuan kian hari semakin berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan informasi. Keberadaan guru berkompeten dan profesional adalah salah satu persyaratan yang wajib dipenuhi guna meningkatkan kualitas pendidikan agar dapat bersaing dengan negara-negara maju lainnya. Menurut Kartilawati dan Mawaddatan Warohmah(2014:144), dalam pelaksanaan tugasnya, guru dituntut untuk memiliki kemampuan atau keterampilan yang beraneka ragam serta didasari bahwa kemampuan dan keterampilan sebagai kebutuhan dari sebuah profesi guru. Kemudian, guru harus dapat menyesuaikan dengan keadaan ini kalau tidak akan ketinggalan dan usang dimakan zaman. Kunci utama maju pesatnya pendidikan adalah kemampuan guru dalam mengolah dan menginovasi setiap proses pembelajaran yang diajarkannya. Guru diharapkan terus berupaya untuk mengoreksi dan memperbaharui keterampilannya di setiap waktu. Sejalan dengan pernyataan Wartomo (2016:266), kompetensi guru harus diorientasikan terhadap perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan masyarakat digital dewasa ini

Untuk mengembangkan pembelajaran abad 21, sebagai pendidik harus memulai satu langkah perubahan yaitu merubah pola pembelajaran tradisional yang berpusat pada guru menjadi pola pembelajaran yang berpusat pada siswa. Pola pembelajaran yang tradisional bisa dipahami sebagai pola pembelajaran dimana guru banyak memberikan ceramah sedangkan siswa lebih banyak mendengar, mencatat dan menghafal. Pendidik sudah sering mendengar mengenai pola pembelajaran CBSA (Cara Belajar Siwa Aktif), namun pendekatan yang dilakukan masih bersifat tradisional. Untuk mengerti pola pembelajaran yang berpusat pada siswa maka kita bisa kembali kepada slogan pendidikan kita yang tercantum dalam logo kementerian pendidikan dan kebudayaan dan merupakan pesan dari Bapak Pendidikan Bangsa, Ki Hajar Dewantara, yaitu Tut Wuri Handayani. Guru berperan sebagai pendorong dan fasilitator agar siswa bisa sukses dalam kehidupan. Satu hal lain yang penting yaitu guru akan menjadi contoh pembelajar, guru harus mengikuti perkembangan ilmu terakhir sehingga sebetulnya dalam seluruh proses pembelajaran ini guru dan siswa akan belajar bersama namun guru mempunyai tugas untuk mengarahkan dan mengelola kelas.

Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan, pendidikan abad ke 21 ini lebih didominasi dengan pengkolaborasian antara teknologi yang berkembang dengan proses pembelajaran baik terlibat secara langsung maupun tidak langsung terhadap proses belajar. Adapun model pembelajaran pendidikan abad ke 21 ini ada dua yaitu Model pembelajaran penanaman nilai dan Analisis nilai dan juga project citizen. Pendidikan karkter harus didukung dengan guru yang berkompeten dan profesional yang merupakan salah satu persyaratan yang wajib dipenuhi guna meningkatkan kualitas pendidikan agar dapat bersaing dengan negara-negara maju lainnya. Dengan banyaknya daya saing pendidikan abad 21, yang diutamakan pada teori pembelajaran kontruktivistik yaitu mengutamaka strategi belajar kolaboratif, mengutamakan aktivitas siswa daripada pengajarnya mengenai kegiatan laboratorium, pengalaman lapangan, pemecahan masalah, diskusi dan stimulasi. Selain hal utama, terdapat juga strategi pembelajaran uang merubah pola pembelajaran tradisional berpusat pada guru menjadi pola pembelajaran yang berpusat pada siswa, supaya anak mampu lebih mengembangkan kreativitas-nya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan