Yusril Ihza Mahendra
Yusril Ihza Mahendra profesional

Lawyer, Professor of Constitutional Law, Former Minister of Justice, Former Minister/Secretary of State, Republic of Indonesia.

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

Pemihakan Saya Hanya kepada Bangsa dan Negara

13 Juli 2014   21:46 Diperbarui: 18 Juni 2015   06:26 5421 51 54
Pemihakan Saya Hanya kepada Bangsa dan Negara
1405245857149503685




[caption id="attachment_347552" align="aligncenter" width="620" caption="Yusril Ihza Mahendra/Kompasiana ((KOMPAS/Lucky Pransiska)"][/caption]

Kemarin, Sabtu (12/07/2014), Saudara Mawalu menulis artikel di laman Kompasiana.com tentang sikap saya terhadap Pilpres, dengan judul yang provokatif, "OMG! Diam-diam Ternyata Jokowi Minta Tolong Yusril Jadi Pengacaranya Gugat Hasil Pilpres 2014 di MK, Tapi ditolak Yusril Mentah-mentah". [http://komp.as/A4kpo].

Beberapa materi yang diungkapkan dalam artikel itu, merupakan opini Mawalu sendiri yang mendasarkan atas beberapa tuits yang saya publikasi pada akun twitter saya,https://twitter.com/Yusrilihza_Mhd, dan mengganggu bahkan cenderung untuk disalahpahami oleh pembaca. Untuk meluruskan beberapa poin dalam artikel yang cenderung bias itu, berikut saya tampilkan utuh pendapat yang saya tulis pada Rabu (09/Juli/2014) malam itu. Mudah-mudahan menjadi informasi yang utuh.

Sampai malam ini dan Insya Allah seterusnya, saya tetap mempertahankan sikap netral saya dalam Pilpres 2014 ini. Malam ini tvone mengundang saya, katanya ada acara dialog menghadirkan saya dan Mahfud MD. Saya diposisikan sebagai pengamat dalam acara ini.

Saya sudah datang ke gedung Bidakara, tapi saya minta maaf kepada crew tvone, saya tidak bisa ikut dalam acara tersebut. Saya katakan, kehadiran saya dalam acara Presiden Pilihan Rakyat di tvone, bisa menimbulkan anggapan saya memihak kubu Prabowo. Saya ingin tetap netral, tidak mendukung apalagi memihak kepada salah satu pasangan, tidak Prabowo-Hatta, tidak juga Jokowi-JK.

Saya tidak punya kepentingan siapa diantara pasangan ini yang terpilih maupun yang kalah. Saya pegang teguh sikap netral saya. Pemihakan saya hanya kepada bangsa dan negara, bukan kepada orang, termasuk siapapun yang nanti jadi Presiden dan Wakil Presiden.

Dari zaman Presiden Suharto sikap saya selalu seperti itu dan sampai sekarang tidak berubah. Saya rela diberhentikan dari suatu jabatan, karena saya berbeda pendapat dengan Presiden, apalagi jika saya anggap Presiden melanggar UUD 1945.

Kepada kubu Jokowi yang malam ini juga menelpon saya meminta membela mereka, saya katakan sikap saya netral. Saya katakan, saya akan menghadiri festival film internasional di Madrid, Spanyol, mulai pertengahan Juli sampai awal Agustus. Karena itu, saya tidak mungkin akan menangani perkara perselisihan hasil Pemilu Presiden dan Wakil Presiden di MK. Kepergian saya ke Eropa juga merupakan bagian sikap netral saya untuk tidak memihak salah satu pasangan capres jika mereka bersengketa di MK.

Saya baru akan turun tangan, bila akibat pilpres ini keadaan bangsa dan negara menjadi genting dan situasi keselamatan negara terancam. Kalau itu yang terjadi, saya akan menunda kegiatan apapun dan fokus tangani keadaan bangsa dan negara seperti saya lakukan di tahun 1998. Tapi kalau hanya kepentingan politik antara Prabowo-Hatta dengan Jokowi-JK serta para pendukungnya, saya memilih netral dan tidak memihak.

Demikian pendirian saya. Bagi yang mau kutip dan sebarkan, silahkan. Terima kasih. Salam hormat.