Mohon tunggu...
Yupiter Gulo
Yupiter Gulo Mohon Tunggu... Belajar, Mengajar dan Menulis mengantar Pikiran dan Hati selalu Baru dan Segar

|Belajar, Mengajar dan Menulis mengantar Pikiran dan Hati selalu Baru dan Segar|

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Memiliki Budaya Risiko yang Lemah akan Berujung Maut

25 Februari 2020   00:51 Diperbarui: 25 Februari 2020   01:51 1598 69 166 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Memiliki Budaya Risiko yang Lemah akan Berujung Maut
https://regional.kompas.com/read/2020/02/24/05100011/sempat-diperingatkan-warga-tak-susur-sungai-pembina-jawab-kalau-mati-di?page=all

Sempat diperingatkan warga tak susur sungai, Pembina Jawab "Kalau Mati di Tangan Tuhan"- Kompas.com

Kutipan diatas merupakan  salah satu judul berita kompas.com tentang rangkaian kisah tragis kecelakaan pada acara susur Sungai Sempor  yang diikuti oleh ratusan siswa di SMPN 1 Turi Sleman, dan merenggut nyawa meninggal dunia sebanyak 10 orang siswa disamping sekitar 23 orang yang mengalami luka-luka.

Sungguh tragis karena sepertinya yang bertanggungjawab terhadap acara yang sangat berbahaya ini, malah menggampangkan dan mengabaikan risiko yang akan terjadi, dan memang benar-benar terjadi, dengan ungkapan salah seorang pembina pramuka itu dengan berkata bahwa "kalau mati di tangan Tuhan". Ungkapan ini direkam dan diungkapkan oleh salah seorang siswa yang selamat bernama Tita, dan bahkan  sempat berjuang untuk menyelamatkan dua orang adek-adek kelasnya, namun tidak kuat menahan deras arus air yang dikabarkan mendadak menerjang para siswa SMP ini.

"Sama warga sudah diingetin. Saya mendengar ada warga yang memperingatkan," kata Tita, seperti dilansir Kompas TV. Namun, lanjut Tita, peringatan tersebut disambut kata-kata tak enak dari pembinanya. "Katanya, 'Enggak apa-apa, kalau mati di tangan Tuhan', kata kakak pembinanya," ujar Tita yang mengaku mendengar langsung jawaban pembinanya tersebut.

Kejadian  kecelakaan yang dialami oleh para siswa SMPN 1 Turi Sleman ini, tentu saja bukan yang pertama. Ada banyak kejadian kecelakaan yang memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Sebutkan saja sejumlah kecelakaan lalu lintas di jalan raya, begitu banyak korban berjatuhan. Seperti kecelakaan beruntun di km 97 ke arah Bandung pada pertengahan tahun 2019 yang lalu, yang melibatkan puluhan kendaraan dan sejumlah korban jiwa seketika di tempat.

Kejadian risiko tentang kecelakaan yang merenggut nyawa manusia, sesungguhnya bisa diperhitungkan sebelumnya agar tidak memakan korban jiwa. Kalaupun ada korban, dapat di minimalkan jumlah korban. Tentu saja sangat disayangkan sikap pembina pramuka yang tidak mengindahkan peringatan warga masyarakat tentang risiko yang akan dihadapi oleh peserta susur sungai tersebut. Dan dengan sesumbar malah "menantang Tuhan dengan keputusan konyol melakukan susur sungai tanpa pengamanan yang memadai".

Inilah sesungguhnya masalah mendasar dan akut yang dihadapi oleh Indonesia saat ini. Yaitu rendahnya kesadaran tentang risiko yang akan dihadapi dalam melakukan banyak hal.  Harus diakui, bahwa budaya risiko di negeri ini sangat rendah, bahkan sangat miskin, sehingga setiap terjadi bencana dan kecelakaan, selalu berujung dengan maut, kematian yang sering jumlahnya tidak sedikit.

Pentingnya Budaya Risiko

Sikap terhadap risiko, kemampuan mengelola risiko menjadi salah satu ukuran kemajuan negara, sekelompok masyarakat, bahkan para profesional dalam bidang masing-masing. 

Artinya semakin maju suatu negara maka semakin tinggi kesadaran terhadap risiko, bahkan memiliki budaya risiko yang kuat. Dan sebaliknya negara-negara yang belum maju dan terbelakang, memiliki budaya risiko yang rendah bahkan mengabaikan risiko dalam setiap kegiatan yang dilakukan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN